• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dampak Konflik Dunia ke Ekonomi RI, Pancasila Jadi Kunci Menghadapinya

Editor Redaksi
14 April 2026
in Kolom Opini
Ilustrasi Dampak konflik global terhadap kenaikan harga dalam perspektif Pancasila.

Nama: Alya Zahfira Putri
Mahasiswa aktif Universitas Negeri Yogyakarta

JurnalPost.com – Gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kerap dipandang sebagai tanda meredanya konflik. Namun, dalam praktiknya, kesepakatan semacam ini sering kali hanya bersifat sementara. Akar permasalahan yang belum terselesaikan membuat potensi ketegangan tetap tinggi dan bisa kembali memanas sewaktu-waktu.

Salah satu titik krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak cenderung naik dan efeknya menjalar ke berbagai sektor ekonomi.

Sejumlah pihak menilai keputusan Amerika Serikat dalam menyepakati gencatan senjata tak lepas dari kepentingan strategis, termasuk melindungi sekutunya. Pandangan ini muncul karena beberapa kesepakatan sebelumnya terbukti tidak bertahan lama dan justru diikuti ketegangan baru di wilayah lain.

Kenaikan harga minyak turut berdampak pada sektor industri, termasuk industri plastik. Sebagai produk turunan minyak bumi, biaya produksi plastik ikut terdongkrak. Hal ini sejalan dengan temuan International Energy Agency yang menyebut fluktuasi harga minyak sangat memengaruhi harga bahan industri.

Di Indonesia, plastik masih menjadi bahan utama, khususnya untuk kemasan makanan dan minuman. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan banyak pelaku industri yang masih bergantung pada bahan ini. Ketika harga naik, produsen dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan.

Dampak paling terasa dirasakan pelaku UMKM. Selama ini, plastik dipilih karena murah dan praktis. Namun, kenaikan harga membuat mereka harus menyesuaikan strategi, yang tidak jarang berujung pada kenaikan harga produk.

Kondisi ini juga berpotensi memicu inflasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kenaikan biaya produksi bisa mendorong kenaikan harga barang secara umum, sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi tekanan dari sisi anggaran. Kenaikan harga minyak dunia berdampak pada meningkatnya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan dan bantuan sosial, ruang fiskal menjadi semakin terbatas.

Tak hanya itu, peningkatan impor minyak dan gas turut menambah kebutuhan devisa dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Dampaknya meluas ke harga barang impor, biaya logistik, hingga harga pangan, pupuk, dan transportasi.

Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah sempat menerapkan kebijakan work from home (WFH) secara adaptif. Selain memberi fleksibilitas kerja, kebijakan ini bertujuan menekan konsumsi bahan bakar, khususnya di kota besar. Dengan mobilitas yang berkurang, konsumsi energi harian diharapkan ikut turun.

Namun, WFH bukan solusi jangka panjang. Kebijakan ini lebih bersifat sementara untuk meredam dampak saat tekanan energi global meningkat.

Jika dilihat dari perspektif Pancasila, situasi ini tidak hanya soal ekonomi dan politik global. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa dampak konflik meluas hingga ke negara lain, termasuk Indonesia. Artinya, diperlukan tanggung jawab bersama dalam menjaga stabilitas global.

Sementara itu, nilai Persatuan Indonesia menjadi penting dalam menghadapi tekanan ekonomi. Solidaritas sosial dan kebijakan yang tepat diperlukan agar dampak tidak semakin memberatkan masyarakat kecil.

Nilai Kerakyatan menekankan pentingnya kebijakan yang transparan dan berpihak pada rakyat, termasuk dalam hal subsidi energi dan kebijakan kerja. Sedangkan Keadilan Sosial mengingatkan bahwa beban tidak boleh hanya ditanggung oleh kelompok rentan.

Kesimpulannya, konflik global memang terjadi jauh dari Indonesia, tetapi dampaknya nyata dirasakan di dalam negeri. Mulai dari harga minyak hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya saling terhubung. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak.

Jika akar konflik tidak diselesaikan, gencatan senjata hanya akan menjadi jeda. Sementara dampaknya akan terus dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.