
Oleh Fransiscus Kanisius Bata – mahasiswa fakultas hukum universitas 17 agustus 1945 surabaya
Dosen Pembimbing Lapangan I Gde Sandy Satria, S.H., M.H.
Pacet, JurnalPost.com — Alat pembuatan pupuk kompos cair dari sampah rumah tangga menjadi fokus utama dalam kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya pada Senin, 12 Januari 2026, di SMA Walisongo Pacet. Alat sederhana ini diperkenalkan sebagai cara mudah mengubah limbah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah-buahan, menjadi pupuk cair bermanfaat bagi tumbuhan di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN melakukan sosialisasi mengenai fungsi, komponen, dan cara kerja alat pembuatan pupuk cair dari sampah rumah tangga. Alat ini dirancang untuk menampung sampah organik rumah tangga yang kemudian difermentasi menggunakan campuran air dan aktivator. Melalui proses ini, sampah yang biasanya dibuang kini berubah menjadi pupuk cair yang kaya nutrisi untuk kesuburan tanaman.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung membuat pupuk cair dari sampah rumah tangga. Siswa dan guru diajak memahami tahapan proses, mulai dari pengumpulan dan pemotongan sampah organik rumah tangga, pemasukan bahan ke dalam alat, pencampuran larutan fermentasi, hingga penutupan wadah untuk proses fermentasi. Mahasiswa KKN juga menjelaskan pentingnya perawatan alat selama fermentasi agar pupuk cair yang dihasilkan optimal untuk menyuburkan tumbuhan.

Koordinator mahasiswa KKN UNTAG Surabaya menyampaikan bahwa sosialisasi ini bertujuan mengajarkan siswa cara mengubah sampah rumah tangga menjadi manfaat nyata melalui teknologi sederhana yang ramah lingkungan. “Dari sampah jadi manfaat, proses pengolahan limbah organik rumah tangga dapat dilakukan secara mudah, murah, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pihak SMA Walisongo Pacet menyambut baik kegiatan ini karena alat dan proses pembuatannya dinilai sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari. Selain mudah digunakan, alat ini membantu siswa memahami secara langsung bagaimana sampah rumah tangga berubah menjadi pupuk cair yang berguna untuk tumbuhan.
Antusiasme siswa terlihat saat mengikuti sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk cair dari sampah rumah tangga. Mereka aktif mengamati setiap tahapan dan memahami peran alat sebagai sarana utama mengelola sampah rumah tangga di lingkungan sekolah.
Melalui kegiatan ini, alat pembuatan pupuk cair dari sampah rumah tangga diharapkan terus dimanfaatkan sebagai media edukasi lingkungan di SMA Walisongo Pacet, mendorong penerapan pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan.




