
Oleh : Julio Maulid Borizki
JurnalPost.com – Menjelang penghujung tahun anggaran 2025, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali membuktikan peran vitalnya. Di tengah dinamika global yang diwarnai pasang surut ketegangan dagang dan fluktuasi harga komoditas, APBN kita tetap berdiri kokoh sebagai shock absorber (peredam guncangan) untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Berikut adalah rangkuman kinerja APBN Kita hingga akhir November 2025.
- Ekonomi Domestik Tetap Resilien
Kabar baik datang dari fundamental ekonomi kita. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan III 2025 tercatat tumbuh 5,04% (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergeliat di tengah ketidakpastian global. Selain itu, daya beli masyarakat masih terjaga dengan baik, tercermin dari laju inflasi bulan November yang terkendali di angka 2,72% (yoy). Di sektor produksi, aktivitas manufaktur Indonesia juga terus berekspansi dengan angka PMI Manufaktur mencapai level 53,3 pada November 2025, naik signifikan dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa roda industri di dalam negeri terus berputar kencang.
- Kinerja Pendapatan Negara: Optimal di Tengah Tantangan
Hingga 30 November 2025, Pendapatan Negara telah terealisasi sebesar Rp2.351,5 Triliun atau mencapai 82,1% dari target outlook. Capaian ini didukung oleh kinerja positif dari beberapa sektor utama:
- Penerimaan Pajak: Realisasi bruto penerimaan pajak mencapai Rp1.985,5 Triliun, tumbuh positif 1,9% (yoy). Kinerja ini ditopang oleh pajak penghasilan (PPh) dan PPN yang tetap tumbuh seiring dengan terjaganya konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
- Kepabeanan dan Cukai: Sektor ini mencatatkan pertumbuhan 4,5% (yoy) dengan realisasi Rp269,4 Triliun. Pertumbuhan signifikan terjadi pada Bea Keluar yang melonjak hingga 52,2% akibat kenaikan harga CPO dan kebijakan ekspor mineral.
- PNBP: Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terjaga solid sebesar Rp444,9 Triliun (93,2% dari outlook), meskipun menghadapi tantangan normalisasi harga komoditas global seperti minyak dan batubara.
- Belanja Negara: Fokus pada Kesejahteraan Rakyat
Pemerintah terus mengakselerasi belanja negara untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Realisasi Belanja Negara hingga 30 November 2025 mencapai Rp2.911,8 Triliun (82,5% dari outlook). Belanja Pemerintah Pusat, yang sebagian besar disalurkan melalui KPPN ke berbagai Satuan Kerja, mencapai Rp2.116,2 Triliun. Anggaran ini digunakan untuk berbagai program strategis yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat, antara lain:
- Makan Bergizi Gratis (MBG): Program andalan ini telah terealisasi sebesar Rp52,9 Triliun dan menjangkau 50,7 juta penerima manfaat (anak sekolah, ibu hamil, dan balita) serta menyerap lebih dari 740 ribu tenaga kerja lokal.
- Perlindungan Sosial: Penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) mencapai Rp28,1 Triliun untuk 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan Kartu Sembako sebesar Rp41,7 Triliun.
- Pendidikan: Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dan KIP Kuliah telah tersalurkan sebesar Rp25,3 Triliun kepada 18,3 juta siswa dan mahasiswa.
- Infrastruktur: Pembangunan dan preservasi jalan jembatan terealisasi Rp11,7 Triliun, serta pembangunan 232,7 ribu unit rumah senilai Rp33,9 Triliun.
- Respons Cepat Tanggap Bencana
APBN juga hadir secara responsif saat bencana melanda. Pemerintah memberikan dukungan fiskal cepat untuk penanganan bencana yang terjadi di wilayah Sumatera. Dana Siap Pakai (DSP) dialokasikan untuk 3 provinsi terdampak dengan tambahan sebesar Rp1,6 Triliun pada tahun 2025. Selain itu, pemerintah juga memberikan relaksasi penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) dan restrukturisasi pinjaman daerah untuk mempercepat pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana.
- Pengelolaan Keuangan yang Sehat
Di tengah ekspansi belanja untuk melindungi rakyat, kesehatan fiskal tetap menjadi prioritas utama. Defisit APBN hingga akhir November tercatat sebesar Rp560,3 Triliun atau setara 2,35% terhadap PDB. Angka ini menunjukkan bahwa defisit masih dalam batas aman, terkendali, dan manageable. Pasar keuangan domestik juga menunjukkan tren positif. Minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) membaik, yang berdampak pada penurunan yield SBN 10 tahun menjadi 6,12% dan penguatan nilai tukar Rupiah.
Kinerja APBN hingga akhir 2025 menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi kelompok masyarakat rentan. Sinergi dan peran serta masyarakat dalam mengawasi dan mengawal APBN diperlukan untuk menjaga dan memastikan profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas penyaluran APBN. Semoga di tahun 2026, ekonomi Indonesia semakin kuat dan manfaat pembangunan semakin merata.
APBN Kita, Uang Kita, Masa Depan Kita.
Sumber Data: Materi Konferensi Pers & Newsletter APBN KiTa edisi Desember 2025.
Oleh : Julio Maulid Borizki



