
Ditulis oleh Silkyana Maharani Kodrat, Mahasiswi Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi IPB
Nama Lengkap : Irma Priskila Sopamena
Tempat Tanggal lahir : Makassar, 28 April 1976
Pendidikan : Irma Priskila pernah berkuliah di jurusan perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.
Karier
Saat ini Irma menjabat sebagai Program Director di CWS (Church World Service) Indonesia dan juga Timor Leste. Sebagai Program Director, ia mengawasi seluruh implementasi program, memimpin tim teknis dan mengembangkan portofolio untuk program-program CWS Indonesia dan Timor Leste.
Karier Irma Priskila dimulai sebagai administration officer tepat pada saat CWS memulai operasinya kembali pada tahun 1998 di Makassar setelah sebelumnya berhenti beroperasi dikarenakan peraturan Soeharto pada saat itu mengenai menasionalkan seluruh institusi di Indonesia. Sampai tepat satu tahun setelah itu pada 1999, CWS memutuskan untuk memindahkan kantor utamanya ke Jakarta, membuat Irma juga mengajukan pemindahannya ke Jakarta.
CWS (Church World Service) adalah sebuah NGO atau Non-Governmental Organization yang didirikan pada tahun 1970 dan berpusat di New York dan berkerja di 32 Negara termasuk di Indonesia. Fokus program dari CWS ada pada tiga area yakni, food secutity, refugee protection dan disaster risk management.
Karir Irma di mulai di bagian operasional program, lalu ia pindah ke bagian Human Resource dengan jabatan terakhir sebagai HR Director lalu pindah ke Program dengan jabatan yang sekarang yaitu Program Director. Berdasarkan pengalaman Irma sendiri, ia mengatakan bahwa tidak banyak orang NGO (Non-Governmental Organization) yang berpindah dari operation dan HR ke Program terutama langsung ke jabatan Program Director.
Irma mengatakan dirinya sebagai back seat driver karena bisa dibilang selama 17 tahun ia mensupport program CWS di belakang layar. Ia selalu bertanya dan belajar dari para Program Manager dan program Director bahkan CR sebelumnya, meminta untuk di ajak dalam diskusi program, membaca proposal dan laporan program, ikut serta dalam merakit strategi program dan organisasi tetap di belakang layar. Bisa dibilang Irma bukanlah orang yang ambisius tetapi ia selalu merasa kurang, oleh karena itu ia terus belajar.
Akhirnya ketekunannya berbuah manis ketika kemampuan yang ia miliki di lirik sampai akhirnya Irma ditawarkan untuk menjadi Program Director yakni jabatannya saat ini. Motivasi Irma untuk menyemplung dalam karier ini pada awalnya adalah cari pengalaman dan cari pemasukan, tetapi semakin lama ia bekerja dengan CWS semakin tinggi juga rasa nyaman karena ia mendapati kesamaan visi dan misi CWS dengan apa yang selalu diajarkan oleh orang tuanya. Pekerjaan Irma saat ini tentunya terlibat dalam hal membantu banyak orang, menyelamatkan nyawa dan mengurangi penderitaan dengan cara yang hormat dan memulihkan martabat pribadi seseorang.
Kisah Hidup Inspiratif
Irma sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang memiliki kepedulian sosial cukup tinggi. Kakek dan nenek dari Irma membentuk Yayasan pendidikan Taman Pengajaran Ujung Pandang (TPUP) pada tahun 1951 dan masih ada sampai sekarang. Mereka membentuk Yayasan tersebut karena mereka sadar bahwa pendidikan adalah sesuatu hal yang sangat penting bagi semua orang. Yayasan Pendidikan tersebut pada saat itu berfokus kepada pendidikan untuk Perempuan. Karena pada jaman itu perempuan belum bersekolah tidak seperti sekarang.
Selain itu Nenek dari Irma Bersama teman-temannya pada tahun 1947 mendirikan sebuah panti asuhan MURNI. Panti asuhan ini didirikan dikarenakan pasca perang, banyaknya anak-anak yang kehilangan orang tuanya, ditambah lagi keaadaan ekonomi saat itu yang buruk.
Kedua orang tua Irma bekerja sebagai pendeta di Sulawesi Selatan, mereka bekerja di gereja kecil, pelayanan di daerah-daerah terpencil, seperti pulau selayar. Oleh karena itu Rumah Irma selalu penuh bagaikan rumah singgah, karena rumah Irma selalu terbuka untuk siapa saja yg mau menyekolahkan anaknya ke jenjang yg lebih tinggi (SMA, Universitas) untuk ditampung oleh orang tuanya.
Sejak kecil Irma selalu diajarkan untuk melakukan apa saja dengan kebaikan hati, sukacita, selalu berbagi bahkan dalam kekurangan, tidak menyombongkan diri dan selalu mendahulukan Tuhan dalam segala hal. Irma selalu diingatkan bahwa apa pun yang ia capai hari ini bukan karena kehebatan dirinya seorang, namun karena TUHAN melayak-kan dirinya. Orang tua Irma juga tidak mengajarkan untuk menjadi orang pintar, tetapi untuk bisa bertekun (perseverance).
Momen penting dalam Karier
Salah satu momen penting selama bekerja di CWS adalah saat menjadi HR Coordinator. Hal ini sangat ia banggakan, karena pada saat itu sistem pengelolaan SDM di CWS praktis belum ada namun dirinya dan tim yang sangat kecil berhasil membangun sebuah sistem yang compatible dengan UU ketenagakerjaan di Indonesia yang bahkan masih digunakan sampai saat ini.
Selain itu ternyata Irma juga turut serta dalam tim Emergency Rescue untuk peristiwa Tsunami Aceh 2004, membuka tiga cabang kantor baru dan merekrut sekitar 400 staff dalam kurun waktu yang singkat. Irma juga cukup bangga melihat program CWS yang benar-benar menyasar lokasi dan target masyarakat yang sangat membutuhkan. Selain itu Irma juga berhadil menulis sebuah proposal pertama yang kemudian didanai oleh pemerintah Australia, tepat ketika dirinya baru saja menduduki jabatan Program Director.
Kehidupan Pribadi
Menurut Irma, kehidupan profesional adalah bagian dari kehidupan pribadi dan sebaliknya. Komunikasi, perencanaan, fleksibilitas, serta kemampuan untuk menentukan prioritas akan sangat membantu dalam menyelaraskan kehidupan profesional dan pribadi. Selain itu, kebijakan tanpa penyesalan harus diterapkan. Menentukan apa yang harus diutamakan pada saat tertentu sangat penting, dan hal ini perlu dikomunikasikan baik kepada atasan di tempat kerja maupun kepada keluarga.
Ketika memiliki waktu luang, Irma mengurus rumah, mencari tempat bersantai dengan anak-anak dan suaminya, berlibur ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, membaca, dan melakukan pijat adalah hal-hal yang dilakukannya. Sisanya, ia gunakan waktunya untuk tidur.
Pengaruh dan warisan
Menurutnya saat ini dan di waktu yang akan datang, pekerjaan kemanusiaan akan dihadapkan pada banyak tantangan, seperti krisis yang terjadi karena bencana buatan manusia maupun alam, terkait perubahan iklim, atau fakta bahwa Indonesia berada di “ring of fire”, serta masalah migrasi termasuk pengungsi dan pencari suaka versus pendanaan dan sistem yang semakin terbatas. Ruang gerak Irma akan menjadi terbatas. Saat ini, CWS sedang bertransformasi dalam melaksanakan program-programnya, perannya adalah memastikan agar tetap pada jalur yang benar, efisien, tetapi juga fleksibel dalam melakukan pekerjaannya.
Tujuannya bukanlah menjadi wanita super, melainkan bisa bersama-sama dengan tim menjadi tim super. Dengan tim super, mereka bisa melakukan lebih banyak kegiatan program yang kemudian berdampak baik bagi bantuan kemanusiaan dan pembangunan. Selalu berbagi ilmu dan pengetahuan agar kelak siapa pun yang mampu dapat menjadi Direktur Program – jika hal itu terjadi, Irma sudah siap untuk pensiun.
Inspirasi dan Motivasi
Kakek, nenek, dan kedua orang tua Irma dapat dibilang termasuk sebagai inspirasinya. Empat pekerja CWS yang bertugas, orang-orang yang pernah dilayani oleh CWS, semuanya menginspirasi dirinya. Menurutnya apa yang ia lakukan selama ini masih jauh dari apa yang telah mereka lakukan, oleh karena itu setiap hari ia selalu belajar. Ada satu buku yang setiap tahun selalu ia baca ulang sejak tahun 2007, judulnya “Kaya Tanpa Uang,” buku tersebut adalah terjemahan dari buku berbahasa Belanda yang aslinya berjudul “The Amazing Quest”
Buku ini diterjemahkan oleh ayah dari mantan atasan suami Irma dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia untuk anak perempuannya. Beliau sangat menyukai makna cerita ini, sayangnya anaknya tidak bisa berbahasa Belanda. Makna buku tersebut menjadi pedoman hidup Irma, suaminya, dan anak-anaknya. Pesan yang didapat dari buku tersebut adalah bahwa harta dan kepintaran saja tidak akan membuat mereka hidup bahagia. Karena hidup yang bahagia adalah hidup yang berarti dan bermanfaat bagi banyak orang.
Penutup dan Pesan
Irma merasa dirinya belum merasa layak memberikan nasihat pada generasi selanjutnya karena pengalamannya yang menurutnya masih kurang dan masih harus banyak belajar lagi. Namun ia dapat memberikan sebuah ajakan untuk generasi muda ;
“Be whatever you want to be, do whatever you want to do, go where ever you want to go, whatever it is always in the direction of kindness.
Dapat diartikan kurang lebih adalah untuk jadilah apa pun yang diinginkan, lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan, pergilah ke mana pun yang ingin kamu pergi, yang terpenting adalah selalu berbuat baik. Lakukan semua dengan dasar kebaikan. Jangan pernah berhenti belajar. Lakukan semua hal atas dasar keinginan hatimu dan bukan atas dasar keinginan orang lain.




