• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Sp KKLP/DLP ke DPR: Kebijakan Tergesa yang Berisiko Merusak Tatanan Profesi

Editor Redaksi
25 April 2026
in Berita

Oleh dr Tedy Hartono , SH ,MCS

JurnalPost.com – Pengaduan lulusan Sp KKLP/DLP ke DPR bukan sekadar keluhan administratif, melainkan sinyal keras bahwa ada masalah mendasar dalam desain kebijakan pendidikan kedokteran layanan primer. Program yang seharusnya memperkuat sistem kesehatan justru terkesan dipaksakan, minim konsensus, dan berpotensi menciptakan disrupsi serius di lapangan.

Masalah pertama yang sulit diabaikan adalah waktu tempuh pendidikan yang relatif singkat. Dalam dunia kedokteran, kompetensi tidak bisa diproduksi secara instan. Pembentukan clinical reasoning, kedalaman pengalaman klinis, dan kematangan pengambilan keputusan membutuhkan proses panjang dan berlapis. Ketika sebuah program spesialis muncul dengan durasi yang dipersepsikan jauh lebih ringkas, publik berhak mempertanyakan: apakah ini benar-benar spesialisasi, atau sekadar rebranding dengan legitimasi administratif?

Kedua, pembatasan dokter umum (DU) tertentu yang boleh mengikuti program mencerminkan kebijakan yang tidak inklusif dan berpotensi diskriminatif. Alih-alih memperluas kapasitas layanan primer, pendekatan ini justru menciptakan elitisme baru dalam profesi yang seharusnya berbasis merit dan kebutuhan sistem. Lebih jauh, hal ini berpotensi memecah solidaritas profesi dokter di tingkat layanan primer.

Ketiga, dan yang paling nyata di lapangan, adalah gesekan antara DLP dan dokter umum. Ketidakjelasan batas kewenangan menciptakan ruang konflik. DLP didorong untuk memiliki kompetensi lebih luas, namun dokter umum yang telah lama berpraktik tidak serta-merta kehilangan peran. Tanpa definisi yang tegas, yang terjadi bukan peningkatan kualitas layanan, melainkan tumpang tindih peran yang membingungkan pasien dan merusak ekosistem kerja klinis.

Keempat, pengakuan oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) masih menjadi titik rawan. Legitimasi profesi tidak bisa berdiri di atas kebijakan sektoral semata. Tanpa kejelasan dan konsistensi pengakuan, lulusan DLP berada dalam posisi ambigu: diakui secara administratif, namun belum sepenuhnya diterima secara profesional. Ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga mencederai standar profesi itu sendiri.

Pada akhirnya, tanggung jawab utama berada pada Kementerian Kesehatan sebagai inisiator program. Kebijakan ini tampak lahir dengan pendekatan top-down yang minim dialog substantif dengan pemangku kepentingan utama, termasuk organisasi profesi dan praktisi lapangan. Dalam sistem yang kompleks seperti kesehatan, pendekatan semacam ini bukan hanya tidak efektif, tetapi berbahaya.

Ironisnya, tujuan awal program DLP memperkuat layanan primer adalah sesuatu yang tidak terbantahkan urgensinya. Namun, niat baik tidak cukup jika tidak diiringi desain kebijakan yang matang. Tanpa perencanaan yang komprehensif, program ini justru berisiko menurunkan standar, menciptakan konflik profesi, dan mengaburkan kepercayaan publik terhadap sistem layanan kesehatan.

Pengaduan ke DPR seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar kanal pelampiasan. Yang dibutuhkan adalah evaluasi total, bukan tambal sulam. Jika tidak, kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah kebijakan yang bukan memperkuat layanan primer, melainkan melemahkan fondasi profesi kedokteran itu sendiri.

Penulis adalah :
Anggota Tim Analisis IKA Lemhanas
Pemerthati masalah Kesehatan

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.