JurnalPost.com – Berhasil memadukan gaya di era 1960-an dengan gaya modern, café yang terletak di Jalan Jambi Nomor 35, Surabaya ini mengangkat konsep ruang yang vintage dan homey. Bangunan existing De Mier awalnya merupakan bekas rumah kolonial yang dulunya digunakan sebagai mes tentara angkatan laut. Kemudian kini dirombak menjadi bangunan De Mier yang memiliki arti “semut” dalam Bahasa Belanda. Dari segi arsitektur, bangunan existing tidak banyak dirombak dan justru ingin mempertahankan konsep rumah kolonial yang mengandung kesan nostalgia, homey, dan hangat.
Bangunan existing rumah kolonial dipadukan dengan gaya modern- industrial yang identik dengan exposed material, pemaksimalan cahaya alami, dan pemakaian material metal atau besi dalam elemen interior ataupun elemen perabotnya. Arsitek dari De Mier sendiri memadukan rumah gaya kolonial dengan gaya modern- industrial dengan menggabungkan batu bata ekspos, roster beton, kayu, dan metal pada bagian modern rumah, menciptakan ruang yang bersahaja sambil mempertahankan hubungan antara gaya bangunan kolonial dan modern- industrial.
Bangunan ini terletak di area lingkungan yang minim kebisingan karena terletak di jalan yang kecil. Oleh karena itu, café ini memang sangat cocok untuk berbagai aktivitas tamu, dari mengerjakan tugas, meeting dengan klien, hingga makan bersama teman, pacar, atau keluarga, semua bisa mendapatkan ketenangan di café ini.
Ketika datang, tamu akan disambut dengan halaman teras yang leluasa dan lega. Teras rumah ala kolonial ini dilengkapi dengan beberapa spot duduk bagi tamu yang ingin mendapatkan suasana alam dan pengalaman nostalgia seperti bersantai di teras rumah jaman dulu. Elemen interiornya dilengkapi dengan perpaduan dari lantai tegel abu- abu dan lantai tegel yang bermotif sehingga terkesan variatif dan tidak monoton. Kemudian teras menggunakan kanopi kisi- kisi kayu sebagai penghalang sinar matahari langsung serta menjadi elemen estetika dalam ruang. Selain itu, kanopi kisi- kisi ini juga menambah estetika dari pembiasan cahaya yang masuk kedalam sela kisi- kisi sehingga menimbulkan efek yang menarik kedalam ruang terasnya. Furniturenya didominasi dengan penggunaan material kayu sehingga suasana ruangan semakin hangat dan homey.
Ruangan dibagi menjadi dua bagian yaitu, indoor dan outdoor. Ruangan indoor menonjolkan konsep homey dengan fasilitias AC sehingga ruangan terasa nyaman sedangkan ruang outdoor ingin menonjolkan penghawaan alami yang lebih lega dan view yang segar dari tanaman- tanaman di sekitar. Ketika masuk ke dalam ruangan indoor, suasana gaya jengki mendominasi ruangan dengan perabotnya yang khas. Furniturenya menggunakan funiture ala jengki dengan ciri khas furniturenya yang berbentuk landai, didominasi dengan material kayu, serta bentuk kaki kursinya yang mengerucut menyerupai pensil dan tidak tegak lurus. Furniture Café De Mier ini didominasi dengan penggunaan material rotan dan kayu. Warna- warna yang digunakan adalah warna netral seperti putih dan abu abu dan dipadukan dengan warna olive green yang menjadi warna branding dari Café De Mier ini. Jendela juga diolah untuk tetap menonjolkan kekhasan gaya jengki dengan menggunakan teralis besi yang diolah dengan bentukan geometris. Lantainya juga menggunakan lantai tegel bermotif yang disertai dengan border lantai untuk mengurangi kesan monoton pada lantai dan sebagai sarana untuk membagi area ruangan. Plafonnya yang tinggi diolah dengan pemberian list kayu ditengah ketinggian dan dipercantik dengan hidden light. Penghawaan alaminya menggunakan AC, kipas angin, ventilasi, dan jendela. Tidak lupa diberi dekorasi dinding berupa gambar- gambar bangunan jaman dulu supaya tamu jadi bernostalgia pada sejarah dulu. Tidak hanya figura, tetapi juga ada spot dekorasi berupa komposisi tanaman hidup yang estetik.
Area outdoor memberikan suasana alam dengan dominasi penggunakan material kayu pada meja dan kursinya. Kemudian lantainya menggunakan material batu alam sehingga nuansa alam dan juga kehangatannya sangat terasa. Secara keseluruhan, konsep gabungan dari arsitektur bergaya modern- industrial dengan interior bergaya jengki dapat dinilai berhasil karena keduanya tampak seimbang dan berhasil menciptakan suasana homey yang ingin diberikan kepada para tamu.
Ditulis oleh: Shella Febriani Tjahjono – Universitas Kristen Petra.




