• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Ketika Tren Viral ‘Feminine vs Masculine Energy’ Membalik Arah Perjuangan Gender

Editor Redaksi
14 Desember 2025
in Artikel

Penulis : Ega Arin Wijayanti (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta)

JurnalPost.com – Beberapa tahun terakhir ramai konten dan narasi pada media sosial terutama di platform TikTok yang membicarakan dan menciptakan narasi baru tentang feminine energy. Bahkan hashtag ‘#Feminineenergy’ mencapai 1,1 juta postingan di TikTok. Narasi seperti

“Tanda-tanda energi feminin kamu bikin cowo nggak bisa jauh dari kamu.”

“5 cara mengaktifkan feminine energy agar bikin pria tergila-gila.”

“Stop lakukan hal-hal Masculine, kalau kamu mau attract laki-laki provider.”

Sering kali dijumpai di TikTok, banyak TikTokers yang membangun narasi dan mendorong para wanita untuk menerapkan feminine energy dan berhenti menerapkan masculine energy. Terkadang konten-konten ini dibalut dengan kata ’self love’, namun pada kenyataannya narasi ini justru mendorong Perempuan untuk Kembali ke peran gender tradisional dan membatasi ruang gerak perempuan untuk menjadi diri mereka sendiri.

Makna Feminine energy dan Masculine energy Yang Sebenarnya

Dalam Artikel Women’s Health menjelaskan bahwa feminine energy dipahami sebagai sesuatu yang spiritual dan abstrak, berarti tidak ada alat untuk mengukur dan tidak dapat diukur secara ilmiah. Feminine energy merupakan sesuatu yang dapat dirasakan oleh masing-masing individu dalam pengalaman hidupnya sehari-hari. Tidak hanya seputar bersifat lembut, mengalah, atau kembali ke norma gender tradisional, tetapi feminine energy termasuk merasakan kepercayaan diri, empati, dan dapat mengekspresikan diri tanpa terbatasi oleh norma-norma gender. Selain itu, Feminine energy tidak inklusif hanya untuk perempuan, semua orang apapun identitas gendernya bisa merasakan dan mengekspresikannya. Begitu juga  masculine energy, merupakan spiritualitas yang tidak terbatas gender dan norma-norma gender tradisional. Feminine energy dan masculine energy sama-sama bersifat fleksibel dan subjektif, bukan fixed traits yang khusus dimiliki oleh salah satu gender (Geller, 2024).

Namun, kebanyakan konten dan narasi di sosial media menganggap bahwa feminine energy merupakan suatu sifat yang harus dimiliki perempuan agar bisa menjaga hubungan dengan pasangan, atau menarik laki-laki. Dengan bersifat lembut, pasif, mengalah dan menerima, tidak diperbolehkan dominan dalam hubungan, menggunakan suara yang pelan dan halus, memenangkan ego laki-laki, tidak boleh terlalu tegas, bahkan tidak diperbolehkan menjadi wanita independen. Karena wanita yang independen dan tegas akan dianggap memiliki masculine energy, sehingga akan membuat laki-laki bosan. Bahkan penggunaan pakaian juga dikelompokkan dalam feminine energy, seperti wanita yang ingin mengaktifkan feminine energy didorong untuk menggunakan pakaian seperti dress atau rok. Hal-hal seperti tentu saja tidak sesuai dengan konsep awal bahwa feminine dan masculine energy merupakan suatu hal spiritual yang fleksibel dan subjektif, yang mana setiap orang bebas mengekspresikannya tanpa adanya pengelompokan dan hirarki.

Feminine Energy dan Ilusi Pembebasan Gender

Feminisme merupakan gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender dan pembebasan perempuan atas kehidupannya. Gerakan ini memperjuangkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dan kedudukan yang setara, terutama dalam beropini dan menjadi diri mereka sendiri. Gerakan feminisme ini diawali pada akhir abad ke-19, yang berfokus pada hak-hak legal perempuan dan pengakuan hukum bahwa perempuan memiliki hak yang setara sebagai warga negara (Moon, 2025). Jika melihat dari kacamata feminisme, feminine energy merupakan suatu kontrol atas diri perempuan yang baru, atau pengembangan budaya patriarki model baru. Dimana perempuan disini didorong untuk memenuhi ego laki-laki dan bertindak sesuai dengan aturan ‘feminine energy’ agar diterima laki-laki. Inti dari konten media sosial ‘feminine energy’ bukanlah soal self love atau pengembangan diri perempuan, tetapi mendorong perempuan untuk kembali ke peran gender tradisional. Perempuan justru tidak bisa menjadi dirinya sendiri, karena akan dianggap kurang feminin jika tidak sesuai dengan aturan-aturan baru tren feminine energy. Dan perempuan yang tidak sesuai standar feminine energy akan merasa bahwa dirinya salah dan akhirnya merubah dirinya agar sesuai standar yang dinarasikan pada konten sosial media. Dan apabila terjadi hal-hal seperti perselingkuhan atau masalah dalam hubungan berpasangan, perempuan yang akan disalahkan karena tidak menerapkan feminine energy atau dianggap terlalu maskulin dalam hubungan.

Perjuangan gender dilakukan agar perempuan dan laki-laki dapat setara, dan perempuan dapat bebas melakukan hal-hal yang mereka sukai. Feminine energy dan masculine energy mengelompokkan sifat dan tindakan perempuan menjadi dua kelompok, perempuan yang independen dan tegas akan dianggap sebagai perempuan yang menerapkan masculine energy. Dan perempuan yang menerapkan masculine energy akan dianggap salah, dan tidak memenuhi ego laki-laki. Padahal perempuan memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang mereka sukai. karena banyaknya konten media yang menarasikan feminine energy ini, banyak perempuan yang menjadi takut untuk mengekspresikan diri mereka sendiri, dan mulai mengikuti aturan ‘feminine energy’ yang dinarasikan. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan nilai-nilai pembebasan gender, perempuan yang seharusnya bebas mengekspresikan diri mereka justru terkukung dalam satu lingkaran yang sama yang bertujuan untuk menarik laki-laki. Padahal Perempuan di era sekarang dapat lebih bebas karena semakin berkembangnya gerakan feminisme. Tren Feminine energy ini seolah membentuk gaya baru dari budaya patriarki, yang membuat perempuan menjalani kehidupannya dengan berpusat kepada validasi laki-laki. Tren ini mengendalikan perempuan untuk hidup sesuai dengan aturan gender tradisional, namun membalutnya dengan kata ’self love’, padahal sebenarnya kebebasan perempuan untuk mengekspresikan diri lewat feminine energy hanyalah ilusi semata.

Kesimpulan
Tren feminine dan masculine energy ini membalik arah perjuangan gender apabila tindakan yang dilakukan untuk memenuhi standar feminine energy, dan untuk mendapatkan validasi laki-laki. Perempuan boleh bersikap lembut, penuh empati, dan melakukan sifat feminine lainnya asalkan tujuannya bukan berpusat pada laki-laki, namun karena untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Begitupun dengan perempuan yang independen dan tegas, mereka bebas mengekspresikan diri mereka sendiri dan melakukan hal yang mereka sukai, tanpa pengelompokkan perempuan feminin dan maskulin. Apabila perempuan melakukan semua hal sesuai dengan diri mereka dan apa yang mereka sukai, maka perjuangan gender akan terus berjalan, dan budaya patriarki model baru tidak akan terjadi.

Refrensi
Geller, L. (2024). What Is Feminine Energy? Experts Explain The Complex Gender Concept. Women’s Health. https://www.womenshealthmag.com/life/a60979668/what-is-feminine-energy/

Moon, Y. (2025). Feminism : Understanding the Movement and Its Impact. Global Media Journal, 23(73), 1–3. https://doi.org/10.36648/1550-7521.23.73.477

Tags: Feminine energyFeminismeGender
Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.