• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

AI vs Manusia: Ketika Teknologi Semakin Pintar, Apakah Manusia Semakin Manusiawi?

Editor Redaksi
12 Agustus 2026
in Artikel
Gambar Ilustrasi AI vs Manusia

Oleh : Ilham Catur Handoko
Kampus : Universitas Siber Asia (UNSIA)

Pendahuluan

Di era modern saat ini, semua serba AI (Artificial Intelligence). Mulai dari kegiatan pendidikan, industri, bisnis, office, pemerintahan, bahkan kehidupan sehari-hari, banyak melibatkan AI. AI sangat berperan penting dalam setiap aktifitas manusia saat ini, AI dapat membantu manusia menyelesaikan segala pekerjaan dengan mudah, Namun, kehadiran AI mengancam nilai estetika manusia.

Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan yang sangat cepat dalam kehidupan manusia. Salah satu perkembangan yang paling menarik perhatian adalah hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Jika sebelumnya teknologi lebih banyak digunakan untuk membantu manusia melakukan pekerjaan yang bersifat sederhana dan berulang, saat ini kemampuan AI telah berkembang jauh lebih luas. AI sudah mampu membantu manusia menulis, membuat gambar dan video, menerjemahkan bahasa, menganalisis berbagai informasi, memberikan rekomendasi, hingga berinteraksi dengan manusia melalui bahasa yang semakin menyerupai komunikasi sehari-hari.

Konsep Society 5.0 menekankan bahwa perkembangan teknologi harus tetap berorientasi pada manusia, yaitu membantu menyelesaikan persoalan, meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, manusia tetap harus menjadi pusat pemanfaatan teknologi.

Namun, semakin canggihnya AI juga menimbulkan pertanyaan: apakah teknologi akan membantu manusia berkembang atau justru membuat manusia semakin bergantung? Menurut penulis, persoalan utamanya bukan siapa yang lebih pintar, tetapi bagaimana manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, empati, tanggung jawab, dan hubungan sosial.

Industry 4.0 dan Society 5.0: Teknologi untuk Siapa?

Industry 4.0 ditandai dengan pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), big data, Internet of Things (IoT), machine learning, otomatisasi, dan robotisasi. Penerapannya bertujuan meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan produktivitas dalam berbagai aktivitas manusia dan organisasi.

Namun, kemajuan tersebut tidak seharusnya hanya dilihat dari kemampuan teknologi menggantikan pekerjaan manusia. Manusia tetap berperan dalam menentukan tujuan dan memastikan teknologi digunakan secara tepat.

Berdasarkan penelitian  Takanori  et  al  (2020) “Society5.0”, ini  adalah  konsep  Jepang terkait penurunan populasi    yang lambat akibat kemajuan    teknologi.    Hal    ini    sering dianggap sebagai    puncak    dari pertumbuhan penduduk yang dibangun pada periode-periode sebelumnya seperti pertanian, industri, agraris dan masyarakat   informasi.   Tujuan   Pembangunan   Berkelanjutan (SDGs)   diadopsi   oleh Perserikatan   Bangsa – Bangsa   pada   tahun   2015   sebagai   seruan global untuk   bertindak guna mengakhiri kemiskinan,   melindungi   planet   ini,   dan   memastikan   bahwa   semua   orang   menikmati   perdamaian dan kesejahteraan pada tahun  2030. Penelitian  Zhong  (2021),  studi  ini  menemukan  kemungkinan  untuk mengidentifikasi  strategi  penerapan  Society  5.0  di  sektor  Pendidikan  untuk  merespons  dampak  pandemi COVID-19 terhadap kebijakan.

Konsep Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusat pemanfaatan teknologi. Teknologi tidak hanya digunakan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk menyelesaikan persoalan sosial dan meningkatkan kualitas hidup.

Ketika Manusia Terlalu Bergantung pada AI

Gambar Ilustrasi Manusia Ketergantungan dengan AI

Kemudahan yang ditawarkan AI juga dapat menimbulkan risiko apabila manusia menggunakannya secara berlebihan. Ketergantungan pada AI dapat membuat seseorang terbiasa menerima informasi tanpa melakukan verifikasi, sehingga kemampuan berpikir kritis menjadi berkurang. Kreativitas juga berpotensi melemah apabila manusia selalu mengandalkan AI untuk menghasilkan ide tanpa mencoba mengeksplorasi pemikirannya sendiri.

Selain itu, interaksi dengan AI tidak sepenuhnya dapat menggantikan hubungan emosional antarmanusia. AI dapat memberikan respons, tetapi tidak memiliki pengalaman dan hubungan sosial seperti manusia. Persoalan lain adalah tanggung jawab. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi keputusan dan konsekuensi akhirnya tetap harus menjadi tanggung jawab manusia.

Perspektif Humanisme: Apa yang Membuat Manusia Tetap Manusia?

Nilai seorang manusia tidak bisa diukur hanya dari produktivitas. Teknologi AI memang unggul dalam kecepatan, konsistensi kecerdasan, dan efisiensi. Namun, manusia memiliki kemampuan memberikan makna, nilai, dan pertimbangan.

Manusia memiliki empati. Empati menjadikan manusia dapat memahami perasaan dan kondisi  orang lain secara natural dan alami. Hal ini membangun kepedulian, kepercayaan, dan hubungan yang sehat. Manusia mampu mempertimbangkan benar dan salah pada suatu kondisi. Penilaian ini yang menjadikan manusia tetap bertanggung jawab atas keputusan dan dampaknya. Ini yang dinamakan moral dan etika. Tidak semua hal yang bisa dilakukan dengan teknologi berarti layak dilakukan.

Kemudian manusia memiliki sifat sebagai makhluk sosial. Relasi sosial merupakan salah satu nilai penting dalam kehidupan manusia karena melalui hubungan dengan orang lain, manusia dapat membangun kepercayaan, kerja sama, kepedulian, dan rasa memiliki. Oleh karena itu, teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat hubungan antarmanusia, bukan menggantikannya.

Kreativitas juga menjadi bagian penting dari nilai kemanusiaan. Kreativitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi juga kemampuan memberikan pengalaman, emosi, cerita, dan makna terhadap suatu karya. Meskipun AI mampu menghasilkan berbagai karya, manusia tetap memiliki peran dalam memberikan nilai dan makna yang berasal dari pengalaman kehidupannya.

 

Menuju Society 5.0: Manusia Tetap sebagai Pusat

Perkembangan Industry 4.0 menunjukkan bahwa teknologi semakin mampu membantu manusia dalam berbagai aktivitas. Kehadiran AI, big data, otomatisasi, dan teknologi digital memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi dan produktivitas. Namun, konsep Society 5.0 membawa perspektif yang lebih luas, yaitu bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk menyelesaikan persoalan manusia dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Bambang Brodjonegoro (2021), Mantan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN, menjelaskan bahwa Society 5.0 memberikan peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan inovasi yang lahir dari Revolusi Industri 4.0 dalam menyelesaikan berbagai tantangan sosial.

Keberhasilan Society 5.0 tidak cukup hanya dilihat dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki. Ukurannya juga harus dilihat dari dampaknya terhadap manusia: apakah teknologi membuat manusia lebih produktif, meningkatkan kualitas hidup, menjaga hubungan sosial, serta digunakan secara etis dan bertanggung jawab. Di tengah perkembangan AI, big data, dan konektivitas, kemampuan manusia seperti kreativitas, imajinasi, intuisi, emosi, dan etika justru semakin penting karena hal-hal tersebut berada di luar keunggulan utama mesin.

Oleh karena itu, teknologi dalam Society 5.0 seharusnya tidak menempatkan manusia hanya sebagai pengguna atau objek teknologi. Manusia harus tetap menjadi pusat sekaligus pengendali arah pemanfaatan teknologi. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi tujuan akhirnya tetap harus kembali kepada peningkatan kualitas dan kesejahteraan manusia.

AI Tidak Perlu Dilawan, tetapi Harus Dikendalikan

AI tidak seharusnya dipandang sebagai musuh yang harus dilawan. AI justru dapat menjadi alat yang sangat membantu manusia dalam belajar, bekerja, mencari informasi, mengolah data, dan menyelesaikan berbagai persoalan. Yang perlu dihindari adalah ketika manusia menyerahkan seluruh proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada AI.

Dalam menghadapi perkembangan tersebut, manusia perlu meningkatkan digital literacy agar mampu memahami dan menggunakan teknologi secara tepat. Namun, digital literacy saja belum cukup. Manusia juga membutuhkan human literacy, yaitu kemampuan memahami diri sendiri, memahami orang lain, membangun hubungan sosial, berpikir kritis, memiliki empati, serta mempertimbangkan nilai moral dan etika.

Pandangan tersebut sejalan dengan Joanne Song McLaughlin (Profesor Ekonomi Tenaga Kerja di University at Buffalo) berpendapat bahwa sebagian besar pekerjaan masih membutuhkan keterampilan sosial, empati, dan penilaian manusia yang tidak bisa diambil alih oleh AI dalam waktu dekat.

Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) mengungkapkan bahwa AI tidak akan mengalahkan manusia asalkan sistem pendidikan mampu membentuk pemikiran reflektif, berkarakter, dan empatik yang tidak dimiliki mesin. Karena itu sikap yang tepat bukanlah takut terhadap AI dan bukan pula bergantung sepenuhnya kepada AI. Manusia harus mampu menempatkan AI sebagai alat bantu, sementara keputusan mengenai tujuan, batas, dan dampak penggunaannya tetap berada di tangan manusia.

Penutup

Perkembangan AI merupakan bagian penting dari Industry 4.0 yang membawa perubahan besar terhadap cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Teknologi memberikan manfaat besar dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan risiko berupa ketergantungan, berkurangnya kemampuan berpikir kritis, persoalan etika, serta berkurangnya interaksi antarmanusia.

Dalam perspektif Society 5.0, perkembangan teknologi seharusnya tidak berhenti pada pencapaian teknologi yang semakin canggih. Teknologi harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Karena itu, manusia tetap membutuhkan kemampuan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga empati, kreativitas, berpikir kritis, moral, etika, dan kemampuan membangun hubungan sosial.

Pada akhirnya, persoalannya bukan mengenai siapa yang lebih pintar antara AI dan manusia. AI mungkin akan terus berkembang dan memiliki kemampuan yang semakin luar biasa. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan untuk apa kecerdasan tersebut digunakan dan nilai apa yang ingin dicapai.

“Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang lebih pintar, AI atau manusia. Persoalannya adalah apakah manusia yang menciptakan AI masih mampu menggunakan kecerdasannya untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana.”

 

 

 

Daftar Pustaka:

Burns, R. B. (1993). Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan, dan Perilaku. Arcan.

Hamdan. (2018). Industri 4.0: Pengaruh Revolusi Industri Pada Kewirausahaan Demi Kemandirian Ekonomi. Jurnal Nusamba.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Strategi nasional kecerdasan artifisial Indonesia 2020–2045. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Suwardana, H. (2018). Revolusi Industri 4.0 Berbasis Revolusi Mental. Jati Unik.

Suherman, Musnaini, Wijoyo, H., & Indrawan, I. (2020). Industry 4.0 VS Society 5.0. Banyumas: PENA PERSADA.

Riatmaja, D. S. & Sukmaningrum, Dinda (2021). Investigasi Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0 Dalam Konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Universitas Amikom Yogyakarta.

Kemdiktisaintek (2025). Wamen Stella Ungkap AI Tidak Akan Mengalahkan Manusia Jika Pendidikan Mampu Membentuk Pemikiran Reflektif dan Empatik. https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/wamen-stella-ungkap-ai-tidak-akan-mengalahkan-manusia-jika-pendidikan-mampu-membentuk-pemikiran-reflektif-dan-empatik

Warta Ekonomi (2021). Ingin Seperti Jepang, Indonesia Kian Pede Menjadi Masyarakat 5.0. https://wartaekonomi.co.id/read368902/ingin-seperti-jepang-indonesia-kian-pede-menjadi-masyarakat-50

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.