• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Scroll, Bandingkan, Lalu Merasa Kurang: Cerita Kita dan Media Sosial

Editor Redaksi
24 Desember 2025
in Artikel

Oleh: Nursheena Fajar Marta
[email protected]
Mahasiswa Psikologi Universitas Udayana

JurnalPost.com – Dewasa awal, atau masa antara usia 18 hingga 25 tahun, sering disebut sebagai periode pencarian identitas. Di fase ini, banyak orang mulai bertanya: aku mau jadi apa, sudah sejauh mana aku melangkah, dan apakah aku cukup? Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya wajar. Namun di tengah proses pencarian tersebut, media sosial hadir sebagai ruang perbandingan yang nyaris tak pernah berhenti. Kita scroll pelan-pelan, lalu tanpa sadar mulai mengukur hidup sendiri dari potongan hidup orang lain.

Di layar ponsel, kehidupan orang lain tampak selalu lebih sempurna. Foto liburan, pencapaian akademik, karier yang terlihat mulus, tubuh ideal, hingga hubungan yang tampak harmonis semuanya dikurasi rapi seperti highlight reel. Padahal, yang kita lihat hanyalah cuplikan terbaik, bukan keseluruhan cerita. Fenomena inilah yang kemudian mendorong proses psikologis yang dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial.

Apa Itu Social Comparison?

Social comparison adalah kecenderungan manusia untuk membandingkan diri dengan orang lain dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari penampilan, pencapaian, relasi, hingga kebahagiaan. Proses ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama, manusia menggunakan perbandingan sosial untuk memahami posisi dirinya di lingkungan. Namun, dalam konteks media sosial, perbandingan ini menjadi jauh lebih intens dan konstan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin besar kemungkinan mereka melakukan perbandingan sosial yang bersifat negatif. Perbandingan semacam ini sering dikaitkan dengan penurunan rasa percaya diri (self-esteem), terutama pada kelompok dewasa awal yang masih berada dalam tahap pembentukan identitas. Ketika standar pembandingnya adalah kehidupan orang lain yang sudah difilter dan dipoles, rasa “kurang” pun mudah muncul.

Bagaimana Media Sosial Memicu Perbandingan Sosial?

Platform seperti Instagram dan TikTok memang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Algoritma akan menampilkan konten yang menarik secara visual, memiliki banyak interaksi, atau sesuai dengan minat kita. Masalahnya, konten yang dinilai menarik ini sering kali menampilkan versi ideal dari kehidupan seseorang. Saat kita melihat foto dengan pose sempurna, liburan mewah, atau pencapaian yang tampak datang tanpa hambatan, otak kita secara otomatis membandingkan “apa yang mereka miliki” dengan “apa yang aku punya sekarang”. Perbandingan ini sering kali tidak adil, karena kita membandingkan kehidupan penuh milik orang lain dengan potongan terbaik milik mereka. Sebuah studi di Kota Kupang menemukan bahwa pada dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial, semakin tinggi intensitas perbandingan sosial yang dilakukan, semakin rendah tingkat self-esteem yang dimiliki. Intinya, perbandingan sosial yang bersifat negatif dapat secara nyata menggerus rasa percaya diri.

 

Apa Dampaknya bagi Kesehatan Mental?

Perbandingan sosial bukan sekadar pikiran lewat. Dampaknya bisa cukup serius. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan antara social comparison dengan penurunan harga diri, kecemasan sosial, ketidakpuasan terhadap tubuh, hingga kecenderungan depresi ringan. Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat membuat seseorang sulit merasa puas dengan pencapaiannya sendiri.

Memang, tidak semua perbandingan sosial bersifat merugikan. Dalam beberapa kasus, melihat keberhasilan orang lain bisa menjadi sumber motivasi. Namun, di media sosial, paparan visual yang ideal dan berlangsung terus-menerus membuat banyak dewasa awal lebih sering mengalami perbandingan yang melelahkan secara emosional. Alih-alih termotivasi, yang muncul justru rasa tertinggal dan tidak cukup baik.

 

Tanda-Tanda Terjebak dalam Social Comparison

Ada beberapa tanda yang bisa dikenali ketika perbandingan sosial mulai memengaruhi keseharian kita:

  • Sering merasa iri atau tidak nyaman setelah melihat unggahan orang lain
  • Membandingkan jumlah like, komentar, atau pengikut
  • Merasa kurang berhasil, padahal pencapaian diri sebenarnya signifikan
  • Terus menilai diri sendiri berdasarkan standar ideal yang tidak realistis

Jika kamu pernah merasakan hal-hal tersebut, kamu tidak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama, hanya saja jarang dibicarakan secara terbuka.

 

Strategi Mengelola Social Comparison secara Lebih Sehat

Agar tidak terus terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba. Mulai dari mengatur ulang (curate) linimasa dengan berhenti mengikuti akun yang membuatmu merasa buruk tentang diri sendiri. Membatasi waktu penggunaan media sosial juga penting, agar kita punya ruang untuk hidup di dunia nyata tanpa terus membandingkan diri. Selain itu, mengalihkan fokus pada progres pribadi sekecil apa pun bisa membantu membangun kembali rasa percaya diri. Media sosial sebaiknya digunakan sebagai sumber inspirasi, bukan sebagai tolok ukur harga diri.

Media sosial pada dasarnya bukan musuh. Ia hanyalah alat. Namun ketika kita terlalu sering menggunakannya untuk membandingkan diri dengan gambaran hidup orang lain yang tampak lebih baik, kita berisiko kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Dewasa awal adalah fase penting untuk mengenal dan menerima diri apa adanya. Menjaga kesehatan psikologis di era digital bukan sekadar tren, melainkan investasi jangka panjang.

Dengan menggunakan media sosial secara lebih sadar dan memahami mekanisme perbandingan sosial, kita tetap bisa terhubung dengan orang lain tanpa harus terus-menerus merasa kurang. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang terlihat paling berhasil di layar, melainkan tentang bagaimana kita berdamai dengan perjalanan kita sendiri.

Daftar Pustaka
Darmawan, N. O. D., & Agustina, A. (2022). Peran Perbandingan Sosial terhadap Ketidakpuasan Tubuh pada Perempuan Pengguna Instagram. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 6(2), 536-544.

Ndueng, Y., Pareira, M. I. R., & Makleat, N. (2025). Pengaruh Media Sosial Terhadap Pembentukan Identitas Diri Remaja kelurahan Kelapa Lima RT 36/RW16 Kecamatan Kelapa Lima Kota Kupang. Education For All, 5(2), 61-69.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.