Dosen Pengampu : Suciati Munaifah, S.E., M.M

Disusun Oleh :
Nida Nurhasanah 211011200778
Novika Enggar N. C. 211011200381
Rahmawati Agustin 211011200133
Saepullah 211011200356
Selvi Sesariani 211011201101
Sisca Widya P. 211011201333
Wigia Pritami 211011201127
UNIVERSITAS PAMULANG
FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMI
PRODI AKUNTANSI S1 TAHUN 2022/2023
Abstrak
Kelompok adalah entitas yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan memiliki hubungan sosial yang terorganisir. Setiap kelompok memiliki dinamika dan karakteristik unik yang memengaruhi cara anggotanya berinteraksi, mengambil keputusan, dan mencapai tujuan mereka. Memahami karakteristik penting untuk mengenal dinamika perilaku kelompok secara lebih komprehensif. Anggota kelompok diharuskan untuk memahami dan mematuhi norma kelompok yang telah ditetapkan. Pada tahap ini, hubungan antaranggota menjadi lebih harmonis, dan kelompok mampu bekerja secara lebih efektif.
Tujuan dibuatnya karya ilmiah ini adalah untuk lebih memahai dasar-dasar perilaku kelompok dengan mekanisme dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam kelompok, individu dapat saling mempengaruhi dan terlibat dalam proses sosial yang kompleks, seperti pengambilan keputusan kelompok, konflik, dan kerjasama. Oleh karena itu, memahami dasar-dasar perilaku kelompok menjadi penting untuk memahami dinamika interaksi manusia dalam berbagai konteks kehidupan.
Hasilnya, pengambilan keputusan kelompok adalah proses yang melibatkan kontribusi dan partisipasi anggota kelompok dalam mencapai kesepakatan. Namun, perlu diperhatikan pula kelemahan seperti waktu yang lebih lama, risiko dominasi individu, konflik, dan kemungkinan terjadinya “groupthink”. Memahami kelebihan dan kelemahan ini membantu kelompok dalam mengoptimalkan proses pengambilan keputusan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan Artikel Ilmiah tentang Dasar Dari Perilaku Kelompok ini tepat waktu tanpa ada halangan yang berarti dan sesuai dengan harapan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Suciati Muanifah, S.E.,M.M sebagai dosen pengampu mata kuliah Perilaku Organiasasional yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan artikel ilmiah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan tugas ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Hormat Kami,
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perilaku kelompok merupakan suatu aspek yang fundamental dalam kehidupan sosial manusia. Dalam interaksi sehari-hari, kita sering berada dalam konteks kelompok, baik itu dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun komunitas sosial. Kelompok dapat terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, saling memengaruhi, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama. Melalui karya ilmiah ini, kami bertujuan untuk menggali dasar-dasar perilaku kelompok dengan tujuan memahami mekanisme dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Perilaku kelompok memiliki karakteristik yang membedakannya dari perilaku individu. Saat berada dalam kelompok, individu cenderung berperilaku berdasarkan norma dan aturan yang berlaku dalam kelompok tersebut. Dalam kelompok, individu dapat saling mempengaruhi dan terlibat dalam proses sosial yang kompleks, seperti pengambilan keputusan kelompok, konflik, dan kerjasama. Oleh karena itu, memahami dasar-dasar perilaku kelompok menjadi penting untuk memahami dinamika interaksi manusia dalam berbagai konteks kehidupan.
Dalam penelitian tentang perilaku kelompok, berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku kelompok. Teori identitas sosial, misalnya, menjelaskan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dalam konteks kelompok dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi perilaku mereka. Teori ketergantungan sumber daya menjelaskan bahwa kelompok menjadi penting karena anggota kelompok saling bergantung satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama. Selain itu, teori proses kelompok membahas interaksi antara anggota kelompok, termasuk komunikasi, konformitas, dan peran kepemimpinan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi dan Klasifikasi Kelompok
Kelompok adalah entitas yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan memiliki hubungan sosial yang terorganisir. Kelompok dapat terbentuk secara formal, seperti organisasi, perusahaan, atau lembaga, atau dapat terbentuk secara informal, seperti keluarga, teman-teman, atau komunitas tertentu.
Kelompok sering kali memiliki tujuan bersama, nilai-nilai yang dibagikan dan norma-norma yang mengatur perilaku anggotanya.
Klasifikasi kelompok dapat dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, seperti tujuan, struktur, dan karakteristik anggotanya. Berikut adalah beberapa klasifikasi umum yang digunakan untuk memahami kelompok :
1. Kelompok Berdasarkan Tujuan :
a. KelompokKerja: Kelompok yang terbentuk di dalam lingkungan kerja dengan tujuan mencapai hasil atau menyelesaikan tugas tertentu. Contohnya adalah tim proyek di dalam perusahaan.
b. Kelompok Pembelajaran : Kelompok yang berkumpul untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan. Contohnya adalah kelompok studi di sekolah atau kelompok diskusi di komunitas.
2. KelompokBerdasarkanStruktur :
a. Kelompok Formal: Kelompok yang memiliki struktur yang jelas, aturan, dan hierarki yang ditetapkan. Contohnya adalah departemen di perusahaan dengan manajer dan bawahan.
b. Kelompok Informal: Kelompok yang terbentuk secara spontan dan tidak memiliki struktur formal. Contohnya adalah kelompok teman sekelas di sekolah.
3. Kelompok Berdasarkan Karakteristik Anggota :
a. Kelompok Primer: Kelompok yang terbentuk berdasarkan hubungan sosial yang intim dan langsung, seperti keluarga atau teman dekat.
b. Kelompok Sekunder: Kelompok yang memiliki hubungan sosial yang kurang intim dan tidak langsung, seperti rekan kerja atau anggota klub olahraga.
4. Kelompok Berdasarkan Ukuran :
a. Kelompok Kecil: Kelompok yang terdiri dari beberapa anggota, biasanya kurang dari 10 orang. Contohnya adalah kelompok diskusi di dalam kelas.
b. Kelompok Besar: Kelompok yang memiliki banyak anggota, melebihi 10 orang. Contohnya adalah pertemuan umum dalam organisasi besar.
Klasifikasi kelompok ini membantu kita memahami berbagai jenis kelompok yang ada dalam masyarakat. Setiap kelompok memiliki dinamika dan karakteristik unik yang memengaruhi cara anggotanya berinteraksi, mengambil keputusan, dan mencapai tujuan mereka. Memahami klasifikasi ini dapat membantu dalam memahami pola perilaku kelompok dan membangun hubungan yang lebih efektif di dalamnya.
2.2. Karakteristik Identitas Sosial Seseorang
Identitas sosial seseorang melibatkan sejumlah karakteristik yang mempengaruhi cara individu memandang diri mereka sendiri dan berinteraksi dengan kelompok lainnya. Dalam konteks identitas sosial, terdapat empat karakteristik utama yang perlu dipahami: kesamaan, keunikan, status, dan penurunan yang tidak pasti.
a. Kesamaan
Kesamaan adalah karakteristik yang mendasar dalam identitas sosial seseorang. Individu cenderung mencari kesamaan dengan anggota kelompoknya dalam hal nilai, kepercayaan, dan atribut yang mereka anggap penting. Kesamaan ini memberikan rasa afiliasi dan kebersamaan, serta menumbuhkan perasaan keterikatan dan kebanggaan terhadap kelompok. Misalnya, dalam sebuah kelompok dengan identitas etnis yang sama, individu akan mencari persamaan budaya dan tradisi untuk merasa lebih terhubung dengan anggota kelompok lainnya.
b. Keunikan
Keunikan juga merupakan karakteristik penting dalam identitas sosial. Meskipun individu mencari kesamaan, mereka juga ingin mempertahankan rasa keunikan dan perbedaan sebagai individu. Keunikan ini dapat mencakup aspek pribadi, minat, atau kemampuan khusus yang membedakan mereka dari anggota kelompok lainnya. Individu cenderung mencari cara untuk mempertahankan identitas unik mereka sambil tetap merasa terikat dengan kelompok yang mereka identifikasi.
c. Status
Status merupakan karakteristik identitas sosial yang berkaitan dengan posisi individu dalam hierarki sosial dan kelompok. Status dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti status ekonomi, pendidikan, atau kekuasaan. Status sosial dapat mempengaruhi perilaku dan interaksi individu dalam kelompok. Misalnya, individu dengan status yang lebih tinggi dalam kelompok dapat memiliki pengaruh yang lebih besar dan memegang peran kepemimpinan. Sementara individu dengan status yang lebih rendah mungkin cenderung mengikuti arahan dan norma kelompok.
d. Penurunan yang tidak pasti
Penurunan yang tidak pasti adalah karakteristik yang terkait dengan ketidakpastian individu tentang bagaimana kelompok tersebut memandang diri mereka. Individu sering kali merasa tidak yakin atau tidak yakin tentang bagaimana mereka diakui atau diterima oleh anggota kelompok. Penurunan yang tidak pasti dapat muncul dalam situasi di mana individu baru saja bergabung dengan kelompok atau merasakan perubahan dalam identitas sosial mereka. Penurunan yang tidak pasti dapat mempengaruhi perilaku individu, seperti kehati-hatian dalam berinteraksi atau mencari persetujuan dan validasi dari anggota kelompok.
Dalam keseluruhan, karakteristik identitas sosial seseorang, yaitu kesamaan, keunikan, status, dan penurunan yang tidak pasti, saling berinteraksi dan mempengaruhi perilaku dan interaksi individu dalam kelompok. Memahami karakteristik ini penting untuk memahami dinamika perilaku kelompok secara lebih komprehensif. Selanjutnya, melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas sosial, kita dapat memahami bagaimana identitas individu dan identitas kelompok saling berhubungan dan memengaruhi perilaku kelompok dalam berbagai konteks kehidupan.
2.3. Tahap-tahap dalam Pengembangan Kelompok
Dalam pengembangan kelompok, terdapat serangkaian tahap yang umumnya dialami oleh anggota kelompok dalam perjalanan mereka bersama. Memahami tahap-tahap ini sangat penting dalam memahami dinamika kelompok, interaksi antaranggota, dan proses pengambilan keputusan kelompok. Dalam konteks ini, terdapat lima tahap utama dalam pengembangan kelompok yang akan dijelaskan lebih lanjut.
a. Tahap Membentuk
Tahap pertama adalah tahap pembentukan. Pada tahap ini, anggota kelompok baru bertemu dan mulai membentuk hubungan antara satu sama lain. Anggota kelompok berusaha untuk memahami tujuan kelompok, tugas yang harus diselesaikan, dan ekspektasi yang ada. Pada tahap ini, individu cenderung berhati-hati dalam perilaku mereka dan mencoba untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kelompok dan anggota-anggotanya. Komunikasi awal biasanya lebih formal dan berorientasi pada tugas.
b. Tahap Mempeributkan
Setelah tahap pembentukan, kelompok memasuki tahap konflik atau pertentangan. Pada tahap ini, perbedaan pendapat, kepentingan yang berbeda, atau ketidakcocokan dalam cara berpikir dapat muncul di antara anggota kelompok. Konflik ini merupakan hasil dari perbedaan individual yang muncul ketika anggota kelompok mulai merasa lebih nyaman dalam berekspresi dan mengungkapkan pendapat mereka. Konflik dapat berdampak negatif pada kelompok jika tidak diatasi secara konstruktif, tetapi juga dapat memberikan peluang untuk pemecahan masalah dan pertumbuhan kelompok.
c. Tahan Menyusun Norma
Tahap selanjutnya adalah tahap normatif. Pada tahap ini, kelompok mulai mengembangkan norma-norma, nilai-nilai, dan aturan yang mengatur perilaku anggota kelompok. Norma-norma ini menjadi panduan dalam interaksi kelompok sehari-hari dan membantu menciptakan kohesi dan identitas kelompok yang lebih kuat. Anggota kelompok berusaha untuk memahami dan mematuhi norma kelompok yang telah ditetapkan. Pada tahap ini, hubungan antaranggota menjadi lebih harmonis, dan kelompok mampu bekerja secara lebih efektif.
d. Tahap Mengerjakan
Selanjutnya, kelompok memasuki tahap kinerja. Pada tahap ini, kelompok mencapai tingkat yang tinggi dalam efektivitas dan produktivitas dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Anggota kelompok bekerja secara kolaboratif, menggunakan keahlian dan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai hasil yang diinginkan. Komunikasi kelompok menjadi lebih terbuka dan lancar, dan terjadi kepercayaan dan saling ketergantungan antaranggota. Tahap ini ditandai dengan pencapaian tujuan dan kualitas kerja yang lebih tinggi.
e. Tahap Membubarkan
Tahap terakhir adalah tahap pemecahan. Pada tahap ini, kelompok mengalami perubahan atau penyelesaian tugas yang diberikan. Tujuan kelompok dapat dicapai, dan anggota kelompok mulai mempersiapkan diri untuk membubarkan kelompok atau mengalihkan fokus mereka ke proyek atau tugas berikutnya. Pada tahap ini, evaluasi dilakukan terhadap keberhasilan kelompok, pembelajaran yang diambil, dan pemahaman tentang proses pengembangan kelompok.
Dalam kesimpulan, tahap-tahap dalam pengembangan kelompok, yaitu pembentukan, konflik, normatif, kinerja, dan pemecahan, merupakan proses alami yang dialami oleh anggota kelompok dalam perjalanan mereka bersama. Memahami tahap-tahap ini membantu dalam memprediksi dan mengelola dinamika kelompok secara lebih efektif, sehingga kelompok dapat mencapai kinerja yang optimal dan pencapaian tujuan yang diinginkan.
2.4. Properti Kelompok
Properti kelompok merupakan karakteristik yang memengaruhi dinamika, interaksi, dan hasil yang dihasilkan oleh kelompok. Dalam konteks perilaku kelompok, terdapat enam properti kelompok utama yang perlu dipahami secara rinci, yaitu peran, norma, status, besarannya, kekompakan, dan keragaman.
a. Peran
Peran dalam kelompok merujuk pada tugas, tanggung jawab, dan fungsi yang ditugaskan kepada anggota kelompok. Setiap anggota kelompok memiliki peran khusus yang mereka mainkan untuk mencapai tujuan kelompok. Peran dapat berupa peran pemimpin, peran koordinator, peran pengambil keputusan, atau peran pelaksana. Peran yang jelas dan terdefinisi dengan baik membantu membagi kerja, mengkoordinasikan upaya, dan meningkatkan efisiensi kelompok.
b. Norma
Norma kelompok adalah aturan dan harapan yang mengatur perilaku anggota kelompok. Norma kelompok mencakup nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku yang dianggap tepat dan diharapkan dalam konteks kelompok. Norma ini dapat berkaitan dengan etika kerja, kerjasama, partisipasi aktif, atau cara berkomunikasi. Norma kelompok berperan penting dalam membentuk budaya kelompok dan mempengaruhi perilaku anggota. Menerapkan dan mengikuti norma kelompok yang sehat dan konstruktif memungkinkan kelompok untuk berfungsi dengan lebih efektif.
c. Status
Status dalam kelompok mengacu pada posisi relatif anggota kelompok dalam hierarki atau tingkat pengaruh. Status dapat diberikan berdasarkan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, atau kontribusi yang dianggap berharga dalam konteks kelompok. Individu dengan status yang lebih tinggi mungkin memiliki kekuatan dan pengaruh yang lebih besar dalam pengambilan keputusan dan arah kelompok. Status dalam kelompok dapat mempengaruhi dinamika kekuasaan, pengambilan keputusan, dan interaksi antaranggota.
d. Besaran
Besarannya kelompok mengacu pada jumlah anggota dalam kelompok. Besarannya kelompok dapat bervariasi, mulai dari kelompok kecil dengan beberapa anggota hingga kelompok besar dengan puluhan atau bahkan ratusan anggota. Besarannya kelompok dapat mempengaruhi komunikasi, koordinasi, dan dinamika interaksi. Kelompok kecil cenderung memiliki komunikasi yang lebih intensif dan interaksi yang lebih langsung, sementara kelompok besar dapat melibatkan dinamika yang lebih kompleks dan tantangan dalam koordinasi.
e. Kekompakan
Kekompakan kelompok mengacu pada sejauh mana anggota kelompok saling berkaitan dan saling terikat secara sosial. Kekompakan kelompok ditandai oleh rasa saling percaya, ketergantungan, dan kebersamaan antaranggota kelompok. Kekompakan kelompok dapat mempengaruhi motivasi, kepu asan anggota, dan efektivitas kelompok dalam mencapai tujuan. Kelompok yang kompak cenderung bekerja secara lebih efisien, kooperatif, dan saling mendukung.
f. Keragaman
Keragaman kelompok mengacu pada variasi karakteristik individu dalam kelompok, seperti latar belakang budaya, pendidikan, keahlian, atau pandangan. Keragaman kelompok dapat memberikan berbagai perspektif, ide, dan pemikiran yang beragam yang dapat meningkatkan kreativitas, inovasi, dan pengambilan keputusan kelompok. Namun, keragaman juga dapat memunculkan tantangan dalam pengelolaan konflik, integrasi, dan pembentukan identitas kelompok yang kuat.
Dalam kesimpulan, properti kelompok yang mencakup peran, norma, status, besarannya, kekompakan, dan keragaman merupakan faktor penting dalam mempengaruhi dinamika dan hasil kelompok. Memahami dan mengelola properti ini dengan baik dapat membantu kelompok mencapai kinerja yang optimal, kohesi yang kuat, dan pencapaian tujuan yang diinginkan.
2.5. Pengambilan Keputusan Kelompok
Pengambilan keputusan kelompok adalah proses di mana anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai kesepakatan tentang tindakan atau keputusan yang akan diambil. Dalam konteks ini, keputusan tidak hanya ditentukan oleh satu individu, tetapi melibatkan kontribusi dan partisipasi dari beberapa anggota kelompok. Pengambilan keputusan kelompok memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan yang perlu dipertimbangkan.

Dalam kesimpulan, pengambilan keputusan kelompok adalah proses yang melibatkan kontribusi dan partisipasi anggota kelompok dalam mencapai kesepakatan. Dalam konteks ini, keputusan dapat memiliki kelebihan seperti peningkatan kualitas, dukungan yang lebih besar, dan partisipasi yang meningkat. Namun, perlu diperhatikan pula kelemahan seperti waktu yang lebih lama, risiko dominasi individu, konflik, dan kemungkinan terjadinya “groupthink”. Memahami kelebihan dan kelemahan ini membantu kelompok dalam mengoptimalkan proses pengambilan keputusan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam artikel ilmiah ini, kita telah membahas dasar-dasar perilaku kelompok. Perilaku kelompok melibatkan interaksi dan dinamika antara anggota kelompok yang memengaruhi hasil yang dihasilkan. Beberapa dasar perilaku kelompok yang telah dibahas meliputi identitas sosial, tahap-tahap pengembangan kelompok, dan properti kelompok.
Identitas sosial membahas karakteristik individu dalam konteks kelompok, seperti kesamaan, keunikan, status, dan penurunan yang tidak pasti. Tahap-tahap pengembangan kelompok melibatkan pembentukan, konflik, norming, performa, dan pemecahan kelompok. Properti kelompok mencakup peran, norma, status, besarannya, kekompakan, dan keragaman yang mempengaruhi dinamika dan hasil kelompok.
Dengan memahami dasar-dasar perilaku kelompok, kita dapat menerapkan pengetahuan ini untuk meningkatkan efektivitas kelompok, mempromosikan kerjasama yang sehat, dan mencapai tujuan kelompok dengan lebih baik. Studi lebih lanjut tentang perilaku kelompok dapat membuka jalan bagi pengembangan strategi dan intervensi yang efektif dalam mengelola kelompok dalam berbagai konteks.
3.2. Saran
Diharapkan para pembaca dapat menerapkan nilai-nilai dari dasar-dasar perilaku kelompok pada kerja tim dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, penelitian dan pemahaman lebih lanjut tentang dasar-dasar perilaku kelompok dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi pengembangan masyarakat yang lebih baik dan harmonis.
DAFTAR PUSTAKA
Kudussamah, K. (2020). Dasar-Dasar Perilaku Individual Dalam Perilaku Organisasi Di Era Digital. Jurnal Literasiologi, 4(1).
Abidin, Y. Suryani. (2020). Kajian Perilaku Kelompok dalam Organisasi. Jurnal Literasi Pendidikan Nusantara
Kinicki, R. Kreitner and A. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat
Garniwa, H. Sofyandi and I. 2007. Perilaku Organisasional. Yogyakarta: Graha Ilmu


