
Oleh: Teresa Livia, Dani Davidsen, Varla Angelica Chandra, Willy Tasdin, M.Psi., Psikolog
JurnalPost.com – “Baru scroll TikTok sebentar, tapi kok rasanya jadi minder, ya?” Pertanyaan seperti ini mungkin sering dirasakan banyak orang, terutama remaja. Baru beberapa menit buka media sosial, terutama For You Page (FYP), sudah muncul berbagai konten tentang prestasi akademik, kemampuan public speaking, gaya hidup produktif, hingga pencapaian orang lain yang terlihat sempurna. Tanpa disadari, kita jadi mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Dari situ, muncul pikiran seperti, “Aku gak sepintar mereka,” “Aku gak seproduktif itu,” atau bahkan, “Kayaknya aku gak bisa deh.”
Pada kenyataannya, apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Namun, ketika terus-menerus melihat standar yang tinggi, seseorang bisa mulai meragukan kemampuan dirinya sendiri. Perasaan minder seperti ini berkaitan dengan self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri saat menghadapi tantangan. Konsep self-efficacy diperkenalkan oleh Albert Bandura, yang menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri sangat memengaruhi cara seseorang berpikir, bertindak, dan menghadapi kesulitan (Bandura, 1997). Individu dengan self-efficacy yang tinggi biasanya lebih berani mencoba hal baru, lebih tahan menghadapi kegagalan, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.
Sebaliknya, individu dengan self-efficacy yang rendah cenderung lebih mudah merasa takut gagal sebelum mencoba. Mereka sering kali langsung berpikir bahwa dirinya tidak mampu, sehingga memilih menghindari tantangan. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti pengalaman kegagalan, lingkungan yang kurang mendukung, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Penggunaan media sosial secara berlebihan ternyata dapat meningkatkan social comparison dan menurunkan keyakinan diri pada remaja maupun dewasa muda (Valkenburg et al., 2022). Akibatnya, seseorang menjadi lebih fokus pada kekurangan dirinya dibandingkan proses perkembangan yang sebenarnya sedang dijalani.
Coba perhatikan dua kalimat ini: “Aku gak bisa” dan “Aku belum bisa.” Sekilas terlihat mirip, tetapi sebenarnya memiliki makna yang sangat berbeda. Kalimat “aku gak bisa” biasanya muncul ketika seseorang langsung menutup kemungkinan dirinya untuk berkembang. Dengan pola pikir tersebut, dapat membuat individu merasa gagal. Sementara itu, kalimat “aku belum bisa” menunjukkan bahwa kemampuan masih dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Cara berpikir seperti ini dikenal sebagai growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan seseorang tidak bersifat tetap dan masih bisa ditingkatkan melalui usaha serta proses belajar (Dweck, 2006).
Dalam kehidupan sehari-hari, growth mindset bisa terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, ketika gagal memahami materi pelajaran, seseorang tidak langsung berkata, “Aku bodoh,” tetapi mencoba berpikir, “Mungkin aku masih perlu belajar lagi.” Mengubah cara berpikir seperti ini dapat membantu seseorang menjadi lebih percaya diri dan tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan. Growth mindset memiliki hubungan positif dengan self-efficacy dan kemampuan individu dalam menghadapi tekanan akademik maupun sosial (Zarrinabadi et al., 2021).
Self-efficacy sebenarnya dapat dilatih secara perlahan melalui kebiasaan sehari-hari. Tidak harus langsung melakukan hal besar. Mulai dari langkah kecil, seperti mencoba hal baru, berani berbicara saat presentasi, atau menyelesaikan tugas yang sebelumnya terasa sulit. Keberhasilan melalui tantangan kecil dapat meningkatkan keyakinan atas kemampuan diri seseorang. Menurut Bandura, pengalaman keberhasilan (mastery experience) merupakan salah satu sumber utama dalam pembentukan self-efficacy. Karena itu, penting untuk menghargai setiap proses dan pencapaian kecil yang berhasil dilakukan.
Selain usaha dari dalam diri sendiri, dukungan dari lingkungan sekitar juga punya pengaruh besar. Kadang, kalimat sederhana seperti “coba dulu aja,” “pelan-pelan juga bisa,” atau “aku percaya kamu mampu” bisa menjadi dorongan yang sangat berarti bagi seseorang. Lingkungan yang suportif membantu individu merasa lebih dihargai dan lebih percaya pada proses perkembangan dirinya. Sebaliknya, lingkungan yang penuh tuntutan dan perbandingan justru dapat membuat seseorang semakin ragu terhadap dirinya sendiri.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki proses berkembang yang berbeda-beda. Tidak semua hal harus langsung berhasil dalam sekali coba. Kemampuan bukan sesuatu yang langsung sempurna sejak awal, tetapi sesuatu yang berkembang melalui proses belajar, pengalaman, dan keberanian untuk mencoba lagi. Jadi, saat pikiran “aku gak bisa” mulai muncul, mungkin kita belum benar-benar gagal, kita hanya masih berada dalam proses belajar. Kemampuan bukan soal siapa yang langsung hebat, tetapi siapa yang terus berani mencoba.
REFERENSI
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: W.H. Freeman.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.
Valkenburg, P. M., Meier, A., & Beyens, I. (2022). Social media use and its impact on adolescent mental health: An umbrella review of the evidence. Current Opinion in Psychology, 44, 58–68. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.08.017
Zarrinabadi, N., Ketabi, S., & Abdi, R. (2021). The relationship between growth mindset, self-efficacy, and academic achievement. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 15, 2406–2410. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.03.180



