• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dear Parents, Jangan Sampai Terlewat Tanda Awal Ini!

Editor Redaksi
17 Juni 2026
in Artikel

JurnalPost.com – Setiap anak tumbuh dengan cara dan ritmenya masing-masing. Ada anak yang tampak sangat aktif, ada yang lebih pendiam, ada yang mengalami kesulitan berbicara, ada pula yang menunjukkan kemampuan jauh melampaui teman-teman seusianya. Perbedaan ini sering kali membuat orang tua bertanya-tanya: apakah kondisi wajar atau perlu perhatian lebih lanjut?

Dalam memahami perkembangan anak, hal yang penting bukanlah terburu-buru memberi label, melainkan mengenali tanda-tanda awal secara lebih peka dan bijak. Beberapa kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Gangguan Komunikasi, Emotional & Behavioral Disorder (EBD), autism spectrum disorder (ASD), serta keberbakatan dan talenta pada anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Orangtua dapat memberikan dukungan yang tepat sesuai kebutuhan anak jika mampu memahami kondisinya. Oleh karena itu, mengenali tanda awal menjadi langkah penting agar anak dapat tumbuh dengan lebih sehat, percaya diri, dan mendapatkan kesempatan berkembang sesuai potensinya.

Banyak orang tua bertanya-tanya apakah anak yang sangat aktif merupakan hal yang normal atau tanda ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Pada usia dini, beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain sulit fokus, mudah terdistraksi, sering tidak menyelesaikan tugas atau permainan, sangat aktif, serta kesulitan mengikuti instruksi sederhana. Anak juga dapat menunjukkan perilaku impulsif, seperti sulit menunggu giliran, sering memotong pembicaraan, dan bertindak tanpa berpikir panjang.Karakteristik anak dengan ADHD umumnya meliputi kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktif atau tidak bisa diam dalam waktu lama, serta impulsif dalam bertindak.

Mereka sering tampak pelupa, mudah kehilangan barang, dan kesulitan mengatur aktivitas sehari-hari sesuai usianya.Namun, tidak semua anak yang aktif memiliki ADHD. Orang tua perlu memperhatikan apakah perilaku tersebut muncul secara konsisten dalam berbagai situasi, berlangsung dalam waktu yang lama, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun interaksi sosial anak.Deteksi dini penting dilakukan agar orang tua dapat memahami kebutuhan perkembangan anak dan memberikan dukungan yang tepat. Jika terdapat kekhawatiran terhadap tumbuh kembang anak, konsultasikan dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.

“Ah, nanti juga bisa sendiri.”

Kalimat ini sering membuat orang tua menunda pemeriksaan ketika merasa ada yang berbeda dengan perkembangan komunikasi anak. Padahal, kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang bisa berbicara, tetapi juga memahami bahasa, menyampaikan ide, dan berinteraksi dengan orang lain. Gangguan komunikasi dapat mempengaruhi kemampuan anak untuk belajar, bersosialisasi, dan membangun rasa percaya diri. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda awalnya sejak dini.

Gangguan komunikasi tidak selalu terlihat dari anak yang terlambat bicara. Beberapa tanda berikut sering kali baru disadari setelah anak masuk sekolah:

– Anak sering frustasi saat berbicara : Anak tampak tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan menemukan kata yang tepat.
– Anak sering tidak dipahami orang lain : Bahkan setelah beberapa kali mengulang, lawan bicara masih kesulitan memahami maksudnya.
– Anak menggunakan kalimat yang sangat sederhana : Misalnya teman sebayanya sudah bercerita panjang, sementara anak masih menggunakan kalimat pendek dan terbatas.
– Anak kesulitan mengikuti instruksi : Sering tampak bingung ketika diberikan arahan sederhana atau bertahap.
– Anak mulai menghindari berbicara : Lebih memilih diam, menunjuk, atau meminta orang tua berbicara untuknya.

“Namanya juga anak-anak”.

Sering mendengar ungkapan ini? Ungkapan yang seringkali membuat orang tua atau pengasuh mengabaikan atau menganggap wajar kondisi emosi atau perilaku anak yang sebenarnya sudah melewati batas wajar. Padahal, mengenali tanda bahaya awal sangat krusial bagi tumbuh kembang anak. Emotional & Behavioral Disorder (EBD) bukan sekadar bentuk kenakalan biasa, melainkan kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam meregulasi emosi dan berperilaku. Untuk membedakannya dari fase perkembangan normal, orang tua wajib menyaring perilaku anak melalui tiga indikator utama, yaitu durasi (seberapa lama perilaku menetap), intensitas (seberapa parah), dan dampak (sejauh mana hal tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari serta hubungan pertemanannya).

Secara umum, manifestasi tanda awal EBD bisa sangat bervariasi, namun biasanya terbagi menjadi dua kecenderungan perilaku: eksternal dan internal. Perilaku eksternal seringkali tampak pada anak laki-laki, yaitu tindakan yang ditunjukkan secara terbuka lewat tindakan impulsif, tantrum, perilaku agresif/menyerang, berkata kasar, hingga tindakan merusak (vandalisme). Sebaliknya, perilaku internal seringkali tampak pada anak perempuan, dengan tindakan yang cenderung bersifat tersembunyi di dalam diri, seperti kecemasan berlebih, sikap pemalu dan penakut, rendah diri, sering menangis, merasa tidak dicintai, hingga munculnya gangguan psikosomatis seperti sakit kepala atau sakit perut.

Masyarakat tentunya pasti pernah mendengar istilah “autis” yang berkaitan dengan gangguan pada seorang anak. Namun, sebenarnya fakta yang lebih jelas tentang anak autis itu seperti apa, sih? Gangguan ini dikenal juga dengan sebutan autism spectrum disorder (ASD). ASD yang paling sering ditemukan adalah autistic disorder (autism) yang sudah sering didengar oleh masyarakat. Berikut adalah beberapa karakteristik spesifik anak yang memiliki autism.

● Kesulitan berinteraksi dengan orang lain, misalnya tidak langsung merespons atau memerhatikan lawan bicara
● Kesulitan berkomunikasi, misalnya dari segi penggunaan bahasa
● Cenderung mengulang perilaku atau kegiatan yang sama, misalnya mengulang kata-kata
● Symbolic & imaginative play
● Kurangnya respons sensori

Biasanya, tanda-tanda awal anak memiliki ASD dapat dikenali sejak dini pada usia 0-3 tahun. Gangguan-gangguan yang terlihat jelas utamanya mengacu pada masalah komunikasi, kemampuan sosial, gerakan tubuh, bahasa, dan sensitivitas terhadap benda atau lingkungan sekitar (objek dan sensori). Maka dari itu, karakteristik ASD secara umum dapat dilihat melalui tirad of social impairments, yaitu (1) kesulitan berinteraksi dengan orang lain, (2) berkomunikasi secara verbal atau nonverbal, serta (3) melakukan kegiatan, perilaku, atau rutinitas yang berulang. Identifikasi awal yang bisa dilakukan orang terdekat sebelum membawa anak ke pihak profesional dapat dilakukan dengan memeriksa apakah anak setidaknya memiliki 2 ciri atau lebih tanda-tanda ASD.

Anak berbakat adalah anak yang memiliki potensi atau dapat menunjukkan kemampuan jauh di atas rata-rata teman seusianya dalam bidang tertentu, seperti kemampuan akademik, kreativitas, seni, maupun keterampilan fisik. Kita dapat mengamati tanda-tandanya dari cara mereka berpikir dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Anak berbakat umumnya sangat penasaran terhadap banyak hal, mudah menyerap informasi baru, mampu melihat keterkaitan antara satu gagasan dan gagasan lain, serta kerap menemukan solusi dari suatu masalah dengan cara yang tak terduga. Pada beberapa anak, keberbakatan juga terlihat dari perkembangan bahasa yang lebih cepat, daya ingat yang tajam, sikap pantang menyerah saat mengerjakan sesuatu, ide yang terus mengalir, dan semangat untuk terus berkarya.

Orangtua dapat mendukung perkembangan anak berbakat dengan cara menciptakan suasana rumah yang kaya stimulasi, namun tetap hangat dan jauh dari tekanan. Ajak anak berdiskusi, luangkan waktu membaca bersama, perkenalkan permainan yang mengasah logika seperti puzzle, dan beri mereka ruang untuk bereksperimen, menggambar, bermusik, atau menggeluti aktivitas yang memang mereka minati. Ketika anak mulai masuk usia sekolah, tantangan bisa diperluas, misalnya melalui proyek sederhana, ajang lomba, portofolio karya, eksplorasi riset kecil-kecilan, atau kesempatan belajar langsung dari mentor yang ahli di bidang minat sang anak. Satu hal lagi perlu diingat oleh orangtua, dampingi anak dalam mengelola emosi, belajar bangkit dari kegagalan, dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Keberbakatan bukan sekadar soal kecerdasan atau kemampuan yang tinggi, melainkan tentang bagaimana seluruh potensi itu bisa tumbuh secara utuh dan seimbang dalam kehidupan anak.

Pada akhirnya, setiap anak membutuhkan ruang untuk dipahami sebelum dinilai. Perilaku yang tampak sederhana, seperti sulit fokus, terlambat berbicara, mudah marah, menarik diri, atau justru menunjukkan kemampuan yang sangat menonjol, dapat menjadi petunjuk penting tentang kebutuhan perkembangan anak. Oleh karena itu, orangtua perlu membangun kepekaan dalam mengamati anak secara konsisten, bukan hanya berdasarkan satu kejadian atau satu perilaku sesaat. Dukungan terbaik bagi anak dimulai dari sikap orang dewasa yang mau mendengarkan, mengamati, dan merespons dengan tepat. Bila tanda-tanda tertentu muncul secara menetap dan mulai mengganggu aktivitas belajar, relasi sosial, atau keseharian anak, berkonsultasi dengan tenaga profesional adalah langkah yang bijak. Deteksi dan pendampingan sejak dini bukan bertujuan untuk memberi cap pada anak, melainkan membantu mereka tumbuh sesuai kebutuhan, kekuatan, dan potensi terbaik yang dimilikinya.

Dibuat oleh :
– Anna Bella Biananta Khusnandi, S. Psi
– Abraham L. R. A. Suriadikusuma, S. Si (Teol.)
– Charoline Xessa, S. Psi
– Namira Permata Dharma Putri, S. Psi
– Sonia, S. Psi

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.