JurnalPost.com – Bersikap “bodoamat” atau tidak terlalu memedulikan hal-hal yang tidak penting bisa menjadi kebiasaan yang bermanfaat dalam menjaga kesehatan psikologis kita. Meskipun terdengar kontradiktif, terkadang kita perlu mengambil jarak dari tekanan dan stres yang seringkali merayap ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Mengatasi Kekhawatiran Berlebihan, kekhawatiran yang berlebihan tentang masa depan atau hal-hal yang di luar kendali kita dapat mengganggu kesehatan mental kita. Dengan bersikap “bodoamat”, kita dapat belajar untuk melepaskan kekhawatiran yang tidak produktif dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita. Dengan tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak dapat diubah, kita dapat mengurangi tingkat kecemasan dan stres yang kita rasakan.
Menghindari Perbandingan Sosial, dalam era media sosial yang serba terhubung ini, seringkali kita cenderung membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Hal ini dapat merusak harga diri dan menyebabkan perasaan tidak kuat. Dengan bersikap “bodoamat”, kita dapat belajar untuk tidak memedulikan bagaimana orang lain hidup atau apa yang mereka miliki. Kita dapat fokus pada perjalanan hidup kita sendiri dan menerima diri kita apa adanya. Meningkatkan Diri Sendiri, ketika kita terlalu sibuk memperhatikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, kita seringkali kehilangan fokus pada pertumbuhan dan pengembangan diri sendiri. Dengan bersikap “bodoamat”, kita dapat menghindari tekanan sosial yang membuat kita merasa harus memenuhi harapan orang lain. Sebaliknya, kita dapat fokus pada mempelajari hal baru, mengembangkan minat dan bakat kita, dan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.
Meningkatkan Hubungan Sosial: Terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihat kita dapat membuat kita cemas dan self-conscious dalam berinteraksi sosial. Dengan bersikap “bodoamat”, kita dapat mengurangi kekhawatiran kita tentang penilaian orang lain dan lebih berani dalam menjalin hubungan sosial. Kita dapat menjadi lebih autentik dan menunjukkan diri kita apa adanya, tanpa takut akan penilaian negatif. Mengurangi Stres, terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting dapat menyebabkan stres yang berlebihan. Dalam banyak kasus, kita tidak memiliki kendali atas situasi atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Dengan bersikap “bodoamat”, kita dapat belajar untuk menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan fokus pada apa yang dapat kita kendalikan. Hal ini dapat membantu mengurangi tingkat stress.
Bodoamat adalah sebuah kata yang cukup populer di kalangan anak muda. Kata tersebut berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya “tidak peduli”. Bodoamat sering digunakan untuk menunjukkan sikap santai atau acuh tak acuh terhadap suatu hal, atau sebagai respons atas pertanyaan atau pernyataan yang dianggap tidak penting atau tidak berarti. Kata bodoamat umumnya digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik itu secara lisan maupun dalam bentuk tulisan seperti pesan singkat atau posting di media sosial. Banyak yang menggunakan kata ini untuk mengekspresikan ketidakpedulian terhadap suatu masalah atau situasi yang dianggap tidak penting bagi mereka. Seperti dalam buku yang berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” karya Mark Manson menjelaskan tentang pentingnya bersikap bodoamat sebagai salah satu kunci kebahagiaan dalam hidup. Bodoamat bukan berarti cuek atau tidak peduli, namun lebih kepada mengikuti alur kehidupan dengan santai dan tidak menjadi terlalu terikat pada hal-hal yang tidak perlu. Dengan menjalankan prinsip bodoamat, diharapkan dapat merasa lebih bahagia, bebas dari tekanan, dan memperoleh keseimbangan dalam hidup.
Kebanyakan orang ketika diberi komen akan hidup mereka entah itu perihal baik atau buruk. Mereka akan selalu memikirkan bahkan tersinggung jika itu hal yang buruk. Padahal jika diambil dari segi logika, harusnya kita bisa lebih bodoamat dalam menanggapi hal tersebut bukan? karena omongan mereka itu hanya sesuatu yang sebenarnya ingin menghancurkan kita, harusnya kita bisa lebih bodoamat akan hal itu. Tapi disini yang menjadi permasalahan adalah Setiap Orang memiliki Mental yang berbeda-beda. Soal mental memang kita harus lebih aware akan orang-orang disekitar kita. Kita engga pernah tau perkataan kita bisa menyakiti dia atau tidak. Mungkin menurut kamu itu hal yang biasa, tapi bisa jadi menurut dia itu hal yang sensitif. Jadi sekarang bisalah untuk bersikap lebih peduli akan hal sesimple itu, enggak salah kok kita asal ngomong apapun tapi kita harus bisa liat situasi, kondisi nya juga.
Oleh: Mallika insyirah syngenta
UIN K.H Abdurrahma Wahid Pekalongan




