• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Perjuangan Aktivis untuk mencari keadilan dalam Novel Laut bercerita

Editor Redaksi
17 Desember 2025
in Artikel

JurnalPost.com – Novel Laut Bercerita adalah novel karya Leila S. Chudori. Novel ini diterbitkan pada tahun 2017 setelah penulis melakukan riset sejak 2008 ketika Tempo menerbitkan majalah khusus Soeharto. Berlatar tahun 90-an, saat dimana sedang marak pemberontakan mahasiswa. Karya sastra yang memotret luka sejarah pada masa Orde Baru melalui kisah aktivis-aktivis muda yang hilang secara paksa. Leila menggambarkan betapa panjang dan perihnya penantian orang tua, adiknya (Asmara), dan sahabat yang tak pernah mendapatkan kepastian tentang nasib orang yang mereka sayangi.

Kesedihan itu mengambarkan lembut namun tajam, membuat pembaca merasakan hampa dan ketidakadilan yang ditanggung para keluarga korban penghilangan. sehingga membentuk makna utuh tentang kehilangan, perjuangan, dan keadilan. Novel ini bercerita tentang Biru laut tokoh utama dalam aktivis ia adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Fakultas Sastra Program studi Sastra Inggris sekaligus aktivis menyerukan suara mahasiswa dan masyarakat yang sudah mulai gerah dengan rezim Sang Jendral yang memerintah Indonesia. Selain itu juga laut suka membaca buku sastra klasik dan buku-buku yang berhaluan pemikiran kiri atau buku terlarang pada massa orde baru ia sering suka membaca buku seperti punya Pramodya Anta Toer, Tan Malaka, dan Karl Marx.

Laut bergabung dengan Gerakan mahasiswa winatra dan wirasena yang beranggota Kinan,Anjani,Alex,Daniel,Naratama,Gusti,Sunu, Julius dan para penyair. Lalu mereka mencari lokasi persembunyian yang dilakukan diberbagai tempat. Tempat pertama diSayengan,Blangguan, dan Ciputat untuk melakukan diskusi berbagai pemikiran alternatife guna melawan doktrin pemerintah yang sudah ada dari awal massa Soeharto menjabat. Di Sayenggan Lokasi paling strategis karena jauh dari kampus dan jauh dari tengahnya keramaian kota sehingga aman buat mereka untuk melakukan diskusi tuntunan soal dwifungsi ABRI dan lima Undang Undang politik. Para mahasiswa dan juga aktivis melakukkan persiapan pendampingan petani di beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kinan menyimpulkan “bahwa kematian anak anak pasti dari problem negara berkembang” karena sejak usia dini ia merasakan problem besar dalam kehidupan adalah situasi sosial ekonomi.

Kelompok mahasiswa yang gemar membuat fotokopi buku terlarang seperti karya Pramodya Anta Toer yang berjudul (Anak semua bangsa dan Bumi manusia), buku karya Ernesto Laclau, Ralph Miliband dan sastra klasik untuk bahan diskusi. Di balik itu pemerintah selalu mempunyai ide licik hingga membuat buku porno yang biasa realisasikan oleh kalangan anak SMA,remaja bahkan sampai orang tua. Agar digunakan sebagai alat pengalihan isu kontrol sosial sehingga membuat Masyarakat focus pada konsumsi hiburan dari pada kritik politik.

Di Blaggunan disinilah awal mula laut bersama beberapa rekan aktivis melaksankan aksi atau gerakan untuk membela rakyat yang telah diambil haknya oleh pemerintah, salah satu “Aksi tanam jagung Blaggunan”. Hak yang diambil adalah berupa kebun yang dijadikan tempat untuk latihan perang para Tentara, sebelumnya ia dan rekannya pernah melaksanakan diskusi kwajung tetapi gagal disitulah mereka mengetahui arti pengkhianatan. Ditengah-tengah tanam jagung laut bersama teman-temanya di intai oleh beberapa intel karena mengetahui kegiatan aksi mereka untuk membantu para petani. intel tersebut sudah mengikuti sejak awal laut dan rekannya turun dari bus. Beberapa anggota mencurigai adanya intel yang mengikuti, mereka mencurigai Naratama karena ia selalu menentang setiap diskusi bahkan tidak pernah kelihatan saat ada kegiatan.

Sesudah melancarkan aksi tanam jagung di Blaggunan, Laut beserta rekan-rekannya harus bergegas pergi ke terminal untuk pulang. Mereka berpisah-pisah bus saat melakukan perjalanan pulang karena terdapat sekelompok orang mecurigakan yang mengintai mereka sejak di Blaggunan, setengah perjalanan bus yang dinaiki laut di hadang oleh beberapa intel tapi mereka selamat. Singkat cerita pada tanggal 13 Maret 1998 Alex sedang membicarakan soal rencana Referendum Timor Timur dengan beberapa kawan. Laut sudah mengingatkan alex untuk memindahkan pertemuan itu dari jalan Diponegoro ke tempat lain yang lebih aman.

Tapi sudah terlanjur dan kawan lainya menyanggupi pertemuan itu setelah mendiskusikan selesai sekitar jam 4 sore. Alex merasa lapar keluar membeli gorengan dan kopi ia merasa diikuti oleh sebuah mobil kijang abu-abu, Alex sempet lari keruangan IGD teteapi apa daya si badan kekar itu sigap dalam hal meenaggani hal itu. Setelah Alex, ditangkap ternyata sudah ada Laut dan teman lainnya didalam mobil. Didalam ruang bawah tanah seperti berada di Neraka Laut bersama rekannya disiksa paling keji tanpa memandang rasa manusiawi. meraka diintrograsi satu persatu oleh dua badan yang kekar bernama mata merah. Setiap kali dikasih lontaran pertanyaan jika tidak menjawab atau jawabannya tidak sesuai apa yang mereka mau maka dari salah satunya dapat siksa dengan mata tertutup kain hitam lalu disiram air es,seterum,pukul, dan tendang.

Sekian lama berbulan-bulan, laut tidak pulang keciputat keluarganya mencari terutma adiknya Asmara ia sangat merasa kehilangan. Ia sampai bergabung dengan Komisi Orang Hilang bersama Asmawi pada tanggal 13 maret hingga tidak ada temuan sama sekali. Pada tangga 23 April 1998 massa soeharto mau turun Alex,Daniel,dan Sunu dilepas tapi Laut , Kinan dan beberapa penyair dihilangkan secara paksa oleh rezim keji.

Novel diatas menceritakan sebuah kondisi social pada tahun 90-98 dimana laut dan temanya melakukan perlawanan untuk mencari keadilan untuk para petani. Disitu ia mengalami kekerasan politik yang menunjukan tindakan represif negara. Sehingga menimbulkan dampak sosial terhadap masyrakat sipil khususnya pada korban melalui penangkapan, penyiksaan, dan penghilangan paksa yang dialami aktivis kondisi ini mengambarkan korban sistem politik otoriter. Dimana para keluarga korban mengalami trauma mendalam akibat tidak ada kejelasaan hukum mengenai nasib orang orang yang mereka cintai situasi ini mencerminkan rusaknya struktur sosial yang seharunya melindungi masyarakat.

Dari uraian yang telah dikemukakan, Laut Bercerita memperlihatkan bagaimana kekuasaan negara, dinamika sosial, dan pengalaman individu saling berkelindan dalam membentuk realitas kelam masa Orde Baru. Dengan menampilkan perspektif aktivis dan keluarga korban, cerita ini memperlihatkan dampak sosial dari represi politik serta bagaimana masyarakat berupaya mempertahankan martabat, harapan, dan ingatan. Karena itu, analisis terhadap novel ini bukan hanya membuka pemahaman mengenai karya sastra, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran bahwa praktik ketidakadilan dapat muncul ketika suara warga diredam. Pada akhirnya, Laut Bercerita relevan sebagai pengingat bahwa kesadaran sosial dan keberanian moral masyarakat merupakan fondasi penting bagi terciptanya ruang demokratis yang lebih manusiawi.

Nama: Dimas Nadhif Argayudha
Status: Mahasiswa
Institusi: UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Gmail: [email protected]
kajian: Novel laut bercerita

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.