• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Aksi Heroik Askar menyelamatkan Seorang Pria di Masjidil Haram

Editor Redaksi
8 Januari 2026
in Artikel

Aksi Heroik

Oleh: Muhammad Afif Baihaqi

JurnalPost.com – Pada Kamis, 25 Desember 2025, sebuah peristiwa dramatis dan tidak terduga terjadi di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Seorang pria diduga mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai atas masjid yang merupakan tempat paling suci bagi umat Islam. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian tersebar luas dan menjadi viral di berbagai platform media sosial, menarik perhatian publik internasional. Sorotan publik tidak hanya tertuju pada dugaan upaya bunuh diri tersebut, tetapi terutama pada respons cepat dan penuh risiko yang dilakukan oleh seorang petugas keamanan yang dikenal sebagai askar, yang berupaya menyelamatkan nyawa pria tersebut di detik-detik kritis.

Kejadian ini berlangsung di salah satu area lantai atas Masjidil Haram, tempat ribuan jamaah beribadah setiap hari, termasuk di musim raya dan saat kunjungan tahunan yang padat. Pria yang melompat itu tampak bergerak menuju tepi dan kemudian terjun bebas, memicu respons instan dari pasukan keamanan yang berjaga di lokasi. Dalam sekejap, seorang askar berlari untuk mencoba menghentikan atau paling tidak memperlambat jatuhnya pria tersebut. Insiden ini terjadi di tengah kerumunan jemaah yang sedang melakukan tawaf dan ibadah lain di kawasan Ka’bah, sehingga aksi tersebut memicu kepanikan singkat di antara para pengunjung.

Petugas keamanan yang terlibat langsung dalam upaya penyelamatan tersebut diketahui bernama Rayan bin Saeed al-Asiri. Ia kemudian diidentifikasi oleh otoritas Arab Saudi sebagai askar yang berperan penting dalam menyelamatkan nyawa pria tersebut. Saat pria itu terjatuh, Rayan berada tepat di bawah lintasan jatuhnya dan secara refleks mempertaruhkan tubuhnya sendiri untuk menahan benturan langsung ke lantai. Akibat tindakan tersebut, baik Rayan maupun pria yang diselamatkan mengalami luka serius dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Peristiwa ini menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi petugas keamanan dalam menjalankan tugas kemanusiaan di lingkungan ibadah yang penuh tantangan.

Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Naif, secara pribadi menghubungi Rayan saat ia menjalani perawatan di rumah sakit untuk menyampaikan apresiasi atas keberanian dan keteguhan hatinya. Dalam pernyataan resminya, sang menteri menyebut tindakan tersebut sebagai contoh nyata pengorbanan dan pelayanan yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur serta dedikasi tinggi aparat keamanan di kawasan suci. Otoritas terkait juga menegaskan bahwa seluruh prosedur keselamatan telah dijalankan, termasuk evakuasi korban dan penanganan medis sesuai protokol.

Selain respons dari pemerintah, insiden ini juga mendapat perhatian dari Imam Besar Masjidil Haram Syekh Abdur Rahman As-Sudais yang kemudian menyerukan kepada para jamaah dan pengunjung agar menaati peraturan dan menjaga kesucian Masjidil Haram. Beliau mengingatkan bahwa menjaga kehidupan adalah salah satu prinsip utama dalam Islam, dan setiap tindakan yang membahayakan diri sendiri bertentangan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya perlindungan terhadap nyawa. Pernyataan ini menegaskan kembali bahwa tempat ibadah harus dihormati sebagai lokasi keselamatan, spiritualitas, dan ketenangan.

Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini juga memunculkan perbincangan tentang pentingnya kesejahteraan mental dan dukungan terhadap jamaah, terutama mereka yang mungkin mengalami tekanan emosional atau psikologis saat menjalankan ibadah di tempat yang sangat signifikan secara spiritual. Banyak pengamat menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pengingat bahwa selain fasilitas fisik dan keamanan, dukungan mental dan pendidikan emosional juga penting untuk para jamaah yang beribadah di situs keagamaan paling suci dalam Islam.

Aksi heroik yang dilakukan oleh Rayan ini telah menjadi simbol dari nilai-nilai kemanusiaan dan pengabdian tanpa pamrih, di mana seorang petugas keamanan tidak hanya menjalankan tugas profesional, tetapi juga mengambil langkah determinatif untuk menyelamatkan nyawa sesama. Di tengah lokasi yang menjadi pusat ibadah jutaan umat Islam di seluruh dunia ini, tindakan tersebut menunjukkan bahwa keamanan dan perlindungan terhadap kehidupan manusia merupakan aspek fundamental yang dijunjung tinggi oleh otoritas, jamaah, dan komunitas yang terlibat.

Peristiwa dramatis di atas bukan hanya berita tentang keselamatan fisik atau manajemen keamanan di keramaian, tetapi juga membuka ruang refleksi yang lebih dalam mengenai psikologi manusia, spiritualitas, simbol sakral, dan hasrat yang tak terpenuhi. Dalam konteks inilah, teori hasrat Jacques Lacan dapat digunakan sebagai alat analisis sebagai dasar.

Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis yang melanjutkan sekaligus menafsirkan ulang gagasan Sigmund Freud, memandang manusia sebagai subjek yang selalu kurang dan terus dibentuk oleh bahasa, simbol, dan Yang Lain (the Other). Bagi Lacan, hasrat bukan sekadar keinginan biologis, melainkan struktur yang membentuk subjektivitas manusia itu sendiri. Hasrat bukan tentang apa yang diinginkan, tetapi tentang dari mana hasrat itu datang, yaitu dari Yang Lain sebagai tatanan simbolik yang lebih besar daripada individu.

Insiden di Masjidil Haram sebagai ruang paling suci dan pusat simbolik umat Islam, memperlihatkan pertemuan antara individu, negara, agama, hukum, dan tatanan simbolik global. Ketika seseorang mencoba mengakhiri hidupnya di ruang sesakral itu, sementara seorang askar mempertaruhkan keselamatannya demi menyelamatkan nyawa orang lain, kita menyaksikan benturan berbagai lapisan makna: kesucian, tubuh, hukum, ritual, dan hasrat.

Berikut beberapa analisis terkait peristiwa di atas yang dihubungkan dengan teori Lacan:

A. Teori Hasrat menurut Lacan

1. Subjek yang kurang (lack)
“Desire is the metonymy of the lack of being” (Lacan, Ecrits)
Menurut Lacan, manusia adalah makhluk yang selalu kurang. Kekurangan itu bukan sekadar tidak punya sesuatu, melainkan sifat ontologis subjek. Manusia selalu mengejar sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya bisa diraih, manusia selalu merasa kurang. Insiden di Masjidil Haram dapat dibaca sebagai manifestasi ekstrem dari rasa kurang itu, bukan dalam arti pembenaran, tetapi sebagai struktur hasrat yang tidak pernah selesai. Rasa kurang tersebut muncul ketika subjek memasuki bahasa dan simbol. Saat seseorang berdiri di hadapan situs tersuci, rasa kurang itu bisa semakin disadari secara intens. Subjek berhadapan dengan Yang Mahabesar, sementara ia merasa kecil. Lacan menyebut bahwa hasrat tidak pernah diarahkan pada objek tertentu saja, melainkan pada yang hilang di dalam diri.

2. Hasrat tidak sama dengan Kebutuhan
Lacan membedakan kebutuhan (need) lebih berhubungan kepada biologis, permintaan (demand) lebih mengarah kepada Yang Lain, dan hasrat (desire) sisanya dari di atas yang tidak pernah terpenuhi. Hasrat tidak pernah benar-benar selesai. Ia selalu bergeser, karena yang dicari bukan objeknya, melainkan pengakuan dari Yang Lain.

3. Yang Lain (the Other)
“Man’s desire is the desire of the Other” (Lacan, Seminar XI)
Yang Lain dapat berupa Bahasa, hukum, agama, masyarakat, dan tatanan simbolik. Manusia selalu berhasrat melalui Yang Lain. Ia ingin diakui, dilihat, dianggap ada. Di sinilah Masjidil Haram sebagai simbol Yang Lain yang sangat besar memainkan peran.

4. Objet petit a
“The objet petit a is the cause of desire” (Lacan, Seminar X)
Objet petit a adalah objek kecil penyebab hasrat, sesuatu yang memicu hasrat tetapi tidak pernah benar-benar dimiliki. Ia seperti bayang-bayang yang selalu bergerak di depan. tidak pernah ada kepenuhan total. Yang dicari selalu bergeser, dan objet petit a hanya memicu, bukan mengisi kekurangan itu.

5. Jouissance (kenikmatan berlebih)
“Jouissance is what one experiences when one goes beyond the pleasure principle.” (Lacan, Seminar VII)
Lacan berbicara tentang jouissance sebagai kenikmatan yang melampaui prinsip kesenangan, seringkali menyentuh batas sakit, risiko, dan bahaya. Ia berkaitan dengan dorongan melampaui hukum simbolik. Penjelasan Lacan bersifat teoritis, tidak membenarkan tindakan membahayakan diri, tetapi membantu memetakan dinamika batin manusia yang kompleks.
6. Hasrat dan kematian
Dalam psikoanalisis, ada dinamika antara dorongan hidup (Eros) dandorongan kematian (Thanatos). Namun Lacan menolak pemahaman simplistik; baginya yang penting adalah bagaimana subjek menghadapi kekurangannya dalam bahasa dan simbol.

B. Masjidil Haram sebagai Ruang Simbolik Tertinggi

Masjidil Haram bukan hanya bangunan ibadah. Masjid tersebut sebagai ruang ritual, pusat imajinasi kolektif, tatanan simbolik global, dan representasi kesucian. Dalam kerangka Lacan, Masjidil Haram dapat dipandang sebagai figur Yang Lain Besar (the Big Other), dikarenakan jutaan orang datang untuk mencari makna, mengakui kekurangan diri, merayu ampunan, dan berharap kedekatan dengan Tuhan. Di hadapan Yang Lain Besar ini, subjek semakin sadar akan ketidaklengkapan dirinya, sehingga peristiwa melompat di tempat itu tidak hanya insiden individual, tetapi juga retakan dalam simbolik, sesuatu yang tak terbayangkan terjadi di ruang suci. Karena itulah respons emosional publik begitu kuat.

C. Hasrat Religius dan Rasa Kurang

Dalam ibadah, manusia membawa harapan, rasa bersalah, luka batin, trauma, penyesalan, dan juga kelelahan eksistensial. Bagi Lacan, religiusitas juga merupakan mediasi hasrat melalui simbol-simbol agama. Doa, ritual, dan ziarah adalah cara subjek berhubungan dengan Yang Lain. Adapan orang yang berada dalam kondisi psikis tertentu mungkin akan merasa tak layak, merasa gagal, merasa tidak dilihat, bahkan merasa tak ada jalan keluar.

Teori Lacan tidak menghakimi, tetapi menunjukkan bahwa hasrat selalu memiliki dua perasaan yang bertentangan, Misal seseorang mencari cinta, pengakuan, pengampunan, tetapi juga bergulat dengan rasa kosong. Namun tindakan membahayakan diri bukan solusi, dan di sinilah peran sosial, medis, spiritual, dan manusiawi menjadi krusial.

D. Tubuh sebagai Medium Simbolik

Dalam peristiwa tersebut, tubuh memainkan banyak peran, seperti: tubuh orang yang jatuh, tubuh askar yang menahan, dan juga tubuh jemaah yang menyaksikan. Tubuh tidak netral dan dapat disebut sebagai tanda. Di ruang suci, tubuh menjadi bagian dari ritual, doa, sujud. Ketika tubuh jatuh dari ketinggian, itu sekaligus memutus dan mengganggu tata tertib simbolik. Askar yang menyelamatkan mengorbankan tubuhnya sendiri. Dalam kacamata Lacan, itu tidak sekadar tindakan fisik melainkan intervensi simbolik yang mempertahankan tatanan hokum, tatanan keselamatan, dan tatanan sacral. Tindakan itu juga memperlihatkan hasrat menjaga kehidupan dan suatu nyawa yang bernilai.

E. Viralitas, Tatapan, dan Hasrat Komunal
“I see only from one point, but in my existence, I am looked at from all sides.” (Lacan, Seminar XI)
Video peristiwa tersebar cepat. Ribuan orang menonton. Inilah yang Lacan sebut “the gaze” (tatapan). Yang menjadi objek bukan hanya individu yang jatuh, melainkan: kesucian yang terguncang, heroisme askar rasa takut kolektif, empati dan keterkejutan. Media sosial bekerja sebagai Yang Lain digital yang dapat mengomentari, menilai, menghakimi, serta memaknai. Publik berpartisipasi dalam produksi makna, menunjukkan bahwa hasrat bukan individual, melainkan selalu intersubjektif.

F. Jouissance dan Batas-Batasnya
Jouissance dalam Lacan adalah kenikmatan yang melampaui batas, seringkali menyentuh rasa sakit. Dalam konteks religius, pengalaman spiritual ekstrem kadang mendekati wilayah ini. Namun etika Islam dan etika kemanusiaan menekankan, bahwa menjaga kehidupan, melindungi jiwa, dan tidak membahayakan diri, sehingga pentingnya suatu dukungan keluarga, konseling, layanan kesehatan mental, dan empati sosial.

Dari peristiwa ini, kita belajar, bahwa hasrat manusia kompleks dan tak selesai, ruang suci tidak menghilangkan penderitaan psikologis, simbol besar tidak menghapus luka batin individu, tetapi solidaritas dan keberanian dapat menyelamatkan hidup. Askar yang menyelamatkan menunjukkan bahwa di tengah kompleksitas hasrat dan trauma, tindakan etis tetap mungkin.
Menggunakan teori hasrat Lacan, kita melihat bahwa: manusia adalah subjek yang kurang, hasrat lahir dari Yang Lain, ruang suci memperkuat kesadaran akan kekurangan itu, tindakan ekstrem tidak bisa direduksi pada penjelasan tunggal, penyelamatan nyawa adalah peneguhan nilai etis tertinggi.
Peristiwa di Masjidil Haram pada akhirnya memperlihatkan paradoks manusia:
• rapuh, tetapi mampu menolong
• terluka, tetapi mampu melindungi
• kurang, tetapi mencari makna

Itu semua menjadi cermin bahwa kehidupan, betapapun beratnya, tetap bernilai untuk dijaga.

Daftar Pustaka
Lacan, J. (2006). Écrits: The first complete edition in English (B. Fink, Trans.). W. W. Norton & Company.
Lacan, J. (1978). The four fundamental concepts of psychoanalysis (A. Sheridan, Trans.). W. W. Norton & Company.
Lacan, J. (1992). The ethics of psychoanalysis, 1959–1960 (D. Porter, Trans.). W. W. Norton & Company.
Lacan, J. (2013). Anxiety: The seminar of Jacques Lacan, Book X (A. R. Price, Trans.). Polity Press.
Detik.com. (2025, Desember 26). Pria lompat dari lantai atas Masjidil Haram, satu askar terluka. https://www.detik.com/hikmah/haji-dan-umrah/d-8278324/pria-lompat-dari-lantai-atas-masjidil-haram-1-askar-terluka
Republika.co.id. (2025, Desember 27). Ini detik-detik pria loncat dari lantai atas Masjidil Haram dan gerak heroik askar menyelamatkannya. https://news.republika.co.id/berita/t7wzvz377/ini-detikdetik-pria-loncat-dari-lantai-atas-masjidil-haram-dan-gerak-heroik-askar-menyelamatkannya
NDTV. (2025, December 26). Man attempts suicide from Mecca’s Grand Mosque, security officer injured. https://www.ndtv.com/world-news/video-man-attempts-suicide-from-meccas-grand-mosque-security-fractured-in-rescue-bid-9985159
Khaleej Times. (2025, December 26). Saudi security officer injured while saving man who jumped at Masjid Al Haram. https://www.khaleejtimes.com/world/gulf/saudi-arabia-officer-injured-saving-man-masjid-al-haram
Arab News. (2025, December 27). Saudi interior minister praises officer injured while saving life at Grand Mosque. https://www.arabnews.com/node/2627529/saudi-arabia

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.