• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Curhat Ke AI Sebagai Solusi atau Ilusi?

Editor Redaksi
16 Januari 2026
in Kolom Opini
Gambar seseorang membuka chat gpt (Sumber: freepik)

JurnalPost.com – Akhir-akhir ini fenomena curhat ke ChatGPT atau AI chat lainnya mulai bermunculan di sosial media. Scroll TikTok, Instagram, atau X, kita bisa nemuin banyak orang yang pamerin screenshot chat mereka sama AI. Mulai dari masalah cinta, tekanan kerjaan, sampai hal sepele seperti, “ChatGPT, menurut kamu hari ini aku makan apa ya?”

Yang bikin kaget banyak yang bilang, “ChatGPT lebih bisa ngertiin gue dibanding temen sendiri.”

Tapi tunggu dulu deh, sebenarnya, kita beneran dimengerti atau cuma dapet rasa nyaman palsu dari algoritma yang emang diprogram buat ngasih jawaban yang nyenengin?

ChatGPT dan AI chat lainnya memang jago banget bikin kita merasa dipahami. Nggak heran sih, karena mereka dilatih pake milyaran data percakapan manusia jadi tau banget kata-kata apa yang pas buat situasi tertentu. Misalnya pas kita curhat, “Kok pacar aku lupa ngucapin selamat pagi ya? apa dia udah ga sayang aku lagi?” AI langsung bales dalam hitungan detik, “Aku paham perasaan kamu. Wajar kok kalau kamu sedih, perasaan kamu valid.”

Nah disini faktanya. AI sebenernya nggak beneran ngerti perasaan kita. Dia cuma memproses kata-kata dan ngasih respons berdasarkan pola data. Nggak ada kehangatan manusia, nggak ada pengalaman bareng, nggak ada koneksi emosional yang beneran di dalamnya. Yang kita dapet cuma validasi semu, yaitu perasaan dipahami yang sebenernya cetek, karena nggak ada yang beneran berempati sama kita.

Nah, kalau kita ngomongin lebih dalam dan masuk lingkup literasi media, fenomena ini sebenernya ngajak kita buat lebih kritis, lho! Coba deh pikir, apa yang bakal terjadi kalau kita kebiasaan nyari validasi dari AI, bukan dari sesama manusia?

Pertama, kita bisa kehilangan kemampuan buat bikin koneksi emosional yang asli dan tulus. Hubungan sama manusia emang ribet, dinamis, kadang berantem, salah paham. Tapi justru ‘kekacauan’ ini yang bikin hubungan antar manusia jadi berharga banget. Sementara AI? Dia nggak pernah marah, nggak pernah judge kita, cenderung manut manut aja apa yang kita perintah tanpa bantahan. Kalau kita terus-terusan lari ke AI tiap ada masalah, kita bakal kehilangan kesempatan buat belajar komunikasi, negosiasi, dan tumbuh secara emosional.

Kedua, ada bahaya jadi anti-sosial. Curhat ke AI emang berasa aman karena nggak ada risikonya, nggak bakal ada yang bocorin rahasia kita, nggak ada yang nilai. Tapi kenyamanan ini bisa jadi jebakan. Kita sebagai manusia butuh interaksi beneran buat jaga kesehatan mental. Kalau kebanyakan nyaman sama AI, kita malah bisa jadi males buka diri ke orang lain.

Bukan berarti kita harus total ngejauh dari AI. ChatGPT dan AI bisa jadi alat yang berguna buat refleksi atau sekedar dapat referensi baru. Masalahnya tuh kalau udah kebablasan makainya. Literasi media di jaman sekarang bukan cuma soal ngebedain hoaks atau konten bahaya, tapi juga soal paham gimana teknologi ngaruh ke emosi dan perilaku kita. Kita perlu kritis dan nanya ke diri sendiri, “Gue pake AI sebagai alat bantu, atau malah jadi pengganti hubungan sama manusia?”

Jadi, kalau lagi butuh curhat, AI bisa jadi pilihan, kok. Tapi inget ya, jangan sampai kenyamanan palsu ini bikin kita menjauh dari orang-orang terdekat. Karena secanggih apapun teknologi, nilai kemanusiaan dengan segala dinamikanya tetep nggak bisa digantikan.

Penulis: Edita Salsabila,
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.