JurnalPost.com – Persaingan antar perusahaan di era globalisasi semakin meningkat baik di pasar domestik (nasional) maupun internasional. Perkembangan kehidupan bisnis yang dinamis dan kompetitif menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan strategi dalam mengeluarkan produk, mempertahankan produknya, dan menarik konsumen. Salah satu cara untuk memperoleh keunggulan bersaing dalam mempertahankan keputusan pembelian adalah dengan membangun brand image (citra merek) yang baik di mata konsumen.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan produk kopi robusta dan arabika milik Kelompok Tani Hutan (KTH) Rukun Maju Sejahtera, sejumlah mahasiswa magang mandiri MBKM program studi agribisnis UPN Veteran Jawa Timur menggelar sosialisasi terkait membangung brand untuk produk pertanian.
Pelaksanaan sosialisasi Branding Produk Pertanian Komoditas Kopi ini dilaksanakan pada 25 Mei 2023 tepatnya di rumah H Mahrus Sholihin (selaku ketua KTH Rukun Maju Sejahtera, Desa Puspo, Pasuruan.
Acara tersebut mengundang para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Kelompok Tani Hutan, perangkat desa, dan perwakilan dari Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur.
“Brand atau merek adalah nama, desain, istilah, tanda, simbol, atau kombinasinya yang menggambarkan dan menjelaskan produk atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, kurangnya branding dapat menyebabkan kurangnya pembeli, sebab masyarakat kurang mendengar atau mengerti tentang produk kopi yang dihasilkan. Contoh ketika seseorang ingin membeli air minum, seseorang cenderung membeli dengan menyebut merk seperti Aqua. Ini merupakan salah satu efek dari branding yang menyebabkan produk tersebut telah melekat dalam benak konsumen ketika ingin membeli air minum.
Strategi branding yang dapat diterapkan dikenal dengan istilah brand strategy yang diperkenalkan oleh salah satu praktisi branding yaitu subiakto. Dalam brand strategy tersebut terdapat 15 langkah untuk melakukan branding. Salah satunya adalah (positioning) pembeda, dimana produk kopi harus berbeda dengan produk orang lain. Sebagai contoh beras, pembedanya lagi beras merah, namun beras merah sudah umum diperjuabelikan. Pembedanya adalah dengan mengolah beras merah menjadi tepung. Jika sudah dibikin tepung dapat kita minum, tinggal ditambahkan air panas. Hal ini merupakan salah satu pembeda dengan produk lain. “Ujar Muhammad Azriel, saat sosialisasi.”
Para pelaku UMKM dan Anggota Kelompok Tani Hutan menyetujui dengan adanya strategi branding tersebut. “Menurut saya strategi branding tersebut dapat diterapkan pada produk pertanian dan produk-produk lain, kedepannya kami akan mencoba mempelajari tentang brand strategy yang disampaikan oleh pak subiakto,” ujar salah seorang pelaku UMKM.
Kami berharap dengan adanya kegiatan sosialisasi ini dapat diimpelementasikan serta dapat membantu para pelaku UMKM dan KTH Rukun Sejahtera dalam meningkatkan pendapatannya melalui strategi branding.




