• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Demokrasi Bukan Arena Menjatuhkan, Melainkan Jalan Menjaga Bangsa

Editor Redaksi
6 April 2026
in Kolom Opini

Jakarta, JurnalPost.com — Di tengah riuhnya polemik pernyataan Saiful Mujani, pengamat sosial dan politik Krisna Wahyu Yanuar menyampaikan tanggapan yang tidak hanya kritis, tetapi juga bernuansa nasionalistik dan reflektif. Baginya, persoalan ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan menyangkut cara bangsa Indonesia merawat demokrasi sebagai warisan perjuangan.

Krisna menegaskan bahwa Indonesia bukanlah negara yang dibangun di atas hasrat menjatuhkan, melainkan di atas semangat menjaga dan merawat. Dalam pandangannya, diksi “menjatuhkan presiden” mencerminkan kegelisahan yang sah, namun sekaligus mengandung bahaya jika dilepaskan dari kerangka konstitusi dan etika kebangsaan.

“Bangsa ini lahir dari pengorbanan, bukan dari agitasi. Demokrasi kita tidak dibangun untuk meruntuhkan, tetapi untuk menata. Jika bahasa yang kita gunakan mulai condong pada dorongan menjatuhkan, maka kita sedang menjauh dari ruh kebangsaan itu sendiri,” ujar Krisna.

Ia mengingatkan bahwa dalam filsafat politik Indonesia, kekuasaan bukan sekadar soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dijaga dalam koridor hukum dan moral publik. Dalam konteks ini, kritik tetap merupakan bagian penting dari demokrasi, tetapi harus diarahkan sebagai upaya mengoreksi, bukan menghancurkan.

Krisna juga menyinggung nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi etis kehidupan bernegara. Menurutnya, sila keempat yang menekankan musyawarah dan hikmat kebijaksanaan menjadi pengingat bahwa perbedaan tidak seharusnya berujung pada delegitimasi, melainkan pada dialog yang beradab.

“Ketika seorang intelektual berbicara, yang dibawa bukan hanya opini, tetapi juga tanggung jawab sejarah. Kata-kata bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi api. Di sinilah kebijaksanaan diuji,” tambahnya.

Lebih jauh, Krisna melihat bahwa penggunaan retorika yang keras justru berisiko mereduksi kualitas kritik itu sendiri. Dalam kerangka filosofis, kritik yang sejati bukanlah yang paling lantang, tetapi yang paling jernih dalam menimbang realitas.

Ia pun mengajak publik untuk tidak terjebak dalam dikotomi sempit antara mendukung atau menolak, melainkan kembali pada kesadaran kolektif sebagai bangsa. Bahwa Indonesia, dengan segala kompleksitasnya, membutuhkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak.

“Menjatuhkan itu mudah, tetapi menjaga itu sulit. Dan bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai menjatuhkan pemimpinnya, melainkan yang mampu memperbaiki dirinya tanpa kehilangan arah,” tegas Krisna.

Polemik ini, pada akhirnya, menjadi cermin bahwa demokrasi Indonesia sedang diuji—bukan hanya oleh kekuasaan, tetapi juga oleh cara berpikir warganya. Dalam ujian itu, nasionalisme tidak hadir sebagai slogan, melainkan sebagai kesadaran untuk tetap berpijak pada nilai, etika, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.