• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Banjir Informasi, Krisis Nalar? Urgensi Berpikir Logis dan Kritis di Dunia Digital

Editor Redaksi
25 Desember 2025
in Kolom Opini

Oleh: Gravita Ayyomi Salsabila
Mata Kuliah: Logic and Critical Thinking
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.

JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital telah membawa manusia pada situasi banjir informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap hari, individu dihadapkan pada arus berita, opini, dan data dari berbagai platform digital yang tidak selalu dapat diverifikasi kebenarannya. Kondisi ini menuntut kecakapan berpikir yang tidak sekadar cepat, tetapi juga kritis dan rasional. Sihotang menegaskan bahwa berpikir kritis merupakan kecakapan hidup utama di era digital karena manusia harus mampu memilah informasi secara sadar dan bertanggung jawab (Sihotang, 2019). Tanpa kemampuan ini, informasi justru berpotensi menjadi sumber kekacauan nalar, bukan pengetahuan.

Banjir informasi tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi juga kualitas pesan yang beredar di ruang digital. Informasi yang bersifat manipulatif, provokatif, dan emosional sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan informasi berbasis fakta. Dalam konteks ini, individu tidak lagi sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan juga penyebar informasi. Sihotang (2019) menekankan bahwa lemahnya berpikir kritis dapat membuat seseorang mudah terjebak pada hoaks dan bias kognitif. Oleh karena itu, kemampuan menilai validitas dan relevansi informasi menjadi semakin mendesak.

Masalah ini menjadi isu aktual karena berdampak langsung pada kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat. Krisis nalar terlihat dari mudahnya masyarakat terpolarisasi oleh informasi yang belum tentu benar. Media digital yang seharusnya memperluas wawasan justru dapat mempersempit cara berpikir jika tidak disertai kemampuan reflektif. Sihotang (2019) menyebutkan bahwa berpikir kritis membantu individu mengambil jarak dari informasi dan menilai maknanya secara rasional. Dengan demikian, urgensi berpikir logis dan kritis tidak dapat dipisahkan dari tantangan dunia digital saat ini.

Apa yang dimaksud dengan krisis nalar di tengah banjir informasi adalah melemahnya kemampuan individu untuk berpikir logis dan sistematis dalam menilai realitas. Krisis ini terjadi ketika informasi diterima begitu saja tanpa proses analisis dan verifikasi. Menurut Rojabi, logika merupakan alat berpikir yang membantu manusia memahami hubungan sebab-akibat secara rasional (Rojabi, 2025). Tanpa logika, manusia mudah terjebak pada kesimpulan yang keliru. Oleh karena itu, berpikir logis menjadi fondasi utama dalam menghadapi kompleksitas informasi digital.

Siapa yang paling terdampak oleh kondisi ini adalah masyarakat luas, terutama generasi muda yang tumbuh bersama media digital. Mereka hidup di ruang di mana batas antara fakta, opini, dan manipulasi sering kali kabur. Rojabi (2025) melalui gagasan Madilog menekankan pentingnya kesadaran material dan rasional dalam memahami realitas sosial. Tanpa kesadaran tersebut, individu mudah dikendalikan oleh narasi yang tidak ilmiah. Maka, berpikir kritis menjadi tanggung jawab kolektif, bukan hanya persoalan individu.

Di mana dan kapan krisis nalar ini terjadi dapat dilihat dalam ruang digital yang aktif sepanjang waktu. Media sosial, platform berita daring, dan aplikasi pesan instan menjadi arena utama penyebaran informasi. Mengapa hal ini terjadi karena informasi sering disajikan secara instan dan emosional, bukan argumentatif. Rojabi (2025) menegaskan bahwa pendekatan dialektis dan logis diperlukan untuk membongkar kontradiksi dalam informasi. Bagaimana cara mengatasinya adalah dengan membiasakan analisis rasional, verifikasi sumber, dan refleksi kritis sebelum menerima atau menyebarkan informasi.

Banjir informasi di dunia digital telah menciptakan tantangan serius berupa krisis nalar yang mengancam kualitas berpikir masyarakat. Tanpa kemampuan berpikir logis dan kritis, informasi justru menjadi alat manipulasi, bukan pencerahan. Rojabi (2025) menekankan bahwa logika dan rasionalitas adalah kunci untuk memahami realitas secara objektif. Oleh karena itu, penguatan nalar kritis harus menjadi prioritas dalam menghadapi era digital. Pada akhirnya, berpikir kritis bukan sekadar keterampilan intelektual, melainkan sikap hidup untuk menjaga kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi.

Referensi
Rojabi, M. A. (2025). Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Afdan Rojabi Publisher.
Sihotang, K. (2019). Berpikir kritis: Kecakapan hidup di era digital. PT Kanisius.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.