• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Menghilang Tanpa Kata: Normal atau Tidak Berperasaan?

Editor Redaksi
3 Mei 2026
in Kolom Opini
Tanpa Kata
sumber: https://www.istockphoto.com/id/vektor/hantu-kartun-lucu-ghosting-pesan-obrolan-yang-belum-dibaca-di-smartphone-ilustrasi-gm2208059508-625259387

Oleh: Mariska Lestari

JurnalPost.com – Di tengah gaya komunikasi yang serba cepat dan instan, satu kebiasaan yang semakin sering terjadi adalah menghilang tanpa penjelasan, atau yang dikenal sebagai *ghosting*. Fenomena ini cukup umum di kalangan Gen Z, terutama dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. Awalnya intens, saling berbagi cerita, bahkan terasa dekat. Namun tiba-tiba semuanya berhenti—tanpa alasan, tanpa penutup.

Pertanyaannya, apakah ini sudah menjadi hal yang normal? Ataukah justru tanda bahwa kita mulai kehilangan empati?

Banyak orang menganggap ghosting sebagai sesuatu yang biasa. Di era digital, hubungan sering dimulai dari layar: cepat, ringan, dan terasa tidak terlalu mengikat. Akibatnya, ketika perasaan berubah atau ketertarikan memudar, sebagian orang merasa tidak perlu memberi penjelasan. Cukup diam, lalu pergi.

Di sisi lain, ada faktor kenyamanan diri. Tidak semua orang siap menghadapi percakapan yang canggung atau berpotensi melukai. Mengatakan “aku tidak tertarik lagi” atau “kita tidak cocok” memang bisa terasa berat. Karena itu, menghilang dianggap sebagai jalan paling aman—setidaknya bagi pihak yang pergi.

Namun, bagi yang ditinggalkan, ceritanya berbeda.

Menghilang tanpa kata sering meninggalkan luka yang tak terlihat. Bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan kejelasan. Muncul banyak pertanyaan yang tak terjawab: “Aku salah apa?”, “Kenapa berubah?”, atau “Apa semuanya hanya sementara?” Ketidakpastian ini dapat memicu overthinking dan rasa tidak dihargai.

Di titik inilah ghosting tampak bukan sekadar kebiasaan, melainkan persoalan empati.

Sebab komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan hal yang nyaman bagi diri sendiri, tetapi juga mempertimbangkan perasaan orang lain. Menghilang tanpa penjelasan lebih sering menjadi bentuk penghindaran daripada penyelesaian. Jika terus dianggap wajar, kebiasaan ini perlahan dapat membentuk budaya hubungan yang dangkal dan minim tanggung jawab.

Meski begitu, tidak semua ghosting bisa disamaratakan.

Ada situasi tertentu ketika menghilang justru menjadi pilihan yang lebih sehat, misalnya saat menghadapi hubungan yang toxic, manipulatif, atau mengganggu kesehatan emosional. Dalam kondisi seperti ini, menjaga jarak tanpa banyak penjelasan bisa menjadi bentuk perlindungan diri.

Jadi, normal atau tidak berperasaan?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Ghosting mungkin terasa normal karena sering terjadi, tetapi bukan berarti selalu benar. Sesuatu yang umum belum tentu pantas dibenarkan.

Di tengah dunia yang serba cepat, kita mungkin mulai terbiasa dengan hal-hal instan, termasuk dalam hubungan. Padahal di balik setiap chat, panggilan, dan interaksi, selalu ada manusia dengan perasaan yang nyata.

Karena itu, sebelum memilih menghilang, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: apakah diam adalah cara terbaik, atau hanya cara termudah?

Sebab terkadang, satu kalimat jujur jauh lebih berarti daripada seribu keheningan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.