• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dilema Profesi Dokter di Hari Buruh , Antara Pengabdian dan Eksploitasi Sistem

Editor Redaksi
1 Mei 2026
in Kolom Opini

Oleh Tedy Hartono , SH , MCS

JurnalPost.com – Setiap 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebuah tonggak sejarah perjuangan kelas pekerja melawan ketidakadilan sistem kerja. Akar peringatan ini berasal dari tragedi Haymarket Affair di Chicago tahun 1886, ketika buruh menuntut hak dasar: delapan jam kerja, delapan jam istirahat, dan delapan jam untuk kehidupan. Tuntutan sederhana itu dibayar mahal dengan darah, namun akhirnya mengubah wajah dunia kerja modern.

Lebih dari satu abad kemudian, semangat itu masih relevan. Buruh kini menikmati berbagai perlindungan: upah minimum, jaminan sosial, regulasi jam kerja, hingga perlindungan hukum. Namun, di tengah kemajuan tersebut, ada satu profesi yang justru terjebak dalam paradoks yaitu dokter.

Di Indonesia, dokter tidak pernah diposisikan sebagai buruh. Mereka disebut profesional, dianggap memiliki otonomi, bahkan diasumsikan mapan secara ekonomi. Namun realitasnya, dalam ekosistem layanan kesehatan modern , terutama sejak dominasi sistem BPJS Kesehatan dokter justru semakin kehilangan kemandiriannya. Tarif layanan ditentukan sepihak, beban kerja meningkat drastis, dan ruang negosiasi hampir nihil.

Dokter bekerja dalam jam panjang, menghadapi tekanan klinis dan administratif yang berat, tetapi tidak memiliki perlindungan layaknya buruh formal. Tidak ada standar upah minimum profesi yang jelas, tidak ada jaminan keseimbangan beban kerja, dan sering kali tidak ada posisi tawar dalam menentukan nilai jasa mereka sendiri. Ini bukan lagi sekadar pengabdian—ini adalah bentuk eksploitasi yang dilegalkan oleh sistem.

Masalah utamanya bukan hanya pada kebijakan, tetapi juga pada kesadaran profesi itu sendiri. Banyak dokter masih terjebak dalam romantisme “profesi mulia”, sehingga enggan melihat diri sebagai bagian dari pekerja dalam industri kesehatan. Padahal, industri ini kini bergerak dengan logika efisiensi dan cost-control, bukan semata nilai kemanusiaan. Dokter menjadi bagian dari mesin besar dipaksa produktif, tetapi tidak selalu dihargai secara layak.

Dilema ini harus diakhiri. Tidak ada sistem kesehatan yang kuat jika tenaga medisnya lelah, tertekan, dan tidak sejahtera. Mengabaikan kesejahteraan dokter sama dengan merusak fondasi pelayanan kesehatan itu sendiri.

Momentum Hari Buruh seharusnya menjadi titik balik. Dokter perlu berani mendefinisikan ulang posisinya: bukan hanya sebagai profesional, tetapi juga sebagai pekerja yang memiliki hak kolektif. Organisasi profesi harus keluar dari zona nyaman administratif dan mulai berperan sebagai advokat kesejahteraan. Negara pun tidak bisa lagi berlindung di balik jargon pelayanan publik, sementara beban sistem ditimpakan pada individu dokter.

Reformasi harus konkret: transparansi dan keadilan dalam sistem tarif, regulasi jam kerja yang manusiawi, pengurangan beban administratif yang tidak relevan, serta perlindungan hukum dan sosial yang setara dengan profesi lain. Tanpa itu, sistem kesehatan hanya akan menjadi industri yang mengorbankan tenaga medisnya secara perlahan.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah dokter akan terus hidup dalam ilusi sebagai “profesi elite”, atau mulai menyadari realitas sebagai pekerja yang harus memperjuangkan haknya?

Jika sejarah tahun 1886 di Chicago mengajarkan sesuatu, maka jawabannya jelas perubahan tidak pernah datang tanpa kesadaran dan keberanian untuk melawan ketidakadilan sistem.
May Day … May Day .. May Day …

Penulis :
Anggota Tim Analisis IKAL Lemhanas
Pemerhati Masalah Kesehatan
Jakarta 1 Mei 2026 #HariBuruhInternasional#

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.