• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Stand Up Comedy Ramai di Konten, Sepi di Keberlanjutan

Editor Redaksi
8 Januari 2026
in Kolom Opini

Oleh: Raulghany Rangguci Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, UMM Malang.

JurnalPost.com – Scroll media sosial hari ini, komedi ada di mana-mana. Potongan stand up comedy viral, cuplikan open mic berseliweran, tawa jadi konten yang mudah dikonsumsi. Tapi di balik itu, jarang yang bertanya: apakah dunia stand up comedy benar-benar menjanjikan sebagai ladang kerja kreatif?

Stand up comedy hari ini memang bukan lagi sekadar orang berdiri di atas panggung lalu melucu. Di balik mikrofon, ada proses panjang: menulis materi, mengamati sekitar, mengolah pengalaman hidup, hingga berani menyentuh kritik sosial. Modalnya terlihat sederhana, tapi isinya dalam. Sayangnya, kesederhanaan itu sering membuat profesi komika dianggap enteng.

Perkembangan platform digital membuka peluang besar. Banyak komika yang dulu hanya tampil di kafe kecil kini bisa dikenal lewat YouTube, TikTok, atau podcast. Mereka membangun audiens sendiri tanpa harus bergantung penuh pada televisi. Dunia digital memberi ruang, memberi panggung, dan memberi harapan.

Namun di titik ini, masalah mulai muncul. Jumlah komika bertambah, tapi ruang hidupnya tidak ikut melebar. Persaingan semakin ketat, tuntutan untuk selalu lucu dan relevan datang hampir setiap hari. Algoritma tidak peduli pada proses kreatif; ia hanya menuntut konsistensi dan viralitas. Akibatnya, banyak komika kelelahan secara mental karena harus terus memproduksi materi, sementara ide tidak selalu datang sesuai jadwal.

Masalah lain yang jarang dibicarakan adalah soal pendapatan. Tidak semua komika memiliki panggung rutin atau kerja sama brand yang stabil. Banyak yang akhirnya harus membagi fokus dengan pekerjaan lain demi bertahan hidup. Ironisnya, di saat penonton tertawa lepas, orang di atas panggung sering masih bertanya: bulan depan makan dari mana?

Padahal, stand up comedy bukan industri satu orang. Di balik satu komika, ada penulis materi, manajer, promotor, editor, hingga tim produksi konten. Jika ekosistemnya sehat, satu panggung bisa menggerakkan banyak lapangan kerja kreatif. Tapi tanpa apresiasi yang layak, talenta-talenta ini mudah gugur di tengah jalan.

Masalah utamanya bukan kurangnya kreativitas, tapi kurangnya kesadaran bahwa komika adalah pekerja kreatif, bukan sekadar penghibur dadakan. Selama dunia ini hanya dilihat sebagai hiburan murah, kualitas dan keberlanjutannya akan terus terancam.

Pada akhirnya, stand up comedy lebih dari sekadar lucu. Ia adalah ruang ekspresi, kritik sosial, dan refleksi hidup yang dibungkus tawa. Jika ingin industri ini bertahan, dukungan penonton, media, penyelenggara, bahkan pemerintah harus lebih dari sekadar tepuk tangan. Karena di balik tawa yang kita nikmati, ada kerja keras yang sering tak terlihat.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.