
Cover Buku Kehillangan Mestika dan Midah si Manis Bergigi Emas
JurnalPost.com – Banyak perempuan hari ini tumbuh dengan satu pesan yang sama: harus kuat. Ketika mereka bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, mereka dipuji. Ketika mereka memilih pergi, mereka disalahkan. Dalam dua pilihan itu, perempuan sering tetap sendirian menanggung akibatnya.
Novel tentang Kisah Perempuan
Sastra Indonesia sebenarnya sudah lama merekam pola ini. Jauh sebelum istilah kesehatan mental, self-love, atau healing ramai dibicarakan, cerita-cerita tentang perempuan yang berkorban sudah memenuhi halaman novel. Dua di antaranya adalah Kehilangan Mestika (1935) karya Fatimah Hasan Delais dan Midah Si Manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer. Dua karya ini lahir di zaman berbeda dengan pembicaraan yang sama tentang persoalan yang terasa akrab hingga hari ini.
Kehilangan Mestika (KM), yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1935, menghadirkan tokoh Hamidah, perempuan yang hidup dalam tekanan adat dan keluarga. Ia mengorbankan cintanya, menerima perkawinan yang tidak ia kehendaki, dan menjalani peran sebagai istri secara pasrah. Ia memilih diam dan bertahan, karena itulah yang dianggap benar pada zamannya:
“Tetapi aku tahan, aku keraskan hatiku. Secepat-cepat kakiku membawa, pulanglah aku.” (KM, 88)
“Air mataku kukeringkan baik-baik supaya jangan kelihatan bekas menangis. Kemudian aku keluar pula dengan senyuman yang dibuat-buat.” (KM, 99)
Namun setelah semua pengorbanan itu dilakukan, hidup Hamidah tetap dipenuhi kesepian dan kehilangan.
“Air mataku meleleh dengan tak kuketahui. Aku tinggal hidup sendirian, terpisah dari sekalian orang yang kukasihi dan yang mengasihi.
Apakah gunanya hidup yang sedemikian itu?” (KM, 100)
Berbeda dengan Hamidah, Midah dalam Midah Si Manis Bergigi Emas (MSMBE) hidup di Jakarta tahun 1950-an, di tengah kemiskinan dan stigma sosial. Ia hamil oleh lelaki yang dicintainya, tetapi lelaki itu menolak mengakui anak mereka. Midah tidak menuntut dinikahi. Ia hanya meminta pengakuan agar anaknya tidak hidup tanpa identitas ayah:
“Apa kau pinta daripadaku sekarang?
Apa yang kupinta? Akui ini anakmu. Beri aku surat sah, bahwa ini anakmu. Aku dengan kejadian ini akan bertanggung jawab. Tetapi akui ini anakmu.
Engkau mau jebak aku.
Menjebak? Ini hanya akibat perbuatanmu.” (MSMBE, 108)
Pada akhirnya, Midah memilih pergi dan menanggung semuanya sendiri.
“Perempuan muda itu lambat-lambat dengan gerak bimbang mulai menjauh meninggalkan ibu dan anaknya sendiri. Sampai di teritis rumah, ia menengok ke belakang, berkata dengan suara hampir tak kedengaran: “Hanya doa ibu aku harapkan. Hanya restu bapak aku inginkan” (MSMBE, 128)
Apakah pilihan itu benar-benar lahir dari kekuatan Mudah sendiri? atau justru karena ia tidak diberi pilihan lain?
Hamidah dan Midah sama-sama berkorban, meski dengan cara yang berbeda. Hamidah berkorban dengan bertahan. Midah berkorban dengan pergi. Namun hasilnya serupa, keduanya tetap memikul luka sendirian. Pengorbanan perempuan tidak pernah menjadi akhir dari penderitaan, melainkan awal dari hidup yang harus mereka jalani tanpa banyak bantuan. Jika begitu, untuk siapa sebenarnya pengorbanan itu dilakukan?
Lalu, Unfuk Apa?
Memasuki awal 2026, cerita seperti ini terasa masih dekat. Banyak perempuan hari ini masih diminta mengalah demi keluarga, memahami pasangan yang tidak bertanggung jawab, atau menerima keadaan dengan alasan “sudah nasibnya”. Ketika hubungan gagal atau hidup tidak berjalan sesuai rencana, perempuanlah yang paling sering diminta untuk kuat dan ikhlas. Di tengah maraknya ajakan untuk self-healing dan self-love, perempuan didorong untuk menyembuhkan dirinya sendiri, bangkit sendiri, dan berdamai dengan luka yang dialami. Nasihat ini terdengar baik, tetapi sering melupakan satu hal, bahwa luka itu muncul dari relasi dan struktur sosial, bukan dari diri perempuan semata
Melalui dua novel ini, sastra Indonesia memperlihatkan satu pola yang terus berulang: pengorbanan perempuan sering dianggap hal biasa, bahkan mulia. Sementara itu, tanggung jawab sosial, keluarga, dan laki-laki di sekitar mereka perlahan menghilang. Perempuan tetap hidup, tetapi hidup dengan menanggung semuanya sendiri. Sampai kapan pola ini dianggap wajar?
Oleh: Putri Intan Wahyuni, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Deskripsi Artikel: Lewat sastra Indonesia, artikel ini mengajak pembaca mengisi awal tahun dengan membaca dan merenungkan kisah perempuan yang berkorban.



