• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Amarah Menjadi Tontonan: Belajar Menjadi Manusia di Era Viral

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
in Artikel

Oleh: Anggyta Devya Nurindrawan
Mahasiswa Universitas Siber Asia

JurnalPost.com – Di era digital, kemarahan tidak lagi berhenti sebagai luapan emosi sesaat. Satu tindakan yang dilakukan dalam hitungan detik dapat direkam, diunggah ke media sosial, lalu disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan orang. Konflik yang awalnya terjadi antara beberapa orang dapat berkembang menjadi perbincangan publik dan meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu keterampilan hidup yang semakin penting. Terlebih ketika kemarahan terjadi di tempat yang semestinya menjadi ruang untuk mendapatkan pertolongan, seperti fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada Maret 2026, misalnya, sebuah video yang memperlihatkan keluarga pasien marah kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, menjadi viral di media sosial. Peristiwa tersebut bermula ketika keluarga pasien hendak melakukan pembayaran menggunakan QRIS, tetapi metode pembayaran tersebut tidak dapat digunakan. Ketidakpuasan terhadap situasi itu kemudian berkembang menjadi kemarahan kepada petugas kesehatan yang sedang memberikan pelayanan. Kejadian tersebut direkam dan tersebar di media sosial hingga mendapat perhatian masyarakat. Setelah video tersebut viral, keluarga pasien kemudian menyampaikan permohonan maaf atas tindakannya.

Peristiwa itu terlihat sederhana jika hanya dilihat dari sumber masalahnya: persoalan metode pembayaran. Namun, justru di situlah persoalan pengendalian emosi menjadi menarik untuk direnungkan. Fasilitas kesehatan merupakan tempat yang penuh tekanan emosional. Pasien dapat berada dalam kondisi sakit, sementara keluarganya diliputi kecemasan, ketakutan, kelelahan, bahkan kepanikan. Di sisi lain, tenaga kesehatan juga bekerja dalam situasi yang menuntut ketelitian, kecepatan, dan tanggung jawab besar. Ketika dua kondisi penuh tekanan tersebut bertemu tanpa komunikasi dan pengendalian emosi yang baik, persoalan administratif yang sebenarnya dapat diselesaikan berpotensi berubah menjadi konflik.

Kejadian di Karangasem bukan satu-satunya contoh. Pada Juni 2025, video kemarahan keluarga pasien di RSUD Muna Barat, Sulawesi Tenggara, juga menjadi perhatian publik. Kemarahan tersebut dipicu oleh persoalan keterlambatan ambulans untuk merujuk pasien kecelakaan lalu lintas ke rumah sakit di Kendari. Dalam rekaman yang beredar, keluarga pasien terlihat meluapkan kemarahan, merusak fasilitas rumah sakit dengan membanting kursi, mengejar seorang petugas medis perempuan, dan mengeluarkan kata-kata kasar. Situasi tersebut menunjukkan bagaimana kecemasan terhadap kondisi anggota keluarga dapat berkembang menjadi tindakan agresif ketika emosi tidak lagi terkendali.

Dua peristiwa tersebut tidak seharusnya dipandang hanya dengan pertanyaan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Keluarga pasien tentu memiliki hak untuk mempertanyakan pelayanan yang dianggap tidak sesuai harapan. Ketika orang yang dicintai sedang sakit, keterlambatan pelayanan beberapa menit saja dapat terasa sangat lama. Namun, tenaga kesehatan juga memiliki hak untuk bekerja dengan aman tanpa ancaman, penghinaan, atau kekerasan. Kritik terhadap pelayanan tetap dapat disampaikan, tetapi kemarahan tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk melakukan tindakan yang merendahkan atau membahayakan orang lain.

Marah pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap orang dapat merasa kecewa, frustrasi, takut, atau diperlakukan tidak adil. Dalam kondisi tertentu, kemarahan bahkan dapat menjadi tanda bahwa seseorang peduli terhadap sesuatu. Persoalannya bukan pada munculnya rasa marah, melainkan pada cara seseorang mengekspresikannya. Ketika kemarahan mengambil alih kemampuan berpikir, seseorang dapat melakukan tindakan yang beberapa menit kemudian justru disesalinya.

Di sinilah anger management atau pengelolaan kemarahan menjadi penting. Mengelola kemarahan bukan berarti seseorang dilarang marah atau harus menerima semua keadaan tanpa memberikan kritik. Anger management justru mengajarkan seseorang untuk mengenali emosinya, memahami penyebabnya, kemudian menentukan respons yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Saya kecewa dan ingin mendapatkan penjelasan,” dengan membentak, menghina, merusak fasilitas, atau melakukan kekerasan. Keduanya sama-sama berangkat dari ketidakpuasan, tetapi menunjukkan tingkat pengendalian diri yang berbeda.

Dari perspektif humanisme, persoalan ini menjadi lebih luas daripada sekadar kemampuan mengendalikan amarah. Humanisme menempatkan manusia sebagai individu yang memiliki martabat dan layak diperlakukan dengan hormat. Pasien dan keluarganya adalah manusia yang membutuhkan pelayanan, perhatian, serta komunikasi yang baik. Pada saat yang sama, dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya juga manusia yang memiliki perasaan, keterbatasan, dan hak untuk mendapatkan rasa aman ketika menjalankan pekerjaannya. Hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati, bukan hubungan antara pihak yang merasa paling berkuasa dan pihak yang harus menerima segala bentuk perlakuan.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika konflik tersebut berpindah ke media sosial. Video yang hanya menampilkan beberapa menit kejadian sering kali tidak mampu menggambarkan keseluruhan persoalan. Namun, potongan tersebut dapat dengan cepat membentuk opini publik. Warganet kemudian berlomba menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, bahkan sebelum mengetahui konteks secara lengkap. Alih-alih menjadi ruang untuk memahami masalah, media sosial terkadang justru menjadi arena kemarahan baru ketika kemarahan orang dalam video dilanjutkan dengan kemarahan ribuan orang di kolom komentar.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya human literacy di tengah kemajuan teknologi. Human literacy bukan hanya kemampuan berinteraksi dengan manusia lain, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri, berempati, berkomunikasi, serta melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Teknologi memungkinkan kita merekam dan menyebarkan suatu kejadian dalam hitungan detik, tetapi human literacy mengajarkan kita untuk tidak menghakimi dalam hitungan detik. Kemampuan menggunakan teknologi seharusnya berkembang bersama kemampuan memahami manusia.

Menurut penulis, konflik antara keluarga pasien dan tenaga kesehatan juga memberikan pelajaran bahwa anger management perlu dimiliki oleh kedua belah pihak. Tenaga kesehatan perlu menjaga profesionalisme dan kemampuan berkomunikasi ketika menghadapi pasien atau keluarga yang sedang panik. Sebaliknya, pasien dan keluarga juga perlu memahami bahwa kemarahan, intimidasi, dan kekerasan bukanlah jalan untuk memperoleh pelayanan yang lebih baik. Ketika muncul ketidakpuasan, jalur pengaduan, komunikasi dengan penanggung jawab pelayanan, atau mekanisme resmi lainnya jauh lebih tepat daripada melampiaskan emosi kepada petugas.

Mengendalikan kemarahan memang tidak selalu mudah, terlebih ketika seseorang sedang menghadapi anggota keluarga yang sakit. Namun, ada hal sederhana yang dapat dilakukan sebelum bereaksi: berhenti sejenak, mengatur napas, memahami informasi yang diberikan, lalu menyampaikan keberatan dengan jelas. Jeda beberapa detik sebelum bertindak dapat menjadi pembatas antara penyelesaian masalah dan munculnya masalah baru. Kemampuan tersebut tidak menunjukkan kelemahan, tetapi justru memperlihatkan kematangan seseorang dalam menghadapi situasi yang sulit.

Pada akhirnya, kasus keluarga pasien yang marah kepada tenaga kesehatan bukan hanya cerita tentang konflik di sebuah fasilitas kesehatan. Fenomena tersebut merupakan cermin tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain ketika berada dalam tekanan. Kita boleh kecewa terhadap pelayanan, mempertanyakan keputusan, meminta penjelasan, bahkan menyampaikan kritik dengan tegas. Namun, semua itu tetap dapat dilakukan tanpa kehilangan empati dan penghormatan terhadap sesama.

Di tengah budaya viral yang membuat setiap tindakan dapat menjadi konsumsi publik, kemampuan mengelola kemarahan menjadi semakin penting. Teknologi dapat membuat sebuah kemarahan ditonton jutaan orang, tetapi teknologi tidak dapat mengajarkan kapan seseorang harus berhenti sebelum bertindak. Kemampuan itu tetap berasal dari kesadaran manusia sendiri. Sebab, menjadi manusia bukan berarti tidak pernah marah, melainkan mampu tetap menghargai manusia lain bahkan ketika sedang marah.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.