
Oleh: Sukma Wiantari, Mahasiswa S2 Ilmu Manajemen Universitas Pendidikan Ganesha
JurnalPost.com – Ketika kelapa menghela napas, gema kenaikan harganya merambat dari kebun hingga ke meja konsumsi jajanan khas Bali seperti rengginang (jaje gina) dan jaje uli goreng, memberikan pelajaran penting tentang dinamika manajemen pemasaran di sektor UMKM dan kuliner tradisional. Kenaikan harga bahan baku utama ini menciptakan tantangan baru bagi pelaku usaha mikro untuk mengelola produk, harga, dan distribusi secara efektif agar tetap kompetitif di pasar yang terus berubah. Kelapa bukan hanya komoditas, melainkan elemen kunci dalam value proposition produk jajanan tradisional yang memerlukan strategi harga yang adaptif dan inovasi produk untuk menjaga daya tarik di mata konsumen lokal maupun wisatawan.
Pengaruh lonjakan harga kelapa harus direspons dengan pengelolaan produk yang cermat: produsen rengginang dan jaje uli goreng perlu menyesuaikan kualitas, ukuran porsi, dan kemasan agar tetap sesuai ekspektasi pasar tanpa mengorbankan margin keuntungan secara berlebihan. Strategi harga menjadi inti manajemen pemasaran, di mana penyesuaian harga harus dilakukan secara transparan, sekaligus memanfaatkan segmentasi pasar—membedakan antara konsumen lokal yang sensitif harga dan wisatawan yang lebih mengutamakan keunikan produk. Selain itu, saluran distribusi juga harus optimal, baik melalui pasar tradisional maupun toko oleh-oleh yang mengemas produk dengan nilai tambah estetika, agar produk tetap mudah diakses dan menarik untuk dibeli.

Dari sisi promosi, penting mengkomunikasikan nilai budaya dan keunikan bahan baku kelapa sebagai daya tarik tersendiri produk jajanan khas Bali, memperkuat brand storytelling yang beresonansi dengan kesadaran konsumen akan kelestarian tradisi dan kualitas rasa. Kombinasi manajemen produk, harga, distribusi, dan promosi menjadi formula strategis yang harus terus diadaptasi oleh pelaku UMKM agar dapat bertahan dan berkembang di tengah gejolak pasar, termasuk dalam menghadapi kenaikan komoditas pokok. Dengan memahami resonansi harga kelapa dalam rantai pemasaran ini, para pelaku usaha dapat menerapkan strategi yang tidak hanya menjaga keseimbangan finansial, tetapi juga menjaga keberlanjutan budaya kuliner Bali yang berharga.



