
Oleh: Hani Balgisa Irawati
JurnalPost.com – Cedera olahraga merupakan kondisi yang umum dialami oleh individu yang aktif secara fisik, terutama remaja dan atlet. Cedera bisa terjadi karena aktivitas berlebihan, teknik gerakan yang salah, atau kurangnya pemanasan sebelum berolahraga. Akibatnya, tubuh mengalami gangguan pada otot, ligamen, atau sendi yang menimbulkan rasa nyeri dan keterbatasan gerak. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental seperti stres, rasa takut, dan hilangnya semangat untuk berlatih. (M. Suprawesta et al., 2024) melaporkan bahwa sekitar 67% remaja yang aktif berolahraga pernah mengalami cedera, dan banyak diantaranya belum mendapatkan penanganan fisioterapi yang tepat. Oleh karena itu, fisioterapi berperan penting dalam membantu proses pemulihan, baik dari sisi fisik maupun mental pasien, agar mereka dapat kembali beraktivitas secara optimal.
Fisioterapi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang fokus pada pemulihan fungsi gerak tubuh melalui latihan, terapi manual, serta penggunaan alat bantu seperti kompres panas, dingin, dan infrared. Menurut (Tasya Salim & Wijaya Saputra, 2021), fisioterapi dapat memperbaiki fungsi otot, meningkatkan kekuatan, serta mengurangi rasa sakit akibat cedera. Dalam konteks rehabilitasi olahraga, fisioterapi membantu pasien untuk kembali beradaptasi dengan aktivitas fisik secara bertahap tanpa menimbulkan rasa takut atau trauma. Selain memberikan terapi fisik, fisioterapis juga berperan dalam memberikan edukasi tentang cara menjaga postur tubuh dan teknik olahraga yang aman agar cedera serupa tidak terulang.
Pendekatan fisioterapi yang digunakan saat ini bersifat menyeluruh atau holistik. (N. Marliana & Tonis R., 2024) menjelaskan bahwa pendekatan fisioterapi tidak hanya memusatkan perhatian pada pemulihan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek psikologis dan sosial pasien. Di SMAN 5 Pekanbaru, misalnya, program terapi dilakukan melalui kombinasi latihan peregangan, terapi manual, serta edukasi pencegahan cedera. Pendekatan ini dikenal dengan konsep biopsikososial, yang berarti fisioterapis melihat pasien sebagai satu kesatuan antara tubuh, pikiran, dan lingkungan. Dengan metode ini, pasien merasa lebih diperhatikan dan lebih termotivasi dalam menjalani proses rehabilitasi.
Tujuan utama fisioterapi bukan hanya memulihkan fungsi tubuh, tetapi juga membantu pasien membangun kembali rasa percaya diri dan kesiapan mental. (N. Marliana & Tonis R., 2024)menemukan bahwa setelah enam minggu program fisioterapi, pasien mengalami penurunan tingkat nyeri yang signifikan serta peningkatan semangat dalam berolahraga kembali. Penelitian lain oleh (Salahuddin, 2025) juga menunjukkan bahwa fisioterapi dapat menurunkan tingkat stres hingga 45% pada pasien yang mengalami cedera. Latihan dan stimulasi fisik secara rutin merangsang pelepasan hormon endorfin yang membuat tubuh terasa lebih rileks dan tenang. Dengan begitu, fisioterapi tidak hanya berperan sebagai terapi fisik, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan emosional pasien.
Berdasarkan berbagai penelitian, fisioterapi terbukti memberikan hasil yang positif terhadap pemulihan pasien cedera olahraga. (Tasya Salim & Wijaya Saputra, 2021) menjelaskan bahwa terapi infrared dan latihan terstruktur membantu mempercepat proses penyembuhan dislokasi bahu. Marlina et al.(2024) menambahkan bahwa penerapan program fisioterapi di sekolah meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya pencegahan cedera. Sementara itu, (Salahuddin, 2025) menyimpulkan bahwa fisioterapi juga berdampak pada kesehatan mental pasien, terutama dalam menurunkan stres dan meningkatkan motivasi. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan fisioterapi tidak hanya diukur dari pemulihan fisik, tetapi juga dari pemulihan psikologis dan sosial pasien.
Keberhasilan program fisioterapi bergantung pada beberapa faktor pendukung seperti kedisiplinan pasien, dukungan keluarga, serta ketersediaan tenaga medis dan fasilitas yang memadai. Marliana et al. (2024) menegaskan pentingnya kolaborasi antara fisioterapis, guru olahraga, dan siswa agar terapi berjalan maksimal. Namun, pelaksanaan fisioterapi juga menghadapi kendala seperti keterbatasan fasilitas di beberapa daerah, kurangnya tenaga profesional, serta rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya terapi setelah cedera. (M. Suprawesta et al., 2024) menemukan bahwa banyak pasien menghentikan terapi sebelum waktunya karena merasa sudah sembuh, padahal pemulihan belum optimal. Hal-hal inilah yang menjadi tantangan dalam upaya memperluas manfaat fisioterapi di masyarakat.
Dapat disimpulkan bahwa fisioterapi memiliki peran penting dalam membantu pasien pulih secara menyeluruh setelah cedera olahraga. Fisioterapi tidak hanya mengembalikan fungsi tubuh, tetapi juga memperkuat kondisi mental melalui pendekatan yang terarah dan konsisten. Program terapi yang dilakukan secara rutin dapat menurunkan nyeri, mengurangi stres, dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri pasien. Untuk mendukung hal ini, diperlukan peningkatan fasilitas, edukasi, serta kolaborasi antara tenaga medis dan lembaga pendidikan. Dengan begitu, fisioterapi dapat dioptimalkan sebagai sarana pemulihan fisik dan mental bagi semua pasien cedera olahraga.
DAFTAR PUSTAKA
Marliana, N. , & Tonis R. (2024). PERAN FISIOTERAPI DALAM MENGURANGI NYERI PADA OTOT DAN SENDI PADA CIDERA OLAHRAGA YANG SERING DIALAMI REMAJA DI SMAN 5 PEKANBARU. Awal Bros Journal of Community Development Edisi, 5(2).
Salahuddin, M. (2025). Pengaruh Fisioterapi Terhadap Penurunan Stres Pasien Cedera Olahraga. 1(1).
Suprawesta, M., R., &, & Esser, I. W. (2024). HUBUNGAN PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA DAN KONDISI SAAT KEMBALI BEROLAHRAGA PASCA CEDERA PADA REMAJA. 2(1). https://permatamandalika.com/index.php/MADU
Tasya Salim, A., & Wijaya Saputra, A. (2021). EFEKTIVITAS PENGGUNAAN INTERVENSI FISIOTERAPI TERAPI LATIHAN DAN INFRARED PADA KASUS DISLOKASI SENDI BAHU. Indonesian Journal of Health Science, 1(1).



