• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika LCC 4 Pilar Menjadi Pembuka Cermin Budaya Ketidakadilan

Editor Redaksi
15 Mei 2026
in Kolom Opini

dr. Tedy Hartono , SH ,MCS

JurnalPost.com – Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR sejatinya hadir sebagai ruang pendidikan kebangsaan untuk menanamkan nilai luhur Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda. Kompetisi ini seharusnya menjadi tempat lahirnya karakter jujur, sportif, kritis, dan berintegritas. Namun ironisnya, di tengah semangat membangun moral bangsa, justru muncul berbagai fenomena yang mencerminkan budaya ketidakadilan yang telah lama hidup di masyarakat.

Persoalan yang terjadi bukan sekadar soal menang atau kalah. Yang menjadi masalah adalah ketika proses dipenuhi kontroversi, keputusan dipertanyakan, dan kritik dianggap ancaman. Dalam beberapa situasi, peserta yang telah berjuang keras merasa dikalahkan bukan oleh kemampuan, melainkan oleh subjektivitas, ego kelompok, atau kepentingan tertentu. Situasi ini menciptakan luka moral yang jauh lebih besar daripada sekadar kekalahan lomba. Anak-anak belajar bahwa sistem tidak selalu berpihak pada kejujuran.

Padahal tujuan besar LCC 4 Pilar bukan hanya mencari siswa paling pintar, tetapi membentuk generasi yang mampu menghormati keadilan dan menjunjung nilai kebangsaan. Ketika ajang pendidikan justru memperlihatkan praktik yang dianggap tidak sehat, maka pesan moral yang diterima peserta menjadi kabur. Mereka dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa kemenangan lebih dekat dengan kekuasaan dan kedekatan daripada integritas dan kemampuan.

Dalam ilmu psikologi perkembangan, anak dan remaja berprestasi memiliki sensitivitas tinggi terhadap penghargaan, pengakuan, dan rasa keadilan. Perlakuan yang dianggap tidak objektif dapat memunculkan rasa kecewa mendalam, hilangnya kepercayaan terhadap sistem, bahkan membentuk pola pikir sinis terhadap nilai kejujuran. Anak yang terus melihat ketidakadilan dibiarkan akan beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Mereka belajar bahwa bertahan hidup lebih penting daripada menjaga moralitas.

Dari sudut pandang ilmu jiwa, sikap dewan juri maupun tim yang tetap mempertahankan ego pribadi dan kelompok dapat dijelaskan melalui teori ego defense mechanism dari Sigmund Freud yang kemudian dikembangkan oleh Anna Freud. Mekanisme ini membuat individu cenderung menolak kenyataan yang mengancam harga diri dan reputasinya. Selain itu, fenomena groupthink yang diperkenalkan oleh Irving Janis menjelaskan bagaimana sebuah kelompok dapat mempertahankan keputusan yang keliru demi menjaga solidaritas dan citra bersama. Dalam kondisi tersebut, kritik dianggap ancaman, evaluasi dipersepsikan sebagai serangan, dan objektivitas dikalahkan oleh loyalitas kelompok. Fenomena ini juga berkorelasi dengan teori social learning dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak-anak belajar perilaku melalui pengamatan terhadap lingkungan. Ketika mereka melihat ketidakadilan dibela dan dipertahankan oleh orang dewasa, maka perilaku tersebut perlahan dianggap normal dan layak ditiru.

Masalahnya, kebiasaan seperti ini tidak berhenti di ruang lomba. Inilah bentuk normalisasi ketidakadilan yang perlahan menjadi budaya. Anak-anak yang terbiasa melihat ketidakjujuran dibela akan tumbuh menjadi generasi yang menganggap manipulasi sebagai sesuatu yang wajar. Dalam skala lebih luas, pola pikir seperti inilah yang akhirnya menjalar ke birokrasi, lembaga pendidikan, hingga pemerintahan. Ketidakmampuan menerima kritik, budaya saling melindungi kelompok, dan pembenaran terhadap kesalahan adalah bibit lahirnya krisis moral bangsa.
Bangsa tidak hancur dalam satu malam. Kerusakan besar selalu dimulai dari pembiaran terhadap kesalahan kecil yang terus diulang dan diwariskan. Ketika ketidakadilan dianggap biasa, maka masyarakat perlahan kehilangan sensitivitas moralnya. Yang paling berbahaya bukanlah satu keputusan yang salah, melainkan lahirnya generasi yang percaya bahwa kejujuran tidak lagi memiliki nilai.

Namun harapan belum sepenuhnya hilang. Perubahan masih mungkin dilakukan apabila semua pihak berani melakukan evaluasi jujur. Dewan juri harus menjunjung transparansi dan profesionalitas. Institusi pendidikan perlu menanamkan bahwa kalah dengan terhormat jauh lebih bermartabat daripada menang dengan keraguan moral. Anak-anak harus diajarkan bahwa karakter adalah kemenangan tertinggi dalam setiap kompetisi.

Fenomena ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kebangsaan. Jangan sampai LCC 4 Pilar yang membawa nama nilai luhur bangsa justru berubah menjadi cermin budaya ketidakadilan. Sebab masa depan negara tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan generasinya, tetapi oleh keberanian mereka mempertahankan kejujuran di tengah tekanan kepentingan dan ego kelompok.

Penulis adalah :
Anggota Tim Analisis IKAL Lemhanas
Pemerhati Maslah Kesehatan dan Sosial

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.