• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Akun Kampus Cantik: Saat Mahasiswa Dinilai dari Wajah, Bukan Pikiran

Editor Redaksi
10 April 2026
in Kolom Opini
Ilustrasi tekanan sosial dalam penggunaan media sosial. Sumber: Pinterest

Oleh: Umi Dwiastuti, Mahasiswa Akuntansi, Universitas Negeri Yogyakarta

JurnalPost.com – Akhir-akhir ini, kamu mungkin sering melihat akun “kampus cantik” berseliweran di TikTok atau Instagram. Konten yang ditampilkan biasanya berupa potongan video atau foto mahasiswa yang dianggap menarik secara visual, lalu diunggah ulang oleh akun tertentu. Fenomena ini banyak ditemukan di berbagai kampus di Indonesia dan terus muncul dalam beberapa waktu terakhir. Respons dari warganet pun cukup besar, mulai dari pujian hingga komentar yang menilai penampilan. Sekilas, tren ini tampak seperti hiburan ringan yang tidak menimbulkan masalah. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, fenomena ini sebenarnya menyimpan persoalan yang perlu dipahami.

Di balik popularitasnya, mulai muncul berbagai tanggapan dari mahasiswa yang merasa tidak nyaman. Beberapa di antaranya mengaku bahwa foto atau video mereka digunakan tanpa izin oleh pihak pengelola akun. Ada juga yang merasa terganggu karena dijadikan objek penilaian publik secara terbuka. Selain itu, tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya membandingkan dirinya dengan standar kecantikan yang beredar di media sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya melibatkan pihak yang ditampilkan, tetapi juga memengaruhi audiens yang melihatnya. Dengan kata lain, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Fenomena ini tidak bisa hanya dianggap sebagai tren hiburan biasa. Jika dilihat lebih dalam, ada perubahan cara pandang yang perlahan terjadi di kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang seharusnya dikenal karena pemikiran, prestasi, dan kontribusinya justru lebih sering dinilai dari penampilan luar. Hal ini memunculkan pertanyaan penting mengenai arah budaya di lingkungan kampus. Apakah identitas mahasiswa kini mulai dipersempit hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial? Jika hal ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin nilai intelektualitas akan semakin terpinggirkan.

Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, fenomena ini dapat ditinjau dari sila kedua tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Setiap individu pada dasarnya memiliki martabat yang tidak ditentukan oleh penampilan fisik semata. Ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan aspek visual, maka penghargaan terhadap kemanusiaan menjadi berkurang. Selain itu, penggunaan konten tanpa izin juga menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap hak individu. Oleh karena itu, fenomena ini perlu disikapi dengan lebih bijak agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain sila kedua, sila kelima tentang keadilan sosial juga relevan untuk melihat fenomena ini. Konten yang terus menonjolkan standar kecantikan tertentu berpotensi menciptakan ketimpangan dalam penerimaan sosial. Individu yang sesuai dengan standar tersebut cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan pengakuan. Sebaliknya, mereka yang tidak sesuai menjadi kurang terlihat dan bahkan terabaikan. Tanpa disadari, media sosial membentuk ruang yang tidak sepenuhnya adil bagi semua orang. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan lingkungan digital yang sehat.

Sebagai pengguna media sosial, kita sebenarnya memiliki peran dalam menentukan arah tren yang berkembang. Setiap interaksi, seperti menonton, menyukai, atau membagikan konten, secara tidak langsung mendukung keberlanjutan fenomena tersebut. Oleh karena itu, penting untuk lebih selektif dalam menyikapi konten yang beredar. Kita bisa mulai dengan mempertimbangkan dampak dari setiap konten sebelum berinteraksi lebih jauh. Selain itu, kesadaran untuk menghargai orang lain juga perlu terus ditingkatkan. Dengan begitu, ruang digital dapat menjadi lebih positif dan menghargai keberagaman.

Fenomena “akun kampus cantik” seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tren sementara yang akan hilang dengan sendirinya. Lebih dari itu, fenomena ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua, khususnya mahasiswa. Media sosial memang memberikan ruang untuk berekspresi dan berbagi, tetapi tetap perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Penting untuk kembali menempatkan nilai intelektualitas dan kemanusiaan sebagai hal utama dalam kehidupan kampus. Pada akhirnya, cara kita memandang orang lain akan memengaruhi kualitas interaksi sosial yang kita bangun. Baik di dunia digital maupun dalam kehidupan nyata, nilai tersebut tetap menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.