
Oleh: Shalom Lincoln Manik
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A
JurnalPost.com – Banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia memberikan dampak positif bagi perkembangan industri pariwisata. Tidak hanya wisata alam, tetapi juga banyak wisata yang dikembangkan langsung oleh masyarakat setempat. Salah satu contohnya adalah Kampung Lali Gadget yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tempat ini merupakan wisata edukasi yang cukup unik karena mengusung konsep “wisata tanpa gadget”. Konsep ini muncul sebagai respon terhadap semakin tingginya ketergantungan masyarakat, terutama anak-anak, terhadap perangkat digital. Akibatnya, banyak anak yang mulai jarang bermain permainan tradisional seperti dulu.
Kampung Lali Gadget tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarat dengan nilai komunikasi di dalam pengelolaannya. Salah satu bentuk komunikasi yang paling terlihat adalah komunikasi interpersonal. Di tempat ini, interaksi antara pengelola, fasilitator, dan pengunjung terjadi secara langsung tanpa jarak yang kaku. Anak-anak dan orang tua tidak hanya menerima informasi secara satu arah, tetapi ikut terlibat dalam berbagai aktivitas seperti permainan tradisional, kegiatan kelompok, hingga outbond sederhana. Dengan cara seperti ini, pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih mudah dipahami karena tidak hanya dijelaskan, tetapi juga dialami langsung oleh pengunjung.
Selain komunikasi interpersonal, Kampung Lali Gadget juga menerapkan komunikasi berbasis pengalaman. Setiap kegiatan yang dirancang memiliki tujuan tertentu, misalnya melatih kerja sama, keberanian, dan kreativitas anak-anak. Permainan tradisional seperti gobak sodor, egrang, dan bakiak bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda. Menurut saya, pendekatan seperti ini cukup efektif karena anak-anak belajar sambil bermain, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diingat dibandingkan hanya melalui ceramah atau penjelasan saja.
Dari sisi promosi, destinasi ini juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi massa. Pengelola aktif menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk memperkenalkan berbagai aktivitas yang ada di Kampung Lali Gadget. Konten yang dibagikan biasanya berupa video kegiatan anak-anak, suasana permainan, hingga pesan edukasi tentang pentingnya mengurangi penggunaan gadget. Strategi komunikasi ini terbukti cukup efektif dalam menarik perhatian masyarakat, terutama keluarga muda di perkotaan yang mencari wisata edukatif untuk anak-anak mereka.
Selain itu, terdapat juga komunikasi partisipatif yang melibatkan masyarakat sekitar. Warga lokal yang ikut berperan sebagai fasilitator, penyedia makanan, hingga pendukung kegiatan wisata. Hal ini membuat hubungan antara pengelola dan masyarakat menjadi lebih erat dan saling menguntungkan. Tidak hanya pengunjung yang mendapatkan pengalaman edukatif, tetapi masyarakat sekitar juga memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan wisata ini. Dengan adanya keterlibatan ini, komunikasi tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi juga dua arah antara pengelola dan masyarakat.
Dalam aspek lain, Kampung Lali Gadget juga berperan dalam membangun kesadaran wisatawan tentang pentingnya interaksi sosial dan pelestarian budaya. Pengunjung diberikan pemahaman bahwa tidak semua hal harus bergantung pada gadget, dan bahwa permainan tradisional masih memiliki nilai yang sangat penting. Pesan ini disampaikan melalui briefing sebelum kegiatan, arahan fasilitator, serta pengalaman langsung selama kegiatan berlangsung.
Secara keseluruhan, Kampung Lali Gadget menunjukkan bahwa komunikasi dalam industri pariwisata memiliki peran yang sangat penting dan luas. Tidak hanya sebagai alat promosi, tetapi juga sebagai sarana edukasi, interaksi sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kombinasi antara komunikasi interpersonal, media digital, dan partisipasi masyarakat membuat destinasi ini menjadi salah satu contoh penerapan komunikasi pariwisata yang cukup berhasil di Jawa Timur. Selain memberikan hiburan, tempat ini juga memberikan nilai pembelajaran yang bisa dirasakan langsung oleh para pengunjung.



