
Oleh: -Maryanto Mahasiswa Universitas Siber Asia-
JurnalPost.com – Bayangan kita terhadap era Society 5.0 sebenarnya indah banget, yaitu sebuah dunia di mana teknologi dan manusia hidup berdampingan dengan harmonis. Harapannya kecerdasan buatan (AI) dan data raksasa (big data) bisa membuat hidup kita lebih sejahtera. Tapi kalau kita melihat kenyataan di media sosial Indonesia sekarang, yang terjadi justru kebalikannya. Alih-alih menjadi masyarakat yang cerdas, kita malah terjebak dalam pusaran hoaks dan industri buzzer yang semakin masif.
Di sinilah letak krisisnya. Kalau kita pakai kacamata Estetika Humanisme (Human Literacy), manusia sekarang pelan-pelan cuma dianggap sebagai angka. Kita direduksi menjadi sekadar penyumbang traffic, komoditas data, dan mesin penggerak algoritma untuk kepentingan politik atau bisnis pihak tertentu. Oleh sebab itu, supaya tidak terus-menerus dimanipulasi, kita butuh cara berpikir yang lebih kritis dan empati yang kuat untuk mengambil alih kendali dari algoritma.
Fenomena disinformasi ini jelas bukan kebetulan atau kejadian alami. Ini adalah pekerjaan terstruktur dari ekosistem industri buzzer yang sengaja memanfaatkan celah algoritma demi cuan dan kekuasaan. Kalau ditelaah dari sisi ekonomi politik media, polanya kelihatan jelas, mereka menciptakan konten provokatif untuk memancing emosi kita. Tanpa sadar, kita jadi “buruh digital” sukarela yang ikut nyebarin narasi mereka karena terjebak bias informasi. Ujung-ujungnya, media sosial yang harusnya jadi tempat diskusi sehat malah berubah jadi ruang gema (echo chamber) yang membuat orang makin terkotak-kotak dan saling benci.
Dampaknya tidak cuma ke urusan politik, tapi juga ngerusak mental kita. Bayangkan, tiap hari diserbu informasi provokatif yang tidak ada habisnya. Wajar kalau banyak orang, terutama anak muda, ngalamin information fatigue alias kelelahan informasi. Stres dan cemas jadi makanan sehari-hari karena kita lebih ngejar validasi angka daripada interaksi yang tulus. Secara sosial, ini bahaya banget. Toleransi terkikis, dialog macet, dan kebersamaan kita sebagai bangsa yang majemuk jadi terancam retak gara-gara narasi “kami vs mereka” yang digoreng algoritma.
Terus, bagaimana cara melawannya? Belajar skill teknis digital saja tidak cukup. Kita butuh pendekatan yang lebih manusiawi, yaitu mengasah lagi Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau kemampuan berpikir kritis tingkat tinggi. Kita harus rajin nanya ke diri sendiri, ini berita benar atau tidak? Sumbernya terpercaya atau tidak?
Selain itu, penting sekali untuk mempraktikkan digital mindfulness. Intinya, jangan gampang “sumbu pendek”. Sebelum jempol klik share atau ngetik komentar pedas, berhenti sejenak dan sadari emosi kita. Secara kolektif, kita juga perlu yang namanya prebunking atau vaksinasi mental. Jadi, sebelum hoaks itu nyebar, kita sudah mengerti cara kerja dan pola manipulasinya supaya tidak mudah tertipu.
Pada akhirnya, perjalanan menuju era Society 5.0 jangan sampai membuat kita kehilangan kendali atas akal sehat. Melawan buzzer dan hoaks itu sebenarnya adalah perjuangan buat menjaga martabat kita sebagai manusia. Kita harus tetap berdaulat atas pikiran dan pilihan moral kita sendiri. Hanya dengan nalar yang tajam dan hati yang jernih, kita bisa menaklukan manipulasi digital dan membangun peradaban teknologi yang benar-benar memanusiakan manusia.
Daftar Pustaka
● Sugiono, S. (2020). Fenomena industri buzzer di Indonesia: Sebuah kajian ekonomi politik media. Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi.
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/cjik/article/download/7250/4180
● Amarya Christabella, Z. E. (2026). Ketika AI semakin pintar, apa yang membuat manusia tetap bernilai: Refleksi estetika humanisme di era artificial intelligence. Krajan.id.
● Mafindo. (2024). Literasi digital melawan hoaks pemilu 2024. Community Development Journal, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai.
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/download/24506/17426



