
Oleh: Evillyne Sepbrina dan Monika
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Tekanan akademik sering kali tidak hanya memengaruhi performa belajar, tetapi juga cara seseorang merasakan dan merespons lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi tertekan, sebagian individu menjadi lebih mudah tersentuh secara emosional, lebih sensitif terhadap kritik, serta merasa kewalahan oleh hal-hal yang sebelumnya terasa biasa. Kondisi ini dikenal sebagai hipersensitivitas psikologis, yaitu meningkatnya kepekaan individu terhadap rangsangan emosional dan lingkungan.
Dalam buku karya Aron (2020) berjudul The Highly Sensitive Person, kondisi ini dikaitkan dengan konsep sensory processing sensitivity (SPS), sebuah ciri kepribadian yang berkaitan dengan cara sistem saraf memproses rangsangan secara lebih mendalam. Sensory processing sensitivity bukanlah gangguan mental, melainkan perbedaan temperamental alami yang dimiliki oleh sebagian individu. Ciri ini ditandai oleh pemrosesan informasi yang mendalam, kepekaan emosional yang tinggi, serta kecenderungan untuk lebih mudah mengalami overstimulasi. Individu dengan tingkat sensitivitas tinggi cenderung lebih reflektif dan empatik, namun di sisi lain, mereka juga lebih rentan merasa kewalahan ketika dihadapkan pada tekanan yang berlangsung terus-menerus. Dalam situasi yang penuh tuntutan, respons emosional mereka dapat menjadi lebih kuat dan sulit dikendalikan.
Tekanan akademik mencakup berbagai tuntutan, mulai dari beban tugas, ujian, target nilai, hingga ekspektasi tinggi dari dosen, orang tua, dan diri sendiri (Pascoe et al., 2020). Ketika tuntutan tersebut dirasakan melebihi kemampuan individu, maka stres akademik pun muncul. Bagi individu dengan hipersensitivitas psikologis, tekanan akademik sering kali dirasakan lebih berat dibandingkan individu lainnya. Mereka cenderung lebih peka terhadap kritik, penilaian negatif, maupun kegagalan kecil. Akibatnya, tekanan akademik tidak hanya memengaruhi performa belajar, tetapi juga kondisi emosional secara signifikan.
Hipersensitivitas psikologis dalam konteks tekanan akademik dapat dikenali melalui berbagai gejala. Secara emosional, individu sering mengalami kecemasan berlebihan, mudah merasa tertekan, serta menunjukkan reaksi emosional yang intens terhadap nilai, tugas, atau kritik. Rasa takut gagal dan kelelahan emosional juga kerap muncul. Secara kognitif, individu dapat mengalami overthinking, kesulitan berkonsentrasi, serta penilaian diri yang negatif. Tekanan akademik sering dipersepsikan sebagai ancaman besar, sehingga pikiran dipenuhi oleh kekhawatiran akan performa dan kemungkinan kegagalan. Sementara itu, gejala fisik dapat berupa gangguan tidur, sakit kepala, kelelahan berlebihan, hingga keluhan psikosomatis seperti nyeri otot atau gangguan pencernaan. Apabila kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang tanpa penanganan yang tepat, hipersensitivitas psikologis dapat berkembang menjadi stres kronis, gangguan kecemasan, dan academic burnout (Maslach & Leiter, 2016).
Hipersensitivitas psikologis yang dipicu oleh tekanan akademik dapat mengganggu proses belajar secara signifikan. Individu mungkin menjadi takut melakukan kesalahan, menunda pengerjaan tugas, atau menarik diri dari lingkungan akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan motivasi belajar, kepercayaan diri, serta kesejahteraan mental. Situasi ini sering membentuk lingkaran yang berulang: tekanan akademik meningkatkan hipersensitivitas, hipersensitivitas memperkuat stres, dan stres kembali memperburuk performa akademik.
Penanganan hipersensitivitas psikologis perlu dilakukan secara menyeluruh. Pada tingkat individu, keterampilan regulasi emosi seperti mindfulness dan latihan pernapasan dapat membantu individu mengelola respons emosional dengan lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa mindfulness dan sikap penerimaan dapat membantu individu mengelola emosi secara lebih adaptif serta menurunkan stres dan kelelahan emosional (Lindsay & Creswell, 2015). Manajemen waktu dan pengaturan beban belajar yang realistis juga berperan penting dalam mengurangi rasa kewalahan. Dukungan sosial dari teman, keluarga, dan dosen turut membantu individu merasa dipahami dan tidak sendirian dalam menghadapi tekanan akademik. Di tingkat institusional, lingkungan akademik yang suportif, layanan konseling, serta sistem evaluasi yang tidak hanya menekankan hasil akhir sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa. Kepekaan dalam dunia akademik bukanlah bentuk kelemahan. Hipersensitivitas psikologis, yang dipahami melalui konsep sensory processing sensitivity, merupakan perbedaan individu dalam merespons tekanan dan stimulus lingkungan.
Tanpa pemahaman dan dukungan yang memadai, tekanan akademik dapat memperkuat respons emosional dan mengganggu kesejahteraan mental. Tekanan akademik yang sering dianggap wajar atau diabaikan perlu ditelusuri lebih dalam lagi, khususnya dalam hubungannya dengan hipersensitivitas psikologis. Melalui pemahaman yang lebih seksama, kepekaan dapat dipandang bukan sebagai sesuatu yang perlu ditekan, melainkan sesuatu yang perlu dikenali dan dikelola agar individu dengan sensitivitas tinggi tetap dapat berkembang di tengah tuntutan akademik.
Referensi
Aron, E. N. (2020). The highly sensitive person: How to thrive when the world overwhelms you (Updated ed.). Kensington Publishing.
Lindsay, E. K., & Creswell, J. D. (2015). Back to the basics: How acceptance and mindfulness relate to psychological health. Current Opinion in Psychology, 3, 7–11.
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications for psychiatry. World Psychiatry, 15(2), 103–111.
Pascoe, M. C., Hetrick, S. E., & Parker, A. G. (2020). The impact of stress on students in higher education: A systematic review. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 104–112.



