
Penulis: Ketut Ari Praptasiwi
“I wish people simply knew that ADHD is so much more than just ‘being hyper”
-unknown
“Kakak nakal sekali, coba diam sebentar!”, “Adik ayo belajarnya yang fokus, jangan main-main dulu!”, “Nak, jangan lari-larian terus”, “Bu, anaknya kenapa sulit sekali diatur?”
Perkataan-perkataan yang tidak sengaja terucap bahkan mungkin dianggap sepele ini, sering kali dilontarkan terhadap sang buah hati, anak-anak yang tanpa disadari ternyata justru memiliki kebutuhan khusus seperti ADHD. Stigma terhadap anak ADHD yang terbentuk di kalangan masyarakat muncul melalui respon orang dewasa atas perilaku anak yang terlalu banyak bicara, sering menganggu orang lain, tidak mau menuruti perkataan, tidak mampu berdiam diri, ataupun sulit untuk fokus melakukan tugas yang diberikan. Hal ini sering dianggap sebagai sebuah kenakalan tanpa tahu benar, apakah sang buah hati memang memiliki karakter yang sulit untuk mengikuti aturan atau sebetulnya ia mengalami gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau dikenal dengan Attention Deficif Hyperactivity Disorder (ADHD).
Nyatanya, ADHD sering terjadi pada usia anak-anak, menurut catatat Wolrd Health Organization (2019) sebanyak 5 – 8% anak-anak di dunia, termasuk di Indonesia tercatat telah mengalami gangguan ini, bahkan ADHD dapat mempengaruhi kehidupan anak hingga usia dewasa apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Namun mirisnya di Indonesia sendiri, pemahaman mengenai ADHD masih tergolong kurang, sehingga anak-anak yang tumbuh tanpa tahu dirinya memiliki kebutuhan khusus ini, justru lebih sering disalahartikan dengan sebutan “anak nakal”. Padahal, peran orang dewasa terutama orang tua bagi anak dengan ADHD sangatlah penting dalam membantu sang buah hati untuk dapat mengatasi gejala yang mereka rasakan agar dapat menjalani kehidupan selayaknya anak-anak pada umumnya. Lantas apa yang yang perlu kita lakukan sebagai orang dewasa, terkhusus sebagai orang tua?
“Mari kenali gangguannya, pahami kebutuhannya, dan dampingi sang buah hati”
Berkenalan dengan Attention Deficif Hyperactivity Disorder
Attention Deficif Hyperactivity Disorder merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan untuk memusatkan perhatian, menunjukan perilaku impulsif, dan hiperaktivitas (Marito dkk., 2024). Menurut National Institute of Mental Health, Anak dengan ADHD memiliki tiga (3) karakteristik utama, masing-masing karakteristik tersebut memunculkan gejala perilaku yang berbeda-beda pada setiap anak. Adapun karakteristik beserta perilaku yang sering ditunjukan, sebagai berikut.
- Inatensi yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian, perilaku yang dimunculkan anak sering kali sulit untuk berkonsentrasi, sulit untuk mengikuti aktivitas secara terjadwal, lebih suka melakukan kegiatan sesuai dengan keinginannya, menjadi pelupa, perhatiannya mudah dialihkan, membutuhkan waktu lama untuk memulai aktivitas, terkadang terlihat seperti tidak mendengarkan jika tidak diajak bicara secara langsung, tidak suka mengikuti instruksi, dan sering kehilangan barang-barang pribadinya (World Health Organization, 2019; Nurputeri dkk., 2024).
- Hiperaktivitas yaitu gangguan tingkah laku secara tidak normal yang disebabkan adanya gangguan pada perkembangan syaraf motorik, perilaku yang ditunjukan seperti sering gelisah, kurang fokus, memiliki banyak energi untuk selalu bergerak, aktivitas yang dilakukan saring berubah-ubah dalam waktu singkat, suka berbicara atau mengoceh, tidak mampu duduk tenang tanpa aktivitas, lebih menyukai aktivitas yang bergerak secara fisik, suka berlarian, suka memanjat ke tempat yang tidak seharusnya, dan kesulitan untuk bermain dengan tenang dalam waktu yang lama (World Health Organization, 2019; Nurputeri dkk., 2024).
- Impulsivitas yaitu dorongan untuk melakukan tindakan dan mengatakan ucapan secara tidak terkendali, perilaku yang ditunjukan biasanya seperti menjawab sebelum pertanyaan selesai, bertindak tanpa berpikir, sering menginterupsi orang lain, sulit untuk menunggu giliran, suka menganggu aktivitas orang lain, dan terkadang menggunakan barang milik orang lain tanpa izin (World Health Organization, 2019; Nurputeri dkk., 2024).
Gejala diatas mungkin saja terjadi pada anak pada umumnya, tetapi pada anak dengan ADHD gejala tersebut akan bersifat lebih parah, sangat sering terjadi, hingga menganggu anak-anak dalam menjalani aktivitas. Dikarenakan anak dengan ADHD cenderung mengalami kesulitan untuk mengontrol diri dan menjaga fokus mereka, hal ini akan mempengaruhi kehidupan anak dalam berinteraksi sosial, belajar hingga bersekolah.

Dampak jika ADHD pada anak disalahpahami
Gejala ADHD yang muncul pada anak jika tidak diberikan penanganan sejak dini akan memberikan dampak yang dapat menurunkan kesejahteraan psikologis anak dan menganggu tumbuh kembang anak. Beberapa temuan mengenai kesalahan penanganan terhadap anak ADHD yang dilakukan oleh Teixeira dkk. (2015) dan Stern dkk. (2018) menyatakan adanya beberapa dampak berikut.
- Terbentuk harga diri yang rendah; anak dengan ADHD yang sering menerima labeling sebagai “anak nakal”, “malas”, “tidak disiplin”, bahkan “tidak pandai belajar” dapat menyimpan stigma tersebut sebagai identitas dirinya hingga usia dewasa, hal ini akan membuat anak tumbuh dengan tidak percaya diri dan tidak dapat mengembangkan potensi dirinya.
- Miss treatment dari keluarga; orang tua maupun lingkungan yang tidak mengetahui bahwa anak mengalami ADHD akan cenderung memiliki stigma negatif terhadap kebutuhan khusus anak, sehingga ketika anak berperilaku tidak sesuai harapan ataupun melanggar aturan, orang dewasa di sekitar anak bisa saja memberikan konsekuensi negatif, hukuman yang tidak konsisten, bahkan tindakan pendisiplinan yang melukai anak. Tindakan ini, justu akan membuat anak semakin membrontak, agresif, bahkan melakukan penyimpangan di usia remaja.
- Kesulitan membangun relasi positif; lingkungan yang tidak memahami ADHD dan perlakuan buruk yang diberikan kepada anak dapat menciptakan benteng tidak terlihat yang membuat anak selalu waspada dan kesulitan dalam menjalani hubungan yang positif dengan orang lain. Anak juga berisiko memiliki gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kesemasan. Selain itu, kemampuan akademik dan penyelesaian masalah anak ketika menginjak usia remaja hingga dewasa juga akan terpengaruhi.

Peran Orang Tua dalam Kehidupan Anak dengan ADHD
Adapun langkah pasti yang dapat dilakukan orang tua dalam mendampingi anaknya, sebagai berikut (Marito dkk., 2024; Nurputeri dkk., 2024).
- Terbuka mengenai kebutuhan khusus anak; begitu menyadari anak memiliki beberapa gejala dari ketiga karakteristik ADHD, orang tua sebaiknya melakukan konsultasi dengan tenaga profesional Kesehatan seperti psikolog, terapis, dan psikiater, serta tenaga profesional Pendidikan seperti pihak sekolah ataupun guru pendamping khusus untuk memperoleh diagnosa yang tepat. Sehingga, tenaga profesional dapat menyarankan penanganan yang tepat untuk gejala yang dialami anak, begitu pula orang tua dapat memberikan dukungan yang tepat terhadap anak.
- Memberikan pendampingan pada anak; orang tua diharapkan mau memahami kebutuhan khusus anak, terlebih tempat pertama anak mengenal dunia adalah orang tua. Maka dari orang tua anak akan belajar untuk bisa menghadapi tantangan atas gangguan yang dialami. Dengan mendampingi, anak sekaligus merasakan perhatian dan dukungan emosional sehingga anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan.
- Menerapkan jadwal harian; orang tua dapat membangun kedisiplinan anak secara perlahan dengan membuatkan jadwal harian secara teratur dan pemberian aktivitas fisik secara konsisten, yang dikombinasikan dengan penguatan (reinforcement) positif. Penguatan yang dimaksud adalah menyeimbangkan pemberian hadiah ketika anak berhasil mengikuti jadwal dan memberikan hukuman yang aplikatif tanpa unsur kekerasan ketika anak melanggar jadwal tersebut.
- Membentuk lingkungan yang supportif; orang tua dapat bekerja sama dengan anggota keluarga, tetangga, ataupun pihak sekolah untuk membantu jalannya treatment (penanganan) yang diberikan kepada anak agar fase terapinya tidak mengalami relapse (pengulangan).
Meskipun, tidak semua orang tua dapat dengan mudah beradaptasi dengan anaknya yang memiliki ADHD, akan tetapi keterlibatan orang tua sangatlah penting dalam hidup anak. Selain membantu orang tua agar lebih memahami anak, memberikan pendampingan pada anak akan sangat membantu anak untuk beradaptasi dengan fase perkembangannya. Orang tua juga memerlukan pemahaman yang tepat mengenai gejala dan kebutuhan anaknya sehingga dapat memberikan penanganan yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan ADHD. Maka dari itu, diperlukan kesabaran dari orang tua dan keluarga untuk mendukung anak dengan ADHD. Karena sejatinya setiap anak yang terlahir di dunia layak menerima kasih sayang tanpa memanda kelebihan dan kekurangan mereka.
REFERENSI
Marito, Y., Anggreani, A., Saragih, C. A., Naibaho, M. K., Widyani, R. S., Nafisa, S., & Aisyah, S. (2024). Peran orangtua dalam membantu anak dengan ADHD. Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara, 1(6), 10011-10016. https://jicnusantara.com/index.php/jicn/article/view/1884
Martin, J. (2024). Why are females less likely to be diagnosed with ADHD in childhood than males? The Lancet Psychiatry, 11(4), 303–310. https://doi.org/10.1016/s2215-0366(24)00010-5
National Institute of Mental Health. (n.d.). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). National Institute of Mental Health (NIMH). Retrieved December 21, 2025, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd
Nurputeri, R. A., Djoehaeni, H., & Romadona, N. F. (2024). Analisis peran orang tua dalam mendampingi anak usia dini dengan gejala ADHD. Aulad Journal on Early Childhood, 7(3). https://doi.org/10.31004/aulad.v7i3.772
Stern, A., Agnew-Blais, J., Danese, A., Fisher, H. L., Jaffee, S. R., Matthews, T., Polanczyk, G. V., & Arseneault, L. (2018). Associations between abuse/neglect and ADHD from childhood to young adulthood: A prospective nationally-representative twin study. Child Abuse & Neglect, 81, 274–285. https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2018.04.025
Teixeira, M. C. T. V., De Freitas Marino, R. L., & Carreiro, L. R. R. (2015). Associations between inadequate parenting practices and behavioral problems in children and adolescents with Attention Deficit Hyperactivity Disorder. The Scientific World JOURNAL, 2015(1), 683062. https://doi.org/10.1155/2015/683062
World Health Organization. (2019). Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). In who.int (WHO-EM/MNH/214/E). World Health Organization regional office for the Eastern Mediterranean. Retrieved December 20, 2025, from https://www.emro.who.int/mnh



