Oleh: Al’Izza Maulana Hasbi
UIN K.H Abdurrahman Wahid Pekalongan
JurnalPost.com – Tanaman pegagan (Centella asiatica (L.) Urban.) dengan sinonim Hydrocotyle asiatica L. Pes, berasal dari daerah tropis di Asia. Berdasarkan klasifikasi taksonomi, pegagan termasuk ke dalam divisi Spermatophyta. subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Umbillales, famili Umbilliferae (Apiaceae), genus Centella, spesies Centella asiatica (L.) Urban atau Hidrocotyle asiatica Linn (Heyne 1987). Januwati et al. (2002) menyimpulkan pegagan termasuk famili Umbelliferae atau Apiaceae. Pegagan memiliki nama berbeda-beda, bergantung pada daerahnya. Di Jakarta dan Aceh namanya pegagan, di Jawa Barat disebut antanan, masyarakat Sumatera menyebutnya kaki kuda, dan masyarakat Madura menamainya tikusan dan masyarakat Bali menyebutnya taiduh. Masih banyak lagi nama lokal pegagan, seperti kori-kori (Halmahera), gagan-gagan atau panigowang (Jawa), pegago (Minangkabau), dogauke atau sandanan atau gogauke (Papua), kalotidi manora (Maluku), dan bebile (Lombok) (Santa dan Bambang 1992; Lasmadiwati et al. 2004). Sebutan pegagan di beberapa negara antara
lain adalah takip-kohot (Filipina), brahma butu (India), Indian hydrocotyle (India), India penny wort (Inggris), dan gotu kola (Sri Lanka). Di Tiongkok dikenal dengan nama ji xue cao, yang dipercaya masyarakat setempat dapat memperpanjang umur. Sementara di Perancis dikenal dengan nama bevilaque, hydrocote d’Asie, atau cotyiole asiatique. Bermawie et al. (2006) telah melakukan karakterisasi dan evaluasi terhadap sifat-sifat kuantitatif plasma nutfah/aksesi pegagan dari beberapa wilayah, yakni aksesi Cibodas, Cianjur, Banjaran, Cicurug, Bali, Bengkulu, Manoko, Malaysia, Ciwidey, Sumedang, Majalengka, dan Gunung Putri. Hasil analisis sifat morfologi tanaman menunjukkan adanya keragaman dalam tinggi tanaman, jumlah vena, jumlah daun induk, jumlah daun anakan, jumlah akar pada anakan, panjang daun, lebar daun, panjang ruas terpanjang, panjang runner, jumlah runner, diameter tangkai daun, diameter runner, jumlah anakan yang berbunga, jumlah bunga per runner, panjang tangkai bunga, bobot segar, dan bobot kering tanaman. Namun, hasil analisis terhadap parameter tebal daun, jumlah buku, dan jumlah akar induk tidak menunjukkan keragaman yang cukup signifikan.
Jumlah vena terbanyak dimiliki oleh aksesi Malaysia karena aksesi ini memiliki daun terpanjang dan terlebar. Demikian halnya dengan diameter tangkai daun dan diameter runner. Secara umum, aksesi Malaysia memiliki daun yang tebal, lebar dan panjang, dengan jumlah vena yang cukup banyak serta diameter batang cukup besar sehingga penampilannya tampak kokoh. Jumlah daun induk paling banyak dimiliki oleh aksesi Manoko dan Bengkulu, namun jumlah daun anakan tidak menunjukkan perbedaan dengan nomor-nomor lainnya. Jumlah bunga terbanyak dihasilkan oleh nomor Cianjur karena jumlah buku yang memiliki bunga juga banyak. Panjang tangkai bunga terpanjang dimiliki oleh aksesi dari Malaysia.
Keragaan kualitatif tanaman adalah sebagai berikut. Daun muda berwarna hijau, yang didominasi oleh warna hijau 141 B dan 138 A. Hampir semua daun tua berwarna hijau, kecuali aksesi dari Malaysia yang memiliki daun tua berwarna kuning hijau 144 A. Warna daun tua didominasi oleh hijau 143 A yang ditunjukkan oleh nomor-nomor dari Banjaran, Bali, Cicurug, Sumedang, dan Majalengka. Bunga berwarna hijau dan hijau kuning, kecuali bunga aksesi asal Malaysia yaitu hijau kuning N144 C. Tangkai bunga berwarna ungu, ungu merah, hijau, atau hijau kuning. Warna ungu merah paling dominan, sedangkan warna ungu hanya dimiliki oleh aksesi yang berasal dari Gunung Putri (N79 C). Berdasarkan sifat kualitatif, perbedaan hanya dilihat dari bentuk maupun warna daun masing-masing aksesi (Bermawie et al. 2006). Keragaman bentuk beberapa aksesi pegagan dapat dilihat pada Gambar 2. Lima aksesi di antaranya Bengkulu, Ciwidey, Gunung Putri, Majalengka, dan Ungaran mempunyai kandungan asiatikosida yang tinggi (Bermawie et al.(2008).




