• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ramadhan di Era FOMO: Mencari Khusyuk di Tengah Gempuran Konten War Takjil

Editor Redaksi
19 Februari 2026
in Kolom Opini

 
Oleh : Ilyas Rozak Hanafi, M.Pd.I
Dosen STAI Ma`arif Kalirejo Lampung Tengah Lampung

JurnalPost.com – Dulu, penanda Ramadhan tiba adalah suara tadarus dari corong masjid atau aroma santan dari dapur ibu. Sekarang? Penandanya adalah timeline media sosial yang mendadak penuh dengan estetikanya kurma, filter “Marhaban ya Ramadhan”, dan yang paling fenomenal tahun ini: War Takjil.

Fenomena “War Takjil” memang seru. Ia menjadi potret toleransi yang cair, di mana semua orang tanpa memandang latar belakang tumpah ruah ke jalan demi berburu risol atau es buah pukul empat sore. Namun, di balik keriuhan itu, ada sisi lain yang perlu kita renungkan: Ramadhan kita sedang bertarung sengit dengan budaya FOMO (Fear of Missing Out).

Jebakan “Konten-Sentris”

Kita hidup di era di mana sebuah momen dianggap “tidak sah” jika tidak dikontenkan. Ibadah yang sejatinya bersifat personal dan vertikal, kini sering kali terseret ke ranah horizontal demi validasi digital.

Saat kita sibuk mencari sudut foto terbaik untuk update “War Takjil” hari ini, atau membalas komentar di unggahan bukber yang fancy, ada sesuatu yang perlahan terkikis: Kekhusyukan. Kita sering kali lebih takut ketinggalan tren menu buka puasa yang viral daripada kehilangan momen mustajab di waktu-waktu menjelang berbuka.

Antara Keriuhan dan Keheningan

Ramadhan pada hakikatnya adalah momen untuk melakukan shutdown dari kebisingan dunia. Ia adalah jeda. Namun, dengan gempuran notifikasi dan tren yang terus berganti setiap jam, “jeda” itu menjadi barang mewah. Kita menjadi manusia yang “puasa perut”, tapi “kenyang konten”.

Bayangkan, di sepuluh malam terakhir yang seharusnya menjadi puncak pencarian spiritual jari kita mungkin masih sibuk scrolling mencari promo baju lebaran atau melihat reels orang lain yang sedang “war” takjil di daerah berbeda. Fokus kita terfragmentasi. Hati kita berada di sajadah, tapi pikiran kita tertinggal di kolom explore.

Mengembalikan “Center”

Menikmati euforia Ramadhan yang kekinian tentu boleh-boleh saja. Tidak ada yang salah dengan ikut berburu takjil atau mengabadikan momen silaturahmi. Namun, pertanyaannya: Apakah kita yang mengendalikan teknologi, atau tren yang mengendalikan ibadah kita?

Mencari khusyuk di era FOMO berarti berani untuk “absen” sejenak dari keriuhan digital. Caranya sederhana:

  1. Tentukan Jam Digital Detox: Coba letakkan ponsel 30 menit sebelum berbuka dan 30 menit setelah tarawih.
  2. Filter Konsumsi: Ikuti konten yang menginspirasi, bukan sekadar memicu keinginan belanja atau rasa iri.
  3. Sadari Kehadiran: Ingat bahwa esensi takjil adalah menyegerakan berbuka, bukan menyegerakan upload.

Ramadhan tahun ini seharusnya bukan tentang seberapa banyak momen viral yang kita ikuti, melainkan tentang seberapa banyak “percakapan” yang berhasil kita bangun dengan Sang Pencipta di tengah sunyinya malam. Jangan sampai saat Idul Fitri tiba, kita hanya mendapatkan koleksi foto yang bagus, tapi kehilangan esensi dari sebuah transformasi jiwa.

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar “war” di bulan ini bukanlah berburu takjil dengan tetangga, melainkan perjuangan melawan ego dan distraksi di dalam diri kita sendiri.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.