
Oleh : Muhamad Alief Rasya
JurnalPost.com – Perasaan tidak aman atau insecure merupakan sebuah kondisi psikologis yang jamak ditemukan, terutama dalam fase kehidupan mahasiswa. Pada masa ini, individu dihadapkan pada eskalasi tuntutan yang kompleks, mulai dari standar akademik yang tinggi hingga dinamika interaksi sosial yang menantang.
Kecenderungan untuk melakukan komparasi sosial sering kali menjadi pemicu munculnya perasaan inferioritas, di mana seseorang merasa tidak cukup kompeten atau tertinggal dibandingkan rekan sebaya.
Secara konseptual, insecure manifestasi dari keraguan terhadap kapasitas diri sendiri. Dalam ekosistem perkuliahan yang kompetitif, perasaan ini kerap muncul ketika seseorang merasa kekurangan dalam aspek intelektual, estetika fisik, maupun pencapaian prestasi.
Salah satu penyebab fundamentalnya adalah kebiasaan membandingkan hasil akhir orang lain tanpa mempertimbangkan proses panjang yang mereka lalui. Hal ini diperburuk oleh pengaruh media sosial yang cenderung hanya menampilkan sisi idealitas hidup, sehingga menciptakan standar semu yang memicu ketidakpuasan terhadap realitas diri sendiri.
Dampak dari rasa insecure yang berkepanjangan tidak boleh dipandang sebelah mata. Kondisi ini dapat memicu kecemasan yang intens, penurunan efikasi diri, hingga kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial (isolasi). Dalam ranah akademik, mahasiswa yang terjebak dalam rasa tidak percaya diri akan kehilangan motivasi belajar serta keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, yang pada akhirnya menghambat potensi pengembangan diri mereka.
Langkah krusial untuk mengatasi ketidakpercayaan diri adalah dengan mengupayakan penerimaan diri (self-acceptance). Mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap individu memiliki spektrum kelebihan dan kekurangan yang unik, serta garis waktu kesuksesan yang berbeda. Langkah preventif seperti membatasi konsumsi media sosial, berfokus pada progres personal, serta mencari dukungan dari lingkungan sosial yang positif sangat disarankan untuk mereduksi perasaan negatif tersebut.
Sebagai simpulan, meskipun insecure adalah respons emosional yang wajar, kondisi ini tidak boleh dibiarkan mendominasi kehidupan mahasiswa. Dengan pemahaman yang mendalam mengenai penyebab dan implikasinya, mahasiswa dapat mentransformasi rasa tidak percaya diri tersebut menjadi katalisator positif untuk terus berkembang. Penerimaan diri yang tulus akan membuka jalan bagi setiap individu untuk mencapai versi terbaik tanpa harus terbebani oleh standar orang lain.



