• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Menyepelekan Golden Age Tanpa Kehadiran Penuh Orang Tua Berisiko Permanen!!!

Editor Redaksi
18 Desember 2025
in Artikel
Golden Age
Sumber foto : https://www.freepik.com/free-photo/group-kids-friend-laughing-together_2523588.htm#fromView=image_search_similar&page=1&position=0&uuid=05e494f5-1a24-4546-9714-3928e40de1b0&query=anak+anak

Oleh : Jesslyn Valencia Rahardjo
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

JuranLPost.com – Periode Emas (Golden Age) fase 0–6 tahun dan mengaitkannya dengan sensitive period di mana anak sangat sensitif terhadap rangsangan lingkungan (Untung et al, 2023). Gagasan ini selaras dengan konsep Periode Sensitif yang dikemukakan oleh Maria Montessori, di mana anak memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap informasi dan keterampilan dari lingkungan secara alami. Ironisnya, di tengah kesadaran akan pentingnya periode ini, pemahaman orang tua di tingkat akar rumput justru masih pada fase menyepelekan. Sikap abai ini, yang terbagi dalam dua aspek stimulasi interaksi dan asupan nutrisi berpotensi fatal dan merusak permanen fondasi perkembangan anak.

Dua Sisi Koin yang Diabaikan: Interaksi dan Nutrisi

Fokus utama Golden Age adalah stimulasi otak dan kehadiran penuh. Namun, masalah mendasar lain yang sering terabaikan dan saling berkaitan adalah aspek asupan nutrisi. Realitas di lapangan, berdasarkan pengamatan praktisi pendidikan anak usia dini (PAUD), menguak bahwa banyak orang tua menyepelekan kedua hal esensial ini secara bersamaan.

Di lingkungan Taman Kanak-Kanak (TK), terjadi kontras mencolok antara kebutuhan perkembangan anak dan dukungan yang diberikan. Praktisi menemukan banyak anak yang dibawakan bekal yang didominasi oleh makanan ringan kemasan (ciki), minuman manis tinggi gula, atau permen. Bahkan, ada kasus di mana anak tidak dibawakan bekal sama sekali dan harus menunggu sisa makanan temannya. Pola makan yang buruk ini secara langsung mengganggu kemampuan fokus dan energi mereka untuk menerima stimulasi belajar di kelas, membuat upaya stimulasi yang dilakukan pendidik menjadi sia-sia. Hal ini dikuatkan oleh penelitian yang menyebutkan bahwa “kualitas nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan dan masa preschool secara langsung memengaruhi mielinasi otak dan pembentukan sinapsis, yang mendasari fungsi kognitif”

Kehadiran Penuh: Syarat Mutlak Perkembangan Otak

Bukan sekadar faktor nutrisi, pakar ilmu perkembangan anak di Harvard University’s Center on the Developing Child secara tegas menyebutkan bahwa otak anak membangun koneksi saraf baru (sinapsis) dengan kecepatan hingga satu juta per detik pada tahun-tahun awal. Kecepatan pembentukan sinapsis ini sangat bergantung pada interaksi “serve and return”respons aktif dan konsisten dari orang dewasa. Pada tahun-tahun pertama kehidupan, lebih dari satu juta koneksi saraf baru terbentuk setiap detik. Proses pembentukan koneksi ini sangat dipengaruhi oleh kualitas stimulasi dan pengalaman awal yang diterima anak, yang selanjutnya berperan penting dalam perkembangan struktur dan fungsi otak (Mualem et al, 2024).

Kehadiran penuh orang tua bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak yang menentukan perkembangan sirkuit otak anak. Interaksi ini secara konkret membangun fondasi untuk fungsi eksekutif, seperti kemampuan fokus, memori kerja, dan pengendalian diri, yang merupakan prediktor kuat kesuksesan di masa depan. Jika stimulasi ini minim atau tidak konsisten, jendela pembangunan sinapsis akan tertutup tanpa teroptimalkan, menimbulkan kerugian perkembangan yang tidak bisa dikembalikan. Sebagai penekanan menegaskan bahwa pengasuhan dengan stimulasi otak anak. Menyatakan anak usia dini adalah masa emas dengan perkembangan otak mencapai 80%. Lebih lanjut, John Medina (2020)menjelaskan bahwa stimulasi lingkungan dan interaksi orang tua (termasuk responsif) secara langsung membentuk otak bayi dan anak.

Bukti Nyata Masalah Perilaku Akibat Absennya Afeksi

Absennya kehadiran penuh orang tua terbukti berimplikasi langsung pada kesulitan emosional dan sosial anak di lingkungan sekolah. Pengalaman lapangan menunjukkan korelasi kuat antara minimnya interaksi di rumah dengan perilaku bermasalah di TK. Praktisi sering menemukan kasus perilaku bermasalah seperti ledakan emosi yang sulit dikendalikan, kesulitan berbagi, hingga bersikap kasar kepada temannya. Menurut , stimulasi lingkungan dan interaksi orang tua (termasuk responsif) secara langsung membentuk otak bayi dan anak.

Saat saya melakukan praktik di Taman Kanak-Kanak, saya menemukan beberapa anak yang menunjukkan perilaku bermasalah signifikan. Salah satunya, seorang anak yang jarang bertemu dengan ibunya karena kesibukan, mengalami kesulitan luar biasa dalam membangun regulasi emosi di lingkungan sosialnya. Dalam kasus ini, kehadiran orang tua sangat vital, bukan hanya untuk memberikan afeksi, tetapi juga mengajari anak cara bersikap baik dan menanamkan nilai-nilai sosial pertama. Minimnya pendampingan berkualitas menjadi bukti nyata bagaimana menyepelekan peran di masa Golden Age memicu kerentanan emosional anak. Keterkaitan ini juga ditegaskan oleh studi yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pola asuh berdampak langsung pada kemampuan anak dalam membentuk regulasi emosi, rasa percaya diri, dan kesejahteraan psikologis

Peringatan Keras: Fatalitas Jangka Panjang

Mengabaikan Golden Age secara ganda baik nutrisi buruk maupun minimnya interaksi dapat memicu kondisi berbahaya yang disebut “Toxic Stress“. Stres toksik berkelanjutan yang dipicu oleh pengabaian dapat mengganggu arsitektur otak secara fundamental, merusak area yang bertanggung jawab atas regulasi emosi dan pembelajaran. Anak tidak dapat “mengejar” perkembangan otak yang hilang di masa emas dengan biaya les mahal di kemudian hari.

Menurut Harris (2018), toxic stress/ACEs memengaruhi otak dan tubuh sepanjang hidup serta memengaruhi mental jangka panjang. Konsekuensi jangka panjang ini juga meliputi fungsi kognitif. Studi menegaskan bahwa menegaskan bahwa rendahnya stimulasi kognitif pada awal kehidupan dapat membatasi perkembangan neural dan berkonsekuensi jangka panjang pada kognisi; penulis membahas bukti bahwa beberapa kerugian sulit dipulihkan sepenuhnya (Rakesh et al, 2024).

Periode ini adalah waktu investasi terbaik yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Sikap menyepelekan peran orang tua sama dengan merampas hak anak untuk mencapai potensi terbaiknya. Seperti yang ditekankan oleh Kolk (2015) paparan adversity/toxic stress pada masa awal  mengubah perkembangan otak dan tubuh, dan bahwa intervensi yang terlambat seringkali tidak sepenuhnya mengembalikan kondisi sebelum paparan.

Menegaskan dampak permanen, penelitian dalam psikologi perkembangan menemukan bahwa pengalaman pengasuhan (mis. pelecehan, pengabaian, hubungan jarak-emotif) membentuk “jejak” biologis yang memengaruhi resiliensi, pengasuhan berkualitas/keamanan relasional muncul sebagai mekanisme penting untuk proteksi, tidak sekadar status ekonomi (Nakazawa, 2016) Oleh karena itu, kehadiran penuh dan penyediaan nutrisi berkualitas adalah tanggung jawab mutlak yang menentukan kualitas generasi mendatang. Fatal jika disepelekan, sebab dampaknya bersifat permanen.

Daftar pustaka

Harris, N. B. (2018). The Deepest Well: Healing the Long-Term Effects of Childhood Adversity.

John Medina. (2020). Brain Rules for Baby (Updated and Expanded).

Kolk, B. Van Der. (2015). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma .

Mualem, R., Morales-Quezada, L., Farraj, R. H., Shance, S., Bernshtein, D. H., Cohen, S., Mualem, L., Salem, N., Yehuda, R. R., Zbedat, Y., Waksman, I., & Biswas, S. (2024). Econeurobiology and brain development in children: key factors affecting development, behavioral outcomes, and school interventions. In Frontiers in Public Health (Vol. 12). Frontiers Media SA. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1376075

Nakazawa, D. J. (2016). Childhood Disrupted: How Your Biography Becomes Your Biology, and How You Can Heal.

Ningrum, R. G., & Wulandari, H. (2025). Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Emosional Anak Usia Dini. 6(2), 544–554. https://doi.org/10.37985/murhum.v6i2.1572

Rahmawati, N. O. I., Zuhroh, D. F., & Widiyawati, W. (2023). Hubungan Asupan Makanan Dengan Status Gizi Anak Prasekolah Di TK Dharma Wanita Desa Sembayat. Indonesian Journal of Professional Nursing, 4(1), 37. https://doi.org/10.30587/ijpn.v4i1.5747

Rakesh, D., McLaughlin, K. A., Sheridan, M., Humphreys, K. L., & Rosen, M. L. (2024). Environmental contributions to cognitive development: The role of cognitive stimulation. In Developmental Review (Vol. 73). Elsevier Inc. https://doi.org/10.1016/j.dr.2024.101135

Ulfah, M. (2023). NEUROPARENTING Model Stimulasi Perkembangan Otak Anak.

Untung, S. H., Pramono, I. A., Khasanah, L., Awwaluddin, A., Kholis, N., Muddin, M. I., Asnawi, A. R., & Maulana, A. R. M. (2023). The Gold Age of Childhood: Maximizing Education Efforts for Optimal Development (pp. 261–269). https://doi.org/10.2991/978-2-38476-052-7_30

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.