• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

Editor Redaksi
29 Desember 2025
in Artikel

Oleh:
Muhammad Fathan Arindi
Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Lampu stadion meredup perlahan, layar raksasa menampilkan skor akhir yang tak ingin dilihat siapa pun. Sekali lagi, timnas Indonesia kembali gagal melangkah menuju Piala Dunia. Ribuan suporter yang sebelumnya bernyanyi lantang kini terdiam. Di antara mereka, seorang laki-laki berdiri memeluk syalnya dengan erat. Air matanya jatuh tanpa ia cegah. Ia bukan penggemar baru, ia tumbuh bersama harapan yang terus berulang, “Mungkin tahun ini kita bisa”. Namun setiap kegagalan selalu terasa seperti patah kecil di dalam dada yang sulit dijelaskan. Menangis karena sepakbola? Ia tidak sendirian. Puluhan ribu orang di stadion, jutaan lainnya di rumah, merasakan patah yang sama. Menariknya, ekspresi emosional seperti ini justru dianggap wajar. Laki-laki yang menangis karena sepakbola bukan fenomena baru di Indonesia. Dari final AFF sampai babak kualifikasi Piala Dunia, tangis suporter hampir selalu hadir sebagai latar emosional kolektif. Anehnya, hal yang sama tidak selalu terjadi ketika menyangkut urusan cinta. Banyak laki-laki yang justru kaku, menahan diri, atau memilih diam saat menghadapi patah hati (Oliffe dkk., 2023). Fenomena ini menyingkap dinamika emosional yang unik: mengapa lebih mudah bagi sebagian laki-laki untuk menangis akibat sepakbola dibandingkan cinta?

Bagi banyak laki-laki, sepakbola bukan sekadar pertandingan. Ia menjadi ruang emosional yang aman, tempat mereka boleh merasa marah, kecewa, bangga, dan berduka tanpa harus mempertanggungjawabkan kerentanan mereka. Ketika Indonesia gagal lolos Piala Dunia, tangis tersebut merupakan bukti cinta pada negara dan tim, bukan sebagai bentuk kelemahan (Duarte dkk., 2017). Kawan di sebelahnya mengerti. Orang asing di belakangnya pun mengerti. Ada rasa kebersamaan yang membuat air mata terasa “sah”. Berbeda dengan cinta, ia tinggal dalam ruang yang jauh lebih personal dan intim. Menangis karena cinta berarti membuka sisi paling rapuh dari diri sendiri. Banyak laki-laki tumbuh dalam budaya yang menempatkan kerentanan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Air mata untuk hubungan, patah hati, atau kehilangan justru menjadi beban yang “tidak boleh” ditampilkan. Keengganan untuk mengungkapkan tekanan emosional juga terkait dengan kesesuaian dengan norma-norma maskulin tradisional yang mencegah mencari bantuan dan mempromosikan penanganan masalah secara mandiri, sehingga memperburuk perasaan kesepian dan depresi (Wagner & Reifegerste, 2024; Kwasi dkk., 2025). Emosi itu ada, bahkan lebih dalam, tetapi tidak punya ruang sosial yang memberi izin untuk dilepaskan. Tangis karena cinta cenderung lahir di kamar gelap, bukan di tengah ribuan orang yang bersorak dan meratap bersama.

Faktor psikologis juga ikut bermain. Sepakbola memicu emosi yang meledak secara tiba-tiba. Gol dramatis, penalti yang gagal, ataupun menit akhir yang menentukan. Sistem saraf bereaksi cepat, adrenalin mengalir, dan keterikatan emosional jangka panjang terhadap tim memuncak seketika (Götz dkk., 2020). Ledakan mendadak inilah yang membuat air mata mudah pecah. Sebaliknya, cinta bergerak perlahan. Konfliknya bertahap, kekecewaannya menumpuk perlahan. Ritme ini memberi ruang untuk menekan, merasionalisasi, atau mengubur emosinya sebelum sempat tumpah (Bilić dkk., 2022). Lingkungan sosial memperkuat jurang ini. Suasana menonton sepakbola bersifat komunal. Sorakan, makian, pelukan, dan air mata saling berbaur tanpa rasa canggung. Ketika menangis karena timnas, laki-laki tidak pernah sendirian. Sebaliknya, ketika menghadapi patah hati, mereka jarang memiliki ruang bercerita yang suportif. Tidak semua laki-laki terbiasa mengungkapkan isi hati pada teman dekat. Banyak yang memilih diam, memendam, dan memberi kesan “baik-baik saja” meski emosinya berantakan (Oliffe dkk., 2023). Bukan berarti laki-laki tidak menangis karena cinta, mereka hanya jarang terlihat melakukannya. Ekspresi emosinya tidak mendapat panggung sosial seperti sepakbola. Menangis karena cinta butuh keberanian untuk terlihat rapuh, sementara budaya masih sering menekan ekspresi itu. Sepakbola menawarkan celah pelarian, kesempatan untuk melepaskan emosi tanpa harus membuka diri secara pribadi.

Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan betapa luasnya dunia emosional laki-laki, meski sering terkurung dalam batas budaya dan norma. Mereka menangis pada hal yang memberi izin dan menahan diri pada hal yang membuat mereka takut tersingkap. Memahami perbedaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membuka percakapan yang lebih sehat tentang ekspresi emosi. Ketika masyarakat memberi ruang yang sama bagi laki-laki untuk menangis karena cinta, kehilangan, atau luka batin lainnya, air mata mereka tidak lagi bergantung pada hasil pertandingan. Pada titik itu, air mata tidak lagi menjadi simbol kelemahan, melainkan bukti bahwa manusia, apapun gendernya, tetaplah makhluk yang merasa. Dan mungkin saja, dari keberanian untuk menangis itulah, mereka menemukan kembali dirinya.

Daftar pustaka
Bilić, V., Eterović, M., & Marčinko, D. (2022). Psychodynamic aspects of love: a narrative review. Psychiatria Danubina, 34(1), 3-10.

Duarte, I. C., Afonso, S., Jorge, H., Cayolla, R., Ferreira, C., & Castelo-Branco, M. (2017). Tribal love: the neural correlates of passionate engagement in football fans. Social cognitive and affective neuroscience, 12(5), 718-728.

Götz, F. M., Stieger, S., Ebert, T., Rentfrow, P. J., & Lewetz, D. (2020). What drives our emotions when we watch sporting events? An ESM study on the affective experience of German spectators during the 2018 FIFA World Cup. Collabra: Psychology, 6(1), 15.

Kwasi, E. K. E. D. E., Miezah, G. B. M. G. B., & Agba, P. A. A. P. A. (2025). The Silent Burden: How Toxic Masculinity Creates Psychological Distress and Prevents Help-Seeking Among Ghanaian Men. Interdisciplinary Journal of the African Alliance for Research, Advocacy and Innovation, 1-13.

Oliffe, J. L., Broom, A., Ridge, D., Kelly, M. T., Gonzalez Montaner, G., Seidler, Z. E., & Rice, S. M. (2023). Masculinities and men’s emotions in and after intimate partner relationships. Sociology of health & illness, 45(2), 366-385.

Wagner, A. J., & Reifegerste, D. (2024). Real men don’t talk? Relationships among depressiveness, loneliness, conformity to masculine norms, and male non-disclosure of mental distress. SSM-Mental Health, 5, 100296.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.