• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

‘‘BUNG HATTA TIDAK BUTUH PEMUJA, IA BUTUH PELANJUT: MENGHIDUPKAN KEMBALI INTEGRITAS INTELEKTUAL DALAM MENJAGA MARWAH BANGSA’’

Editor Redaksi
26 Maret 2026
in Artikel

Nofan Alfandi

Oleh: Nofan Alfandi

JurnalPost.com – “Membaca ribuan buku, meraih gelar doktor di Rotterdam, lalu pulang ke tanah air hanya untuk mengejar jabatan dan menumpuk harta tanpa integritas. Bung Hatta pasti akan memalingkan wajah dengan kecewa.”

Intelektual muda Indonesia hari ini lebih piawai memoles citra di ruang digital, daripada mempertanyakan mengapa angka ketimpangan ekonomi kita masih tertahan di angka 0,375 (Indonesia, n.d.). Paradoks ini menjadi semakin menyakitkan ketika kita menyadari bahwa generasi sekarang adalah generasi dengan akses informasi paling melimpah sepanjang sejarah, namun keberpihakan etis terhadap nasib kolektif justru kerap luluh lantah di hadapan pragmatisme materi.

Mohammad Hatta, yang sepanjang hidupnya meletakkan buku di atas segalanya, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tanpa karakter adalah kekosongan yang berbahaya. Maka pernyataan opini ini tegas: “Mengagumi kesederhanaan dan kejujuran Hatta tanpa menerapkannya dalam standar moral pribadi adalah bentuk pengkhianatan intelektual yang paling nyata.”(Latif, 2025)

Intelektual muda yang berpendidikan tinggi namun tidak memiliki integritas dalam bertindak adalah beban sejarah yang tidak bisa lagi dibenarkan. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Hatta, (Hutabarat, n.d.) haruslah berakar pada “Daulat Rakyat” bukan “Daulat Tuanku” atau modal. Sebagaimana ditegaskan oleh kritikus sosial Julien Benda dalam The Treason of the Intellectuals (1927), bahwa pengkhianatan terbesar kaum intelektual adalah ketika mereka menukar nilai-nilai kebenaran universal dengan kepentingan politik praktis dan materi sesaat. (Revisiting Julien Benda’s Treason of the Intellectuals • European University Institute, n.d.)

Fakta di lapangan berbicara keras. Data dari Transparency International (2024) menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia masih stagnan, sebuah tamparan bagi sistem pendidikan kita yang terus mencetak sarjana namun gagal mencetak manusia berintegritas. (“Indeks Persepsi Korupsi 2024,” 2025) Kesenjangan antara jumlah orang pintar dan jumlah orang jujur ini membuktikan bahwa pendidikan kita baru sebatas transfer kognitif, belum menyentuh transformasi mental.

Krisis peran intelektual muda di Indonesia hari ini hadir dalam tiga wajah yang mengkhawatirkan:

  1. Sikap Pragmatis: Ilmu dianggap sebagai alat tukar ekonomi semata untuk mendaki tangga sosial, abai terhadap etika proses.
  2. Kekosongan Literasi: Gemar mengutip Bung Hatta untuk estetika konten, namun asing terhadap kedalaman pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan.
  3. Defisit Integritas: Mudahnya kaum terdidik terjebak dalam pusaran korupsi dan manipulasi kebijakan demi kenyamanan posisi.

Kajian dari (Reshita & Efendri, 2023) mencatat bahwa komitmen mahasiswa terhadap nilai kejujuran akademik dan sosial cenderung menurun seiring dengan meningkatnya tekanan kompetisi karier. Ketiga wajah krisis ini adalah cerminan kegagalan kita dalam menempatkan “karakter” sebagai inti dari kompetisi intelektual, sebuah nilai yang bagi Hatta bersifat harga mati.

Ekonomi Moral sebagai Jawaban

            Solusi atas krisis ini bukanlah sekadar menambah kurikulum, melainkan melakukan revolusi paradigma tentang tanggung jawab ilmu. Bung Hatta dalam tulisan-tulisannya menekankan pentingnya ekonomi yang berdasar pada usaha bersama dan moralitas (Co-operation) (Pusdiklat APU-PPT, n.d.). Hal ini sejalan dengan konsep (Sen, 1999) dalam Development as Freedom, di mana kemajuan bangsa diukur dari sejauh mana manusia menggunakan kapasitasnya untuk memperluas kebebasan dan keadilan bagi sesama.

Tiga wujud konkret penerapan semangat Hatta bagi intelektual muda meliputi: Pertama, disiplin literasi yang kuat untuk membedah realitas secara objektif; Kedua, hidup bersahaja sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya korup; dan Ketiga, keberanian menyatakan kebenaran meskipun harus berdiri sendirian di tengah arus.

Integritas sebagai Ujian Akhir Intelektualisme

Integritas adalah tolok ukur paling jujur apakah gelar akademik seseorang benar-benar bernilai atau hanya sekadar kertas formalitas. Intelektual sejati tidak diukur dari jabatan yang ia rengkuh, melainkan dari seberapa teguh ia memegang prinsip saat godaan kekuasaan datang menghampiri. Pengetahuan yang tidak dibalut dengan kejujuran adalah racun bagi peradaban.

Indonesia kini berdiri di ambang visi Indonesia Emas 2045. Namun, laporan (Laporan Kelompok Bank Dunia Mengusulkan Kebijakan dan Investasi Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan dan Aksi Iklim Indonesia, n.d.) memperingatkan bahwa tanpa penguatan institusi moral dan integritas pada sumber daya manusianya, potensi ekonomi kita akan tergerus oleh biaya sosial akibat korupsi. Pilihan yang dibuat intelektual muda hari ini apakah ingin menjadi “Hatta-Hatta Baru” yang jujur atau menjadi teknokrat yang oportunis akan menentukan masa depan bangsa ini.

Dari sini dapat dipahami, bahwa warisan terbesar Hatta bukanlah sekadar koperasi, melainkan sebuah teladan bahwa intelektualitas harus bersenyawa dengan moralitas. Intelektual muda Indonesia hari ini dipanggil bukan untuk memuja foto Hatta di dinding-dinding kantor, melainkan untuk mewarisi “keteguhan hatinya” dalam menjaga marwah bangsa di tengah gempuran ketidakpastian zaman.

Sejarah hanya akan mengingat mereka yang tetap tegak saat yang lain membungkuk demi kepentingan pribadi. Pertanyaannya sederhana: di barisan mana kita berdiri? []

REFERENSI

Hutabarat, P. N. (n.d.). PEMIKIRAN POLITIK MOHAMMAD HATTA TENTANG DEMOKRASI.

INDEKS PERSEPSI KORUPSI 2024: “KORUPSI, DEMOKRASI, DAN KRISIS LINGKUNGAN.” (2025, February 11). Transparency International Indonesia. https://ti.or.id/indeks-persepsi-korupsi-2024-korupsi-demokrasi-dan-krisis-lingkungan-2/

Indonesia, B. P. S. (n.d.). Gini ratio Maret 2025 tercatat sebesar 0,375. Retrieved March 25, 2026, from https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/07/25/2519/gini-ratio-maret-2025-tercatat-sebesar-0-375.html

Laporan Kelompok Bank Dunia Mengusulkan Kebijakan dan Investasi Mendukung Pencapaian Tujuan Pembangunan dan Aksi Iklim Indonesia. (n.d.). [Text/HTML]. World Bank. Retrieved March 25, 2026, from https://www.worldbank.org/in/news/press-release/2023/05/03/world-bank-group-report-proposes-policies-investments-to-enable-indonesia-to-achieve-its-development-and-climate-goals

Latif, Y. (2025). Building the Soul of the Indonesian Nation: Mohammad Hatta on Religion, the State Foundation, and Character Building. Studia Islamika, 32(2), 241–278. https://doi.org/10.36712/sdi.v32i2.45220

Pusdiklat APU-PPT. (n.d.). Retrieved March 25, 2026, from https://ifii.ppatk.go.id/en/Web/Berita/detil/211/

Reshita, A. R., & Efendri, E. (2023). Pengaruh Tekanan, Kesempatan, Rasionalisasi dan Kemampuan terhadap Academic Fraud pada Mahasiswa (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Trilogi). EDUKASIA Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(2), 771–780. https://doi.org/10.62775/edukasia.v4i2.352

Revisiting Julien Benda’s Treason of the Intellectuals • European University Institute. (n.d.). Retrieved March 25, 2026, from https://www.eui.eu/events?id=572480

Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.