
Oleh: Amanda Kartika Sari, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, Program Studi Fisioterapi
JurnalPost.com – Dalam perkembangan zaman sekarang untuk menjaga kesehatan dan menghindari sakit serta gangguan aktivitas sehari – hari diperlukan adanya cara efektif dan efisien intervensi yang dapat dilakukan masyarakat berupa melakukan aktivitas gerak dan fungsi secara tepat setiap harinya agar terbentuk pola hidup sehat. Jika masyarakat tidak melakukan aktivitas fisik (olahraga) secara benar dan tepat bisa dapat mengakibatkan gangguan gerak maupun fungsi.
Penanganan gangguan gerak dan fungsi dan aktivitas sehari-hari tersebut dapat ditangani oleh Fisioterapi. Fisioterapi adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh fisioterapis untuk mengoptimalkan kualitas hidup dengan cara mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak dan fungsi yang berpotensi terganggu oleh faktor penuaan, cedera, penyakit, gangguan fisik dan faktor lingkungan yang terjadi sepanjang daur kehidupan, melalui metode manual, peningkatan kemampuan gerak, penggunaan peralatan, pelatihan fungsi, dan komunikasi (Ikatan Fisioterapi Indonesia, 2020). Salah satu kasus yang dapat ditangani oleh Fisioterapi yaitu frozen shoulder.
Frozen shoulder atau bisa disebut adhesive capsulitis adalah salah satu gangguan muskuloskeletal yang biasa dialami oleh kelompok lansia. Kondisi ini menyebabkan kaku dan nyeri pada sendi bahu, sehingga dapar membatasi seseorang dalam beraktivitas, contohnya mengenakan pakaian dan mengangkat barang. Hal ini dapat menghambat pasien dalam kemandirian dan menurunkan kualitas hidup seseorang jika tidak segera di tangani. Keadaan ini awalnya ditandai dengan nyeri bahu yang timbul secara berlahan kemudian nyeri bertambah tajam, muncul keterbatasan gerak dan kekakuan sendi bahu (Erwin dkk, 2020).
Sebagi contoh kasus dialami oleh ibu Sari yang berusia 52 tahun mengalami frozen shoulder. Ia mengalami gangguan ini setelah beberapa bulan tidak selalu menggunakan bahu kanannya karena mengalami cedera. Sebelumnya, nyerinya hanya terasa ketika mengangkat tangan, namun semakin lama menjadi sangat kaku dan tidak bisa digerakkan untuk beraktivitas seperti biasa. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga pergerakkan.
Berdasarkan data yang diperoleh medis, presentase frozen shoulder diperkirakan antara 2 hingg 5 persen dari populasi umum dengan kebanyakan terjadi pada usia 40-70 tahun. Gangguan ini sering terjadi oleh wanita dibandingkan pria. Selain faktor jenis kelamin dan usia, Frozen shoulder sering dihubungkan dengan penyakit diabetes melitus. Kadar gula darah yang tinggi pada penderita ini dapat menyebabkan menumpuknya gula pada jaringan kolagen pada sendi. Hal ini akan mengakibatkan sendi menjadi kaku dan sulit digerakkan untuk beraktivitas (Sandor, 2004).
Kasus frozen shoulder memiliki masalah yang kompleks jika dibandingkan dengan tendinis dan bursitis karena terjadi keterbatasan gerak yang lebih berat dan prognisis kesembuhan yang lebih buruk daripada tendinis dan bursitis (Calliet, 1991). Beberapa faktor yang menyebabkan frozen shoulder diantaranya capsulitis adhesiva. Keadaan ini disebabkan oleh suatu peradangan yang mengenal kapsul sendi dan dapat menyebabkan perlengketan kapsul sendi dan tulang rawan, salah satu modalitas yang dipakai adalah latihan terapi. Latihan terapi dapat berbagai macam berupa latihan aktif dan pasif, shoulder wheel, shoulder leader dan terapi manipulasi. Ketebatasan lingkup gerak sendi (LGS) pada frozen shoulder di akibatkan oleh mengkerutnya kapsul sendi, dengan adanya penanganan berupa terapi manipulasi dapat meregangkan kapsul sendi (Naviaser, 1991).
Untuk pencegahan yang sudah berlangsung lama, diperlukannya pemilihan Intervensi Fisioterapi, yaitu hold and relax exercise dan mobilization with movement (MWM) Tujuan fisioterapi untuk meningkatkan kualitas gerak, fungsi sendi bahu, dan kekuatan otot pada penderita frozen shoulder. Penanganan fisioterapinya menggunakan hold relax exercise dan mobilization with movement (Silfi; Indah; Faridah, 2022). Penggunaan exercise juga merupakan metode pengurangan nyeri yang dapat diberikan oleh fisioterapi. Jenis exercise yang dapat diberikan kepada pasien dengan frozen shoulder salah satunya adalah menggunakan hold relax.
Menurut AA Lanang Dananjaya PD, dkk Hold relax exercise dapat mengurangi nyeri dengan teknik proses kontraksi otot secara isometrik dan terjadi peregangan pada otot, karena semakin kuat otot diregang, maka makin kuat kontraksinya. Bila tegangan otot menjadi lebih besar, kemudian kontraksi otot mendadak dihentikan dan otot melemas, maka terjadilah proses relaksasi otot (autogenic inhibition reflex). Hal ini dapat menyebabkan regangan yang lebih saat melakukan kontraksi isometrik, sehingga dapat melampaui titik kelentukan yang maksimum (batas nyeri). Mobilization with movement (MWM) merupakan suatu teknik mobilisasi yang dikembangkan oleh Mulligan, teknik ini menggabungkan aplikasi teknik manual gliding untuk koreksi posisi sendi yang mengalami kesalahan posisi. Kemudian diikuti dengan gerak sendi fisiologis (osteokinematic), baik secara aktif maupun pasif. Teknik Mobilization with movement (MWM) meregangkan jaringan lunak yang mengalami tightness dan mengembalikan ukuran panjang normal pada kapsul sendi bahu dan menormalkan scapulohumeral rhytm dan memberikan efek yang baik (Dananjaya, 2021).
Maka dapat disarankan dengan beberapa saran seperti pada penderita frozen shoulder harus melakukan terapi manipulasi secara rutin dan teratur untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari adanya keterbatasan Lingkup Gerak Sendi (LGS) Dengan baik dsn bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Problem fisioterapi pada kasus frozen shoulder yaitu nyeri, keterbatasan ROM pada sendi bahu, spasme otot, serta gangguan aktifitas fungsional. Intervensi yang diberikan berupa modalitas IRR, US, TENS, terapi manipulasi berupa massage dan traksi, serta terapi latihan ROM, aktif stretching, codman pendulum.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, D. N. (2018). Perbedaan Pengaruh TENS dan Terapi Manipulasi TENS dan Hold Relax terhadap LGS Bahu pada Pasien Frozen Shoulder. Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi, 2(2), 10-19.
Di Denpasar, I. D. I. O. P. A. T. I. K., & Than, H. R. E. I. B. Kombinasi Mobilization With Movement Dan Hold Relax Exercise Lebih Baik Dibandingkan Kombinasi Mobilization With Movement Dan Active Resistance Exercise Dalam Menurunkan Disabilitas Pada Kasus Frozen Shoulder.
Date, A., & Rahman, L. (2020). Frozen shoulder: Overview of clinical presentation and review of the current evidence base for management strategies. Future Science OA, 6(10). https://doi.org/10.2144/fsoa-2020-0145 Hadi, M. A., McHugh, G. A., & Closs, S. J. (2019). Impact of Chronic Pain on Patients’ Quality of Life: A Comparative Mixed-Methods Study. Journal of Patient Experience, 6(2), 133–141. https://doi.org/10.1177/2374373518786013



