
JurnalPost.com – Tahun pertama dalam dunia perkuliahan bisa menjadi momok yang cukup menakutkan bagi sebagian Mahasiswa baru. Hal tersebut terjadi karena adanya beberapa faktor yang melatar belakanginya terutama bagi mahasiswa yang harus merantau jauh dari rumah dan orang tua. Perubahan status yang mulanya “Siswa” menjadi “Mahasiswa” menjadi hal yang menuntut kemandirian lebih besar. Berikut merupakan beberapa tantangan yang sering dihadapi Mahasiswa baru :
1. Homesick
Homesick atau perasaan rindu rumah merupakan salah satu tantangan yang sering dialami bagi sebagian Mahasiswa rantau. Hal ini biasanya timbul karena adanya perasaan tidak nyaman karena jauh dari rumah dan culture shock dengan budaya di tempat baru seperti logat bicara dan norma sosial yang berlaku. Namun, hal tersebut bisa diatasi atau diminimalisir dengan beberapa cara, misalnya dengan mulai mencari teman mengobrol, membuat jadwal video call dengan keluarga, dan mengisi waktu luang dengan hal-hal yang positif. Karena, sejatinya homesick adalah perasaan normal yang kerap kali dialami sebagian perantau.
2. Kemandirian Finansial
Bagi sebagian Mahasiswa baru, kemadirian finansial adalah hal yang sangat sulit diterapkan. Biasanya, saat masih menjadi Siswa setiap hari kelola keuangan masih diatur oleh orang tua. Namun saat sudah menjadi Mahasiswa keungan bulanan seringkali dituntut harus bisa mengatur keuangan sendiri. Hal mudah yang dapat dilakukan agar pengelolaan keuangan bisa terancang dengan baik salah satunya dengan membuat pengelompokan barang yang perlu dan tidak perlu untuk dibeli.
3. Transformasi Akademik
Bangku Sekolah dan bangku Kuliah memiliki perbedaan yang sangat bertolak belakang. Hal ini dapat dilihat terutama dari tanggung jawab personal. Misalnya, mandiri dalam belajar. Karena, dosen seringkali hanya memberi garis besar materi yang kemudian kita diharapkan untuk bisa mencari referensi dari beberapa sumber, seperti artikel ilmiah atau dari buku-buku yang ada di Perpustakaan dan Dosen tidak pernah menegur Mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Padahal, saat di bangku Sekolah dulu, Guru menjelaskan materi secara gamblang dan Siswa seringkali ditegur untuk segera menyelesaikan tugasnya. Di bangku kuliah juga Mahasiswa biasanya akan lebih aktif dan berpikir kritis dalam menghadapi suatu hal, berbeda dengan Sekolah yang Siswa nya sering acuh tak acuh dengan sesuatu.
4. Tekanan Teman Sebaya
Mahasiswa baru seringkali belum memiliki fondasi yang kuat dengan pendiriannya, hal tersebut mengakibatkan fear of missing out atau kerap kali disebut fomo bagi sebagian kalangan. Hal ini, bisa menjadi tekanan Mahasiswa untuk mengikuti gaya hidup teman-temannya agar tidak dibilang ketinggalan zaman. Karena fomo bisa menimbulkan dampak buruk seperti boros, stres, dan kurang bersyukur. Maka, sebaiknya dari diri kita sejak awal menjadi Mahasiswa harus membangun pendirian yang kokoh agar bisa memilih hal yang baik dan tidak baik untuk dilakukan bukan hanya mengikuti gaya teman sebaya yang belum tentu memberi berdampak baik untuk kita.
5. Pengelolaan Kesehatan Mental
Terkadang Mahasiswa selalu cemas atau overthinking dengan masa depan dan kebahagiaan orang tua. Sebenarnya, kecemasan tersebut merupakan dua hal yang bagus apabila diseimbangkan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai Mahasiswa yaitu untuk fokus belajar. Namun, jika rasa cemas ini hanya dipendam justru akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap produktivitas. Oleh karena itu, Mahasiswa perlu untuk belajar bagaimana cara mengkomunikasikan beban pikiran. Hal tersebut bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti berbagi cerita dengan orang terdekat atau hanya dengan cara memberi apresiasi kecil pada diri sendiri setelah melewati hari yang berat dan tugas yang banyak.
Tantangan-tantangan tersebut memang tidak dialami oleh semua Mahasiswa. Namun, hal tersebut wajar saja terjadi karena adanya banyak perbedaan lingkungan dan tuntutan hidup yang berubah drastis. Walaupun wajar terjadi, tapi sebaiknya kita juga bisa mengontrol diri agar tujuan utama dari Pendidikan tidak terkendala dengan tantangan-tantangan tersebut. Dengan tetap fokus pada tujuan dan prioritas serta menjaga keseimbangan pergaulan dan kesehatan mental masa sulit diawal perkuliahan akan menjadi pelajaran yang sangat berharga.
Oleh : Nazwa Yustinia Putri
Universitas Islam Negeri Walisongo – Teknologi Informasi 2025



