
Oleh: Tauhid Awaludin
Afiliasi: Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Email: [email protected]
JurnalPost.com – Mari kita jujur sejenak tentang memori masa sekolah yang paling melekat di kepala kita. Ingatan itu biasanya bukan tentang heroisme pahlawan, melainkan tentang rasa pegal dan bosan saat berdiri di lapangan upacara setiap hari Senin. Di bawah terik matahari, kita dipaksa mendengarkan pembacaan teks Pancasila yang diulang ratusan kali dari SD hingga kuliah. Kita hafal luar kepala urutan silanya, mulai dari bintang hingga padi dan kapas. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah hafalan di luar kepala itu otomatis turun ke dalam hati dan mewujud menjadi tindakan?
Rasanya sulit bagi generasi muda untuk menjawab “iya” dengan lantang. Kita hidup di era paradoks yang membingungkan. Di sekolah dan kampus, kita dituntut mendapat nilai A untuk mata kuliah Pancasila. Namun begitu membuka berita di ponsel, kita disuguhi tontonan para elit yang justru mendapat “nilai merah” dalam penerapan moral.
Keraguan generasi muda ini terekam jelas dalam data. Centre for Strategic and International Studies atau CSIS pernah merilis survei terkait preferensi pemilih muda. Hasilnya sangat menohok. Mayoritas anak muda tidak lagi peduli pada jargon-jargon ideologis yang abstrak. Sebesar 34,8 % responden pemilih muda justru menempatkan karakter “jujur dan anti-korupsi” sebagai kriteria utama pemimpin yang mereka butuhkan. Data ini adalah sinyal keras bahwa Gen Z sebenarnya sedang mengalami krisis kepercayaan. Kami tidak butuh pemimpin yang jago berorasi tentang Pancasila, tapi kami haus akan pemimpin yang bisa memberi contoh konkret tentang kejujuran.
Situasi ini diperparah dengan fakta yang dirilis oleh Transparency International Indonesia. Indeks Persepsi Korupsi atau IPK Indonesia tercatat mengalami penurunan drastis dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sempat anjlok ke skor 34. Fakta ini seolah menampar wajah pendidikan karakter kita. Bagaimana mungkin kami, generasi muda, terus didesak untuk menghafal butir-butir pengamalan Pancasila, sementara para “guru” bangsa di panggung kekuasaan justru mempertontonkan perilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur tersebut? Jangan salahkan jika akhirnya Pancasila hanya dianggap sebagai mantra seremonial yang kehilangan tuahnya.
Kesalahan fatal dalam pewarisan nilai Pancasila selama ini terletak pada metodenya yang terlalu kaku dan doktriner. Di bangku sekolah, Pancasila seolah dikerdilkan menjadi sekadar kompetensi kognitif. Kita dipaksa mengejar nilai 100 di atas kertas ujian dengan menghafal butir-butir pasal. Padahal, nilai sempurna di rapor PPKN sama sekali bukan jaminan bahwa siswanya memiliki empati. Sering kali terjadi ironi di mana seorang siswa hafal mati Sila Kedua tentang kemanusiaan, namun di jam istirahat ia menjadi pelaku perundungan atau bullying terhadap temannya sendiri. Ini membuktikan bahwa transfer pengetahuan tidak otomatis menjadi transfer perilaku.
Lalu muncul stigma yang menyudutkan. Generasi Z sering dilabeli sebagai generasi yang apatis, egois, dan mulai melupakan jati diri bangsa. Namun tuduhan ini sebenarnya sangat lemah jika kita berani melihat data. Faktanya, generasi muda justru sedang mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dengan cara yang jauh lebih organik dan tulus, meskipun tanpa embel-embel seremonial.
Bukti paling nyata bisa kita lihat dari laporan Charities Aid Foundation atau CAF dalam World Giving Index. Selama enam tahun berturut-turut, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia. Siapa penggerak masif di balik angka ini? Tentu saja ekosistem digital yang dihuni oleh anak muda. Melalui platform urun dana atau crowdfunding seperti Kitabisa, generasi muda rutin menyisihkan uang jajan mereka untuk membantu orang tak dikenal yang sedang sakit atau tertimpa musibah.
Fenomena ini adalah tamparan telak bagi mereka yang meragukan nasionalisme kami. Saat kami berdonasi untuk korban bencana tanpa bertanya apa agamanya atau apa sukunya, itu adalah praktik murni dari Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Saat kami meramaikan tagar untuk menuntut keadilan bagi korban kekerasan seksual yang diabaikan hukum, itu adalah teriakan lantang dari Sila Kelima, Keadilan Sosial.
Hal ini diperkuat oleh temuan Indonesia Gen Z Report dari IDN Research Institute. Data menunjukkan bahwa Gen Z memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan kesetaraan. Kami mungkin tidak hafal urutan kata per kata dalam pembukaan UUD 1945, tetapi hati kami mendidih ketika melihat ketidakadilan di depan mata. Bagi kami, Pancasila itu adalah kata kerja, bukan kata benda. Ia harus “dilakukan”, bukan sekadar “diupacarakan”.
Sudah saatnya kita mengakhiri kesalahpahaman antargenerasi ini. Menuduh anak muda luntur nasionalismenya hanya karena kami berbeda cara mengekspresikan cinta tanah air adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kami sama sekali tidak membenci Pancasila. Justru sebaliknya, kami sangat merindukan kehadiran nilai-nilainya dalam wujud yang paling murni, yaitu keteladanan.
Pendidikan Pancasila di masa depan harus segera bertransformasi. Jangan lagi jejali kami dengan hafalan teks yang kering dan membosankan. Ajaklah kami berdiskusi tentang masalah nyata yang ada di depan mata. Bicaralah tentang bahaya korupsi, tentang etika di media sosial, atau tentang toleransi dalam pergaulan, lalu bedah itu semua dengan pisau analisis Pancasila. Jadikan ideologi ini “napak bumi” dan relevan dengan keresahan kami sehari-hari.
Sebagai penutup, izinkan kami menitipkan pesan kepada para pemimpin dan orang tua. Berhentilah menceramahi kami dengan retorika yang melangit. Mulailah turun ke bawah dan berikan contoh nyata. Jika kalian jujur, kami akan hormat. Jika kalian adil, kami akan taat. Pancasila tidak akan tegak hanya dengan pidato berapi-api di podium, tetapi ia akan abadi melalui tindakan sunyi yang konsisten. Kami generasi muda siap melanjutkan estafet bangsa ini, asal kalian bersedia menjadi teladan yang layak kami tiru.
REFERENSI
Centre for Strategic and International Studies. (2023, March 14). Rilis survei pemilih muda dan pemilu 2024: Dinamika dan preferensi sosial politik pasca pandemi. CSIS Indonesia. https://csis.or.id/publication/rilis-survei-pemilih-muda-dan-pemilu-2024-dinamika-dan-preferensi-sosial-politik-pasca-pandemi/
Charities Aid Foundation. (2023). World giving index 2023. CAF Online. https://www.cafonline.org/about-us/research/caf-world-giving-index
IDN Research Institute. (2024). Indonesia Gen Z report 2024. IDN Media. https://www.idn.media/insight/indonesia-gen-z-report-2024
Transparency International Indonesia. (2023, January 31). Indeks persepsi korupsi Indonesia 2022 mengalami penurunan terburuk sepanjang sejarah reformasi. TI Indonesia. https://ti.or.id/indeks-persepsi-korupsi-indonesia-2022-mengalami-penurunan-terburuk-sepanjang-sejarah-reformasi/



