• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

BPJS: Ilusi Keadilan yang Dibayar Mahal oleh Dokter dan Tenaga Kesehatan

Editor Redaksi
5 Mei 2026
in Kolom Opini

BPJS Ilusi Keadilan

Oleh : dr. Tedy Hartono , SH , MCS

JurnalPost.com – BPJS Kesehatan sering dirayakan sebagai simbol keberhasilan negara dalam menjamin akses layanan kesehatan. Jutaan rakyat bisa berobat tanpa biaya besar. Ini terlihat seperti kemenangan sosial. Tapi ada satu pertanyaan yang sengaja dihindari: siapa yang sebenarnya membayar harga dari sistem ini?

Jawabannya jelas dan pahit: dokter, tenaga kesehatan, dan fasilitas kesehatan.
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dibangun dengan semangat keadilan. Namun dalam praktiknya, keadilan itu tidak dibagi melainkan dipindahkan. Negara meringankan beban pasien, tetapi memindahkan tekanan ke penyedia layanan.

Dan ini bukan asumsi. Ini fakta.
Tarif INA-CBGs terbukti sering tidak sesuai biaya riil layanan. Bahkan pemerintah sendiri mengakui perlunya revisi tarif BPJS karena terlalu rendah. Di lapangan, dokter dibayar ribuan rupiah per pasien angka yang secara logika profesional sulit diterima. Sistem ini berjalan dengan satu prinsip diam-diam: tekan biaya, apa pun konsekuensinya.

Masalahnya, kesehatan bukan industri murah.
Bandingkan dengan negara lain.
Di Jerman, sistem asuransi sosial (social health insurance) justru membangun keseimbangan antara akses, kualitas, dan kesejahteraan tenaga medis. Negara ini mengalokasikan 12,3% dari GDP untuk kesehatan, jauh di atas rata-rata OECD . Jumlah dokter mencapai 4,7 per 1.000 penduduk, lebih tinggi dari rata-rata OECD . Artinya: negara tidak hanya menjamin pasien—tetapi juga memastikan tenaga medis cukup dan sejahtera.

Di Inggris melalui sistem NHS, layanan kesehatan memang gratis di titik pelayanan, tetapi tetap didukung pembiayaan besar negara, sekitar 11,1% dari GDP . Bahkan sistem ini dikenal efisien dan melindungi masyarakat dari biaya kesehatan yang “katastropik” tanpa harus meruntuhkan profesi medis.

Sementara itu di Amerika Serikat, sistemnya justru ekstrem sebaliknya: biaya sangat tinggi (hingga 17% GDP), tetapi hasil kesehatan tidak lebih baik dibanding negara lain . Ini membuktikan satu hal penting: biaya besar saja tidak cukup yang dibutuhkan adalah desain sistem yang adil dan seimbang.
Kesimpulannya jelas:

Negara maju tidak membangun sistem kesehatan dengan menekan tenaga medis. Mereka berinvestasi besar, menjaga keseimbangan, dan memastikan profesi medis tetap bernilai tinggi.
Indonesia justru mengambil jalur sebaliknya.

Di sini, ada tujuh jebakan nyata:

1. Tarif rendah yang tidak realistis
2. Jasa medis terdegradasi
3. Beban administrasi tinggi
4. Ketergantungan total fasyankes
5. Tekanan efisiensi → pelayanan minimalis
6. Gangguan cash flow
7. Penurunan kualitas layanan jangka panjang

Jika ini terus berlanjut, krisis bukan lagi kemungkinan tetapi kepastian.
Negara lain menghadapi tantangan dengan meningkatkan investasi kesehatan. Kita justru menekan biaya. Negara lain memperkuat tenaga medis. Kita melemahkannya. Negara lain menjaga kualitas. Kita mempertaruhkan masa depan.

Ini bukan sekadar kesalahan kebijakan.
Ini adalah kesalahan arah.

Prediksi ke depan sangat jelas:
• Brain drain tenaga medis meningkat
• Minat menjadi dokter menurun
• Kualitas layanan tergerus
• Sistem tetap berjalan tapi kosong dari kualitas

Dan ketika itu terjadi, rakyat yang hari ini “terlindungi” justru akan menjadi korban berikutnya.
Solusinya tidak bisa tambal sulam.

Reformasi SJSN dan BPJS harus berani dan total:
• Tarif harus berbasis biaya riil
• Sistem klaim harus dipangkas drastis
• Pembiayaan harus diperluas (tidak single payer rigid)
• Organisasi profesi harus dilibatkan nyata
• Negara harus menetapkan standar kesejahteraan tenaga medis
Y
ang paling penting: ubah cara pandang.
Tenaga medis bukan beban biaya. Mereka adalah fondasi sistem.
Karena satu kebenaran tidak bisa disangkal:
Negara maju menjaga dokternya.
Negara berkembang mengeksploitasinya.
Indonesia mau berada di sisi yang mana?

Penulis adalah :
Anggota Tim Analisis IKAL Lemhanas
Pemerhati Masalah Kesehatan

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.