Oleh: Ika Trianingsih
Universitas Pamulang
JurnalPost.com – Di era informasi serba cepat ini, banyak sekali informasi yang bisa didapat dari manapun terutama media sosial. Media sosial adalah platform digital yang digunakan banyak pengguna untuk membuat, berbagi dan berinteraksi dengan konten secara online. Dari media sosial banyak sekali konten yang dibuat terutama video pendek. Saat menonton video pendek otak kita dapat memperoleh dopamine instan sehingga otak menerima rasa senang ataupun kepuasan secara cepat dan singkat.
Akibatnya, banyak orang yang sulit berkonsentrasi, turunnya fokus pada satu hal dan pola konsumsi informasi menjadi dangkal. Keadaan ini bisa disebut sebagai krisis konsentrasi : sebuah perhatian yang mudah terpecah karna otak sering menerima rangsangan cepat.
Dalam literasi media, keadaan seperti ini menjadi tantangan baru. Literasi media bukan hanya membedakan informasi media tetapi juga bagaimana kemampuan otak kita dalam memilih informasi, terbentuknya pola pikir dan menerima informasi.
Dopamine Dalam Literasi Media
Dopamine yang biasanya dikenal sebagai hormon bahagia adalah zat kimia otak yang berperan menciptakan rasa senang dan memotivasi seseorang untuk memberikan rasa kepuasan. Di era sekarang ini sumber dopamine dapat diperoleh dengan mudah dan cepat, yaitu :
• Menonton konten singkat
• Mendapatkan notifikasi
• Scrooling media tanpa henti
Kegiatan seperti ini hanya dengan scrooling dilayar ponsel dapat mengaktifkan dopamine dengan cepat atau biasanya disebut dopamine instan. Hal ini membuat otak kita merasa mendapatkan kesenangan dengan mudah tanpa bersusah payah melalukan kegiatan, hanya dengan bermodalan layar ponsel, otak akan langsung memberi respon puas.
Konten Serba Cepat dan Krisis Konsentrasi
Banyak sekali media sosial membuat banyak fitur terutama video pendek, dimana isi dari video tersebut memberikan informasi yang cepat dan ringan, sehingga memberi kepuasan singkat pada otak dengan mudah. Bila otak terus menerus menerima informasi yang cepat dan singkat, hal ini dapat mengakibatkan sebuah kondisi seperti :
• Konsentrasi yang menurun
• Sulit focus dalam bacaan Panjang
• Cepat bosan, bila informasi yang diberikan kurang menarik
Dampak Terhadap Literasi Media
Dari yang kita ketahui, literasi media bukan hanya memilah berita baik ataupun berita buruk. Tetapi juga membentuk pola pikir seseorang. Sering mengkonsumsi konten singkat sehingga memunculkan dopamine instan terus menerus dapat mengakibatkan:
• Turunnya dalam proses berpikir kritis
• Mudah terpapar misinformasi
• Sulit berpikir terlalu dalam hingga terbentuknya pemahaman dangkal
• Kurang dalam memilah konten yang berkulitas
Strategi Terhadap Tantangan Dopamine Instan
Agar tidak terjadinya efek berlebih dari dopamine instan, harus memiliki strategi dengan cara memulihkan kerja otak, yaitu :
• Lakukan gaya hidup sehat agar otak mendapatkan rangsangan hormon endorphin
• Menyusun aktifitas dengan waktu jangka Panjang bukan hiburan sesaat
• Digital detox ; kurangi konsumsi konten yang instan dan penggunaan media sosial yang berlebihan.
Fenomena dopamine instan muncul karna adanya konten instan yang memberikan kepuasan sesaat sehingga otak dapat terhibur dengan cepat sehingga memunculkan kekhawatiran. Munculnya fenomena ini sebagai tantangan baru bagi literasi media sehingga media dapat memberikan konten yang lebih bermanfaat dan meminimalisir konsen singkat yang bahkan tidak mengandung isi dan terlalu banyak konten singkat yang berisi lelucon.



