
Penulis: Ni Made Ardhani Anggita Saraswati
JurnalPost.com – Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, manusia dituntut untuk terus beradaptasi terhadap perubahan skala global yang terjadi dengan pesat. Adaptasi ini dapat dilakukan dengan senantiasa memperkaya kemampuan dan skill yang mereka miliki. Maka dari itu, manusia harus menjadi lifelong learners agar bisa bertahan hidup di tengah era ini.
Pada era digital ini, orang-orang memiliki akses tak terbatas pada informasi dan ilmu yang terdapat di internet. Seorang ‘pelajar’ atau learner merujuk dalam artian yang luas dan mencakup orang-orang yang belajar dari internet secara umum, tidak terbatas pada usia maupun kaitan dengan institusi pendidikan formal. Setiap orang bisa memanfaatkan internet untuk belajar, tidak terbatas pada usia, pekerjaan, dan lain-lain. Hal ini tentu memberikan perubahan besar terhadap proses dan kesempatan belajar. Proses belajar tidak lagi terbatas pada guru yang menjelaskan kepada murid di kelas, tetapi berkembang menjadi berbagai macam jenis. Misalnya, belajar melalui kursus online, membaca e-book, menerapkan tutorial dari video, melatih kemampuan bahasa dibantu dengan aplikasi, dan lain-lain.
Namun, terdapat banyak tantangan ketika seseorang ingin belajar melalui internet. Ia harus mengetahui apa hal yang menarik dan diminati oleh dirinya, ia juga harus menentukan apa tujuan belajarnya sendiri. Dengan banyaknya pilihan yang tersedia di internet, seseorang dapat merasakan kebingungan dan kewalahan ketika ingin menentukan apa yang ingin dipelajari dan sumber belajar seperti apa yang sesuai serta efektif bagi dirinya. Lalu, ia harus menjaga motivasi dan belajar dengan konsisten serta disiplin. Selain itu, ia perlu meminimalisir distraksi yang juga dapat datang dari internet, misalnya media sosial dan hiburan. Ia harus gigih serta mengingatkan diri untuk terus mencoba dan melakukan yang terbaik. Proses belajar mandiri juga dapat membuat orang merasa bosan karena kurangnya konsekuensi apabila ia tidak belajar atau tidak menyelesaikan tugas.
Maka dari itu, agar dapat belajar hingga menguasai suatu skill atau ilmu dari internet, seseorang harus memiliki kemampuan untuk mengatur proses belajarnya secara mandiri atau yang biasa disebut sebagai self-regulated learning (Tsusayya, Umaroh, & Imawati, 2021). Beberapa bentuk dari kemampuan ini misalnya strategi mengatur motivasi, membuat rencana, berpikir kritis, memiliki keyakinan terhadap makna tugas, dan strategi pencarian bantuan (help-seeking strategy) (Anthonysamy, Koo, & Hew, 2020). Kemampuan dan strategi ini tentu berperan penting dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran.
Menurut Zimmerman (dalam Du, Hew, & Liu, 2023) self-regulated learning didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengontrol dan memantau proses belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Selain itu, ada juga pengertian lain dari Pintrich (dalam Xu, et al., 2023) yang menyatakan bahwa SRL merupakan proses aktif dan konstruktif dimana peserta didik menetapkan tujuan dan berusaha untuk memantau, mengatur, serta mengontrol kognisi, motivasi, dan perilaku mereka.
Kemampuan self-regulated learning yang baik menurut Bandura (dalam Harahap & Harahap, 2020) ditandai dengan adanya monitoring terhadap proses kognitif dan afektif dalam melaksanakan pembelajaran. Winne dan Perry (dalam Rahmatan dkk, 2018) juga menyatakan bahwa SRL berpedoman pada metakognisi serta langkah-langkah strategis seperti perencanaan, pengawasan, dan evaluasi kemajuan diri terhadap standar, dan motivasi belajar.
Pintrich (dalam Xu, et al., 2023) juga menjelaskan bahwa terdapat fase dalam penerapan self-regulated learning. Fase-fase tersebut yaitu fase persiapan (preparatory phase), lalu fase kinerja (performance phase), dan fase penilaian (appraisal phase). Pada fase persiapan, pelajar harus memahami minatnya dengan mengetahui apa yang ingin ia pelajari dari internet serta mengapa ia ingin mempelajari hal tersebut. Lalu, pelajar dapat menetapkan tujuan dalam rencana pembelajarannya. Tujuan ini lebih spesifik daripada alasan belajar, tujuan yang dibuat bisa berupa core goal (tujuan utama) atau superficial goal (tujuan sementara). Tujuan juga bisa mencapai mastery goal (menguasai ilmu atau skill) atau performance goal (mendapatkan hasil atau prestasi tertentu). Pelajar juga perlu membuat rencana pembelajaran yang mencakup topik-topik yang ingin dipelajari, sumber belajar, hingga jadwal belajar.
Pada fase kinerja, pelajar menerapkan strategi serta melakukan pemantauan dan kontrol pada proses digital learning mereka. Penerapan strategi meliputi melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam strategi SRL, misalnya dengan berlatih, menjalankan rencana, berpikir kritis, mencari bantuan, meregulasi effort, dan masih banyak lagi. Pelajar juga melakukan pemantauan dan kontrol terhadap perkembangan dari pembelajaran yang mereka lakukan hingga saat ini. Pelajar dapat merefleksikan seberapa konsisten mereka terhadap jadwal yang telah dibuat, seberapa jauh mereka telah memahami ilmu atau skill yang mereka ingin pelajari, dan lain-lain.
Pada fase appraisal, pelajar merefleksikan seberapa jauh mereka sudah berkembang, apa saja skill, teknik, atau ilmu yang mereka pahami dan aplikasikan, serta mengevaluasi kesalahan dan hal yang masih bisa mereka tingkatkan dalam proses digital learning mereka. Strategi yang diterapkan dalam setiap fase dapat disesuaikan berdasarkan minat, ilmu atau skill yang dipelajari, sumber belajar, serta tujuan digital learning yang dimiliki oleh pelajar tersebut.
REFERENSI:
Anthonysamy, L., Koo, A. C., & Hew, S. H. (2020). Self-regulated learning strategies in higher education: Fostering digital literacy for sustainable lifelong learning. Education and Information Technologies, 25, 2393-2414.
Du, J., Hew, K. F., & Liu, L. (2023). What can online traces tell us about students’ self-regulated learning? A systematic review of online trace data analysis. Computers & Education, 104828.
Harahap, A. C., & Harahap, S. R. (2020). Covid-19: Self Regulated Learning Mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 36-42.
Pintrich, P. R. (1999). The role of motivation in promoting and sustaining self-regulated learning. International Journal of Educational Research, 31(6), 459–470.
Rahmatan, H., Ali S, M., & Hidayati, C. (2018). Hubungan Antara Penggunaan Jurnal Belajar Dengan Self Regulated Learning Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsia Banda ACEH Pada Matakuliah Zoologi Invertebrata. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi.
Tsusayya, T. D., Umaroh, S. K., & Imawati, D. (2023). Motivasi Belajar dan Self Regulated Learning pada Mahasiswa dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh. Jurnal Psikologi Terapan (JPT), 4(1), 1-12.
Xu, Z., Zhao, Y., Liew, J., Zhou, X., & Kogut, A. (2023). Synthesizing research evidence on self-regulated learning and academic achievement in online and blended learning environments: A scoping review. Educational Research Review, 100510.
Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory into Practice, 41(2), 64–70.



