• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Creative Industry Madura Berjalan Tanpa Arah Kebijakan

Editor Redaksi
12 Januari 2026
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Industri kreatif kini bukan sekadar tren ekonomi semata, tetapi telah menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang relevan bagi daerah-daerah berlatar budaya kuat seperti Madura. Namun faktanya, di Madura sektor ini masih berjalan tanpa arah kebijakan yang jelas, sehingga potensi besar yang ada belum mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara optimal. Ketika kebijakan belum hadir, kreativitas lokal justru rentan tergerus oleh arus pasar dan dominasi produk luar.

Sektor ekonomi kreatif di Indonesia secara nasional menunjukkan kontribusi nyata terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2025, sektor ekonomi kreatif berhasil menyerap sebanyak 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional, jauh melampaui target nasional. Jumlah ini bahkan meningkat dari capaian 2024 yang mencapai 26,48 juta pekerja.

Tidak hanya soal tenaga kerja, kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga semakin kuat. Data resmi menunjukkan nilai PDB dari sektor ekonomi kreatif mencapai sekitar Rp1.611,2 triliun pada 2024 atau sekitar 7,28 persen dari total PDB Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa industri kreatif telah melampaui sekadar slogan ia benar-benar menjadi komponen penting dalam struktur ekonomi nasional.

Kontribusi ini juga ditopang oleh perkembangan teknologi digital dan perilaku konsumsi generasi muda: lebih dari 50 persen tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif berusia di bawah 40 tahun, menjadikan sektor ini sangat relevan sebagai sumber lapangan kerja masa depan.

Namun, ketika dibandingkan dengan capaian nasional, realitas di Madura masih jauh dari optimal. Madura memiliki warisan budaya yang kuat, seperti batik khas, kuliner khas, kriya tradisional, hingga narasi budaya lokal, yang sejatinya bisa menjadi modal unggulan bagi creative industry. Sayangnya, belum ada data resmi dan sistematis yang menunjukkan perkembangan industri kreatif di Madura secara terukur. Tidak adanya data yang memadai membuat perumusan kebijakan daerah menjadi tidak berbasis bukti, sementara pemerintah pusat sendiri baru dalam beberapa tahun terakhir menggairahkan penyusunan data statistik industri kreatif melalui kolaborasi BPS dan Kemenparekraf.

Ketiadaan kebijakan daerah yang kuat ini berdampak pada pelaku kreatif lokal. Banyak kreator, perajin, dan pelaku UMKM kreatif di Madura harus bertahan tanpa akses permodalan, pelatihan teknis, dukungan pemasaran, hingga fasilitas inkubasi bisnis. Padahal, pengalaman di wilayah lain menunjukkan bahwa fokus kebijakan dapat meningkatkan daya saing industri kreatif secara signifikan: provinsi seperti Jawa Barat bahkan telah menyerap jutaan tenaga kerja melalui sektor ini dengan subsektor seperti fesyen, kuliner, dan kriya menjadi kontributor utama.

Situasi ini seolah menjadi paradoks: talenta muda dan budaya lokal makin berkembang, tetapi ekosistem pendukungnya tidak ada. Di tingkat nasional, pemerintah tengah menguatkan strategi berbasis data untuk merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran; namun kebijakan yang sama belum terpancar dari tingkat pemerintahan daerah di Pulau Garam ini. Tanpa arah kebijakan yang jelas termasuk roadmap industri kreatif, insentif fiskal, pelatihan berkelanjutan, dan fasilitas pemasaran talenta lokal akan tetap terfragmentasi dan sulit bersaing.

Creative industry memiliki peran strategis dalam memitigasi tantangan ekonomi daerah yang selama ini bergantung pada sektor tradisional. Madura seharusnya tidak hanya menjadi penonton di era ekonomi kreatif, tetapi menjadi pusat pertumbuhan kreativitas berbasis budaya lokal yang kompetitif. Untuk itu, pemerintah daerah harus segera menghadirkan kebijakan yang berpihak, berbasis data, dan terintegrasi dengan strategi nasional. Tanpa itu, potensi besar industri kreatif Madura hanya akan menjadi janji tanpa realisasi muncul di narasi, tapi hilang di lapangan.

Penulis Bagus Indra Saputra – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.