
Oleh: Dedy Irawan, Siti Samhati, Edi Suyanto
JurnalPost.com – Fenomena plagiarisme di kalangan siswa saat ini menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan karena kemudahan akses internet kerap dianggap sebagai cara cepat yang dibenarkan untuk menyelesaikan tugas. Di dalam kelas, terutama pada pembelajaran berbasis digital, kebiasaan menyalin teks tidak hanya merusak kejujuran akademik, tetapi juga melemahkan fungsi bahasa sebagai sarana membangun makna dan gagasan. Permasalahan yang dihadapi sebenarnya bukan sekadar persoalan kemalasan individu, melainkan juga tekanan dari sistem pendidikan, seperti tuntutan penyelesaian Capaian Pembelajaran yang padat dengan standar penilaian yang seragam. Dalam kondisi tersebut, guru sering berada pada posisi yang sulit, yaitu antara memenuhi tuntutan administratif atau menjaga keaslian pemikiran siswa. Akibatnya, budaya serba instan semakin berkembang karena sistem pendidikan masih lebih menekankan hasil akhir daripada menghargai proses berpikir dalam kegiatan menulis.
Untuk mengurangi praktik plagiarisme tersebut, pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu alternatif yang menyentuh empat keterampilan berbahasa secara lebih terarah. Dalam diferensiasi konten, guru dapat menyediakan berbagai jenis teks dengan tingkat kesulitan yang berbeda untuk melatih keterampilan membaca dan menyimak sehingga siswa tidak hanya bergantung pada satu sumber dari internet. Berdasarkan pengalaman di kelas, ketika siswa diberi kesempatan memilih topik yang dekat dengan kehidupan mereka, misalnya membahas persoalan lingkungan di daerah setempat, minat untuk mencari informasi secara mandiri cenderung meningkat. Selanjutnya, pada aspek proses, siswa dapat dilibatkan dalam diskusi yang terarah untuk mengembangkan keterampilan berbicara sebelum menulis sehingga mereka mampu menyusun gagasan sendiri melalui teknik parafrasa yang tepat.
Penerapan diferensiasi produk dapat terlihat ketika tugas menulis tidak lagi dibatasi pada satu bentuk yang sama. Siswa yang memiliki kecenderungan visual dapat menyajikan hasil belajar dalam bentuk infografis, sedangkan siswa yang lebih kuat dalam kemampuan verbal dapat menulis esai analitis. Berdasarkan praktik pembelajaran, pendekatan ini terbukti membantu mengurangi tindakan kecurangan karena setiap karya mencerminkan kemampuan dan karakter masing-masing siswa. Meskipun demikian, diferensiasi dalam konten maupun produk tidak akan berjalan efektif tanpa perubahan cara pandang terhadap penilaian. Oleh sebab itu, penilaian berdiferensiasi perlu dilaksanakan secara bertanggung jawab dengan menggunakan rubrik yang menilai proses belajar, misalnya kemampuan siswa menggabungkan berbagai sumber menjadi sebuah gagasan baru, bukan hanya menilai hasil akhir dari segi tata bahasa.
Persoalan mengenai keadilan dalam penilaian memang sering menjadi tantangan bagi guru. Oleh karena itu, penilaian autentik yang bersifat formatif dapat menjadi solusi karena guru menilai proses belajar sekaligus sikap kejujuran siswa, misalnya melalui penggunaan catatan sumber atau daftar istilah yang disusun sendiri. Penilaian tetap dianggap sah selama kompetensi dasar yang ditetapkan dapat tercapai, meskipun cara yang ditempuh siswa berbeda-beda. Dengan demikian, memaksakan satu bentuk penilaian yang sama bagi semua siswa justru berpotensi mendorong terjadinya plagiarisme. Sebaliknya, ketika guru memberi ruang bagi keunikan cara berpikir siswa, maka budaya tanggung jawab dan kejujuran akademik akan tumbuh dengan lebih kuat.
Sebagai penutup, teknologi internet seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas pengetahuan, bukan sebagai jalan pintas yang mengurangi integritas belajar. Apabila kebiasaan menyalin tanpa memahami terus dibiarkan, maka generasi muda akan terbiasa menghasilkan karya tanpa pemikiran yang mendalam. Menulis pada dasarnya merupakan keberanian untuk menyampaikan gagasan dengan identitas sendiri. Oleh karena itu, peran pendidik, khususnya guru bahasa, sangat penting untuk menjaga nilai literasi sebagai wujud kejujuran dan tanggung jawab dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.



