
Penulis: Arina Damala (Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya)
JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital di era Society 5.0 ini membawa perubahan yang cukup besar bagi sistem komunikasi di Indonesia. Perubahan ini tidak selalu terlihat dari bagaimana masyarakat dapat menerima informasi secara cepat, melainkan dari cara bagaimana masyarakat Indonesia mampu memproduksi dan menerima sebuah pesan yang tersebar di media sosial dan internet. Dalam pandangan Arina Damala, mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, perkembangan era digital ini membawa peluang yang besar dan juga membawa tantangan yang besar pula bagi sistem komunikasi di Indonesia.
Salah satu tantangan utama dalam sistem komunikasi di era digital 5.0 sekarang ini yaitu dengan mudahnya penyebaran informasi secara luas dan tidak terkendali. Media sosial secara mungkin memberikan akses kepada siapa saja untuk memproduksi sebuah informasi tanpa melalui proses penyaringan. Dengan adanya hal tersebut, hoaks dan disinformasi secara mudah menyebar di masyarakat luas. Hal ini menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi opini publik, bahkan dapat memunculkan konflik sosial.
Tidak hanya itu, kesenjangan digital juga masih menjadi salah satu masalah digital yang ada di Indonesia. Hal tersebut menjadi tantangan besar dikarenakan tidak semua wilayah di Indonesia memiliki akses internet yang berkualitas dan cepat, sehingga masyarakat di daerah terpencil atau pedesaan seringkali tertinggal dalam mendapatkan atau mengakses sebuah informasi. Kondisi ini dapat menciptakan ketimpangan informasi dalam sistem komunikasi di Indonesia.
Di sisi lain, kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi fenomena baru yang juga dapat memengaruhi sistem komunikasi di Indonesia. AI mampu membantu manusia dalam berbagai hal, seperti pembuatan konten hingga analisis data. Namun, secara tidak langsung penggunaan AI juga dapat menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat Indonesia terkait penyebaran informasi. Contohnya seperti berpotensi untuk memanipulasi informasi melalui deepfake atau konten buatan yang sulit dibedakan dengan konten yang asli. Sehingga masyarakat yang belum ‘melek’ digital seringkali mempercayai konten AI tersebut khususnya orang-orang yang sudah berumur.
Dalam pembelajaran mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia di Universitas 17 Agustus 1945 yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., mahasiswa diajak untuk memahami bahwa sistem komunikasi yang ada di Indonesia tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga berkaitan dengan budaya, etika, dan tanggung jawab sosial yang ada.
Di masa yang akan datang, sistem komunikasi Indonesia diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa harus kehilangan nilai-nilai lokal dan budaya bangsa. Keterlibatan pemerintah, akademisi, dan masyarakat bisa menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan tersebut.
Dengan berbagai tantangan yang ada, era digital tetap memberikan harapan besar bagi masa depan komunikasi di Indonesia. Jika dikelola dengan baik, teknologi digital maupun AI dapat menjadi alat untuk memperkuat konektivitas, meningkatkan kualitas informasi, bahkan mendorong kemajuan sosial. Sistem komunikasi Indonesia tidak hanya harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai untuk membangun masyarakat yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab.



