
JurnalPost.com – Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana seorang remaja tiba-tiba bisa berdebat soal keadilan, mempertanyakan aturan yang ada, atau bahkan merancang rencana besar untuk masa depannya? Padahal beberapa tahun sebelumnya, ia hanya bisa berpikir tentang hal-hal yang ada di depan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala mereka?
Jean Piaget, psikolog perkembangan asal Swiss yang kariernya membentang lebih dari enam dekade, punya jawabannya. Menurut Piaget, perkembangan cara berpikir manusia tidak hanya soal bertambahnya pengetahuan, melainkan soal perubahan kualitas berpikir itu sendiri. Dan puncak dari perjalanan panjang itu adalah apa yang ia sebut sebagai tahap operasional formal.
Empat Tahap Perkembangan Kognitif
Piaget membagi perkembangan kognitif manusia ke dalam empat tahap besar. Pertama, tahap sensorimotor (0–2 tahun), saat bayi memahami dunia melalui indra dan gerakan tubuhnya. Kedua, tahap praoperasional (2–7 tahun), ketika anak mulai menggunakan bahasa dan simbol, meski cara berpikirnya masih egosentris. Ketiga, tahap operasional konkret (7–11 tahun), saat anak mulai berpikir logis tetapi masih terbatas pada hal-hal nyata yang bisa dilihat dan diraba.
Keempat dan terakhir adalah tahap operasional formal, yang menjadi fokus tulisan ini. Inilah babak paling matang dari perjalanan kognitif manusia.
Apa Itu Tahap Operasional Formal?
Tahap operasional formal adalah fase terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget, yang umumnya mulai muncul saat seorang anak menginjak usia 11 hingga 12 tahun. Pada fase ini, kemampuan berpikir tidak lagi terbatas pada hal-hal konkret yang bisa disentuh atau dilihat langsung. Remaja mulai mampu berpikir secara abstrak, menggunakan logika untuk memecahkan masalah, serta merencanakan sesuatu secara sistematis.
Satu perbedaan mendasar antara pemikir operasional konkret dan operasional formal terletak pada cara mereka menyelesaikan masalah berbasis bahasa. Seorang pemikir operasional konkret memerlukan objek nyata A, B, dan C untuk sampai pada kesimpulan logis bahwa jika A = B dan B = C, maka A = C. Sementara itu, pemikir operasional formal sanggup menarik kesimpulan yang sama hanya dari deskripsi verbal, tanpa perlu melihat bendanya secara langsung.
Lebih dari itu, remaja pada tahap ini juga mulai mampu memeriksa, menilai, dan mengevaluasi pikiran atau tindakannya sendiri. Mereka tidak hanya berpikir mereka juga berpikir tentang cara mereka berpikir.
Tiga Pilar Pemikiran Operasional Formal
Para ahli mengidentifikasi tiga karakter khas dari cara berpikir di tahap ini:
- Pemikiran Abstrak
Remaja mulai gemar merenung dan memikirkan hal-hal yang tidak kasat mata, seperti keadilan, kebebasan, atau makna hidup. Mereka bahkan mulai memikirkan tentang pikiran mereka sendiri. Sebuah kemampuan yang disebut sebagai metakognisi oleh para psikolog. Bayangkan seorang remaja yang berkata, “Aku sedang berpikir kenapa aku memikirkan ini” itulah wujud nyata pemikiran abstrak yang sedang berkembang.
- Pemikiran Idealis
Beriringan dengan kemampuan berpikir abstrak, remaja juga mulai membayangkan gambaran ideal tentang dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka membandingkan orang tua mereka dengan sosok orang tua ideal, memimpikan karier sempurna, atau membayangkan dunia yang lebih adil. Inilah mengapa remaja sering terlihat penuh semangat sekaligus mudah kecewa, mereka hidup di antara harapan yang besar dan kenyataan yang belum selalu sejalan.
- Pemikiran Logis dan Hipotetis-Deduktif
Jika anak kecil cenderung menyelesaikan masalah dengan cara coba-coba (trial and error), remaja di tahap ini mulai merancang strategi yang lebih terstruktur. Mereka mengembangkan hipotesis, mempertimbangkan berbagai kemungkinan secara bersamaan, lalu secara sistematis menguji solusi terbaik. Kemampuan inilah yang membuat seorang remaja bisa menyusun argumen secara logis, bahkan untuk hal-hal yang belum pernah mereka alami secara langsung.
Fleksibel, Efektif, dan Kadang Egosentris
Individu yang telah mencapai tahap operasional formal memiliki apa yang Piaget sebut sebagai tingkat ekuilibrium yang tinggi, yaitu kemampuan untuk berpikir secara fleksibel sekaligus efektif. Fleksibel karena mereka bisa melihat berbagai kemungkinan dari sudut pandang yang berbeda. Efektif karena mereka mampu memilih pendekatan yang paling tepat untuk masalah yang sedang dihadapi.
Namun ada satu catatan penting, remaja di tahap ini kadang masih bersifat egosentris dalam cara berpikirnya. Bukan egosentris seperti anak kecil yang tidak bisa memahami perspektif orang lain, melainkan egosentris dalam arti terlalu yakin bahwa apa yang mereka pikirkan adalah kebenaran mutlak. Mereka bisa begitu yakin dengan ide-ide brilian mereka hingga lupa bahwa kenyataan di lapangan bisa jauh lebih kompleks.
Remaja Bukan Versi Mini Orang Dewasa
Salah satu pesan terpenting dari seluruh teori Piaget adalah anak-anak termasuk remaja bukan versi kecil dari orang dewasa. Mereka punya cara berpikir yang berbeda secara kualitas, bukan sekadar berbeda dalam hal jumlah pengetahuan yang dimiliki.
Menariknya, meski secara kualitas pemikiran remaja pada tahap operasional formal sudah setara dengan orang dewasa, secara kuantitas mereka masih kalah. Orang dewasa punya lebih banyak pengalaman dan skema berpikir yang lebih kaya, sehingga dalam praktiknya mereka tetap lebih bijak dalam menghadapi berbagai situasi.
Mengapa Ini Penting?
Memahami tahap operasional formal bukan hanya soal hafalan teori psikologi. Bagi orang tua, guru, atau siapa pun yang berinteraksi dengan remaja, pemahaman ini membuka cara pandang baru karena ketika seorang remaja tiba-tiba penuh pertanyaan, suka berdebat, atau terlihat idealis tanpa kompromi itu bukan tanda pemberontakan. Itu tanda bahwa pikiran mereka sedang berkembang pesat.
Di ruang kelas, pemahaman ini seharusnya mengubah cara kita mengajar. Guru yang tahu bahwa siswanya sudah mampu berpikir hipotetis tidak perlu terus-menerus menyuapi jawaban. Sebaliknya, lemparkan sebuah dilemma seperti, “Menurutmu, apakah kebijakan ini adil? Mengapa?” Biarkan mereka membangun argumennya sendiri. Atau coba minta mereka merancang solusi untuk masalah nyata di sekitar sekolah dari masalah sampah hingga jadwal pelajaran yang dianggap tidak efisien. Bukan karena hasilnya pasti sempurna, tapi karena proses merancang, menimbang, dan mempertahankan ide itulah yang justru melatih otaknya berkembang.
Kemampuan memahami proses berpikir diri sendiri yang mulai muncul di tahap ini juga bisa dimanfaatkan. Sesederhana meminta siswa menulis satu paragraf di akhir Pelajaran seperti, “Bagian mana yang paling sulit dipahami hari ini, dan kenapa?” Pertanyaan seperti itu mengajak mereka berpikir tentang cara mereka berpikir dan itu jauh lebih berharga dari sekadar mengisi lembar evaluasi biasa.
Piaget mengingatkan kita bahwa setiap tahap perkembangan memiliki caranya sendiri dalam memahami sesuatu. Alih-alih terburu-buru mendorong remaja untuk berpikir “seperti orang dewasa”, tugas kita yang sesungguhnya adalah menciptakan ruang belajar yang cukup luas untuk menampung rasa ingin tahu mereka, dan cukup nyaman untuk membiarkan proses itu berjalan tanpa tergesa bagi mereka untuk tumbuh sesuai dengan cara pikir mereka sendiri.
REFERENSI
Lida, U. M., & Zulaeha, I. (2017). Pola penalaran dalam karangan argumentasi pada siswa tahap operasi formal. Indonesian Language Education and Literature, 3(1), 45–52. https://doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1570
Maulana, A. (2024). Teori perkembangan kognitif Piaget pada tahap operasional formal. Al-Ahnaf: Journal of Islamic Education, Learning and Religious Studies, 1(1), 12–22. https://doi.org/10.61166/ahnaf.v1i1.9
Pramudiani, D., Andriani, A., & Ulivia, A. (2024). Psikologi belajar. PT Bukuloka Literasi Bangsa.
Santrock, J. W. (2007). Perkembangan anak (Jilid 1, Edisi ke-11, M. Rachmawati & A. Kuswanti, Penerj.). Erlangga.
Santrock, J. W. (2007). Remaja (Edisi ke-11, B. Widyasinta, Penerj.). Erlangga.
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi
Nama Penulis
1. Cut Syarifah Nur
2. Aryel Ande Nabil Rizky
2. Manuella Zara Klista
4. Zahirah Sabiya
Nama Dosen Pengampu
1. Ayu Ulivia, M.Pd.
2. Dessy Pramudiani
3. Annisa Andriani, M.Psi., Psikolog.
4. Azkya Milfa Laensadi, S.Psi., M.Si.



