
Oleh Ahnaf Naufal Maraghy Ipol Mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya
JurnalPost.com – Air Terjun Tumpak Sewu merupakan salah satu destinasi wisata alam yang sangat terkenal di Indonesia. Keindahan air terjun ini mampu menarik banyak wisatawan dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara. Pemandangan alam yang indah, udara yang sejuk, serta pengalaman wisata yang menarik membuat tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit bagi para pengunjung.
Namun, di balik keindahannya, masih ada keluhan dari wisatawan mengenai adanya pungutan liar atau pungli yang dianggap berlebihan. Banyak pengunjung merasa harus mengeluarkan biaya tambahan di luar tiket resmi, seperti biaya parkir yang tidak jelas, pungutan saat masuk jalur tertentu, hingga biaya lain yang kadang tidak memiliki penjelasan resmi. Hal ini tentu menimbulkan rasa tidak nyaman bagi wisatawan.
Masalah pungli ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam pengelolaan pariwisata masih perlu diperbaiki. Wisatawan membutuhkan informasi yang jelas mengenai harga tiket, biaya parkir, biaya jasa pemandu, dan aturan lainnya. Jika informasi tidak disampaikan secara terbuka, maka akan muncul kebingungan dan kecurigaan dari pengunjung. Ketika wisatawan merasa tidak mendapatkan kejelasan, kepercayaan mereka terhadap tempat wisata tersebut akan menurun.
Komunikasi antara pengelola wisata, masyarakat sekitar, dan pemerintah daerah sangat penting untuk mengatasi masalah ini. Pengelola harus memberikan papan informasi yang jelas mengenai tarif resmi agar wisatawan tidak merasa dirugikan. Selain itu, masyarakat sekitar juga perlu diberikan pemahaman bahwa menjaga kenyamanan wisatawan jauh lebih penting untuk keberlangsungan pariwisata jangka panjang.
Menurut saya, pungli dalam tempat wisata bukan hanya soal uang tambahan, tetapi juga soal rusaknya citra pariwisata itu sendiri. Wisatawan datang untuk mencari pengalaman yang menyenangkan, bukan justru merasa diperas dengan biaya-biaya yang tidak jelas. Jika praktik seperti ini terus dibiarkan, wisatawan akan kehilangan kepercayaan dan memilih destinasi lain yang lebih nyaman dan transparan.
Saya juga berpendapat bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah destinasi wisata. Pelayanan yang baik, kejujuran, dan keterbukaan informasi jauh lebih penting dalam membangun kesan positif. Banyak tempat wisata yang indah akhirnya kehilangan pengunjung bukan karena alamnya berubah, tetapi karena pengelolaannya buruk dan wisatawan merasa kecewa.
Jika pungli terus terjadi, citra wisata Air Terjun Tumpak Sewu bisa menjadi buruk. Wisatawan yang merasa kecewa biasanya akan membagikan pengalaman mereka melalui media sosial. Hal ini dapat membuat calon wisatawan lain menjadi ragu untuk berkunjung. Padahal, promosi terbaik dalam pariwisata sering kali datang dari pengalaman positif pengunjung itu sendiri.
Menurut saya, pemerintah daerah harus lebih tegas dalam mengawasi pengelolaan wisata agar praktik pungli tidak terus berulang. Transparansi biaya harus menjadi prioritas utama. Selain itu, petugas wisata juga perlu dilatih untuk memberikan pelayanan yang ramah, jujur, dan profesional agar wisatawan merasa aman dan nyaman. Pemerintah juga seharusnya membuka ruang pengaduan yang mudah diakses agar wisatawan bisa melaporkan jika menemukan pungli secara langsung.
Kesimpulannya, Air Terjun Tumpak Sewu memiliki potensi wisata yang sangat besar, tetapi masalah pungli dapat merusak pengalaman wisatawan dan menurunkan citra destinasi tersebut. Komunikasi yang baik, transparansi biaya, serta kerja sama antara pemerintah, pengelola, dan masyarakat menjadi kunci penting untuk menjaga kualitas pariwisata. Dengan pengelolaan yang lebih baik, Tumpak Sewu dapat tetap menjadi destinasi wisata unggulan yang memberikan kesan positif bagi setiap pengunjung.



