• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Yang Kering Setelah Banjir: Kepercayaan Publik

Editor Redaksi
11 Desember 2025
in Kolom Opini

Oleh: Arum Kusuma Dewi

JurnalPost.com — Air membawa banyak hal saat naik, tetapi banjir Aceh membawa sesuatu yang tak disangka: retaknya keyakinan terhadap negara. Yang hanyut bukan hanya kayu, tetapi harapan akan pengawasan yang bekerja.

Di tepi sungai yang bergemuruh paling kelam itu, Aceh seperti menahan napas panjang. Hujan semalam bukan hujan biasa ia turun dengan intensitas yang menghajar atap-atap rumah, menembus jendela, dan merayap ke tanah yang sudah terlalu jenuh untuk menelan apa pun. Ketika subuh akhirnya membuka langit, aliran air telah menjelma sesuatu yang lain: bukan sungai, bukan banjir, tetapi semacam peringatan alam yang terasa terlalu terlambat dipahami manusia.

Warga berlarian keluar rumah. Sebagian memanggil tetangga, sebagian memanggil nama-nama yang tidak terdengar, dan sebagian hanya bisa berdiri mematung melihat air yang bergerak cepat. Di tengah kepanikan itu, ada sesuatu yang hanyut perlahan, terbawa arus yang kecokelatan. Dari kejauhan, ia tampak seperti batang pohon. Tetapi ketika arus membawanya lebih dekat, ada sesuatu yang menempel di permukaan kayu itu.

Sebuah barcode.
Bukan sekadar stiker biasa melainkan barcode pemerintah, lengkap dengan logo yang masih utuh, seakan baru ditempel kemarin. Untuk beberapa detik, waktu berhenti. Suara arus masih ada, tetapi membuat pikiran menjadi melayang ke tempat yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata sederhana. Sungai membawa sesuatu yang bukan milik alam, bukan milik warga, tetapi milik negara. Milik sebuah sistem yang selama ini kita percaya, meski kenyataan sering kali berkata lain.

Kayu itu terus bergerak, ditelan aliran sungai menuju daerah yang tidak ada seorang pun bisa memastikannya. Namun sesaat setelah hilang, sesuatu yang lain justru muncul: pertanyaan. Dan pertanyaan itu bergerak jauh lebih cepat daripada arus banjir. Kayu berbarcode itu bukan kayu sembarang. Ia bukan hasil tebangan liar yang dimiliki orang tanpa nama. Ia adalah barang yang pernah dicatat dan pernah dimasukkan ke daftar aset. Barcode adalah identitas; ia adalah bukti bahwa kayu itu pernah disentuh tangan negara. Jika ia barang bukti, seharusnya ia disimpan aman. Jika ia aset pemerintah, seharusnya ia terdaftar dan diawasi. Namun saat itu, ia berada di tempat yang tidak seharusnya: hanyut bersama lumpur dan puing-puing kehidupan rakyat kecil.

Banjir Aceh yang datang setiap tahun memang selalu membawa cerita. Tetapi tahun ini, cerita itu berbeda. Ia tidak hanya membawa perabot rumah, perahu patah, atau karung berisi beras yang basah. Ia membawa sebuah tanda tanya besar, tanda tanya yang tidak bisa disapu seperti lumpur di halaman.

Ketika barang berbarcode pemerintah hanyut ke sungai, itu bukan hanya kegagalan. Itu adalah keterlanjuran. Keterlanjuran yang mengungkap lebih banyak daripada jawaban resmi mana pun.

Banjir selalu memaksa manusia melihat apa yang biasa mereka lewatkan. Air keruh yang naik tidak hanya merusak benda, tetapi juga membuka lapisan-lapisan yang selama ini tertutup oleh rutinitas. Ketika sungai mengamuk, ia membawa bersamanya apa pun yang berada di jalurnya yang terlihat maupun yang seharusnya tidak terlihat.

Respons pemerintah tidak datang secepat yang diinginkan publik. Dalam hitungan jam, warga sudah memperbesar tangkapan layar barcode itu. Mereka membagikan foto, membandingkannya, mencoba menebak dari instansi mana kayu itu berasal. Sementara itu, pejabat masih menyiapkan kalimat-kalimat aman dalam rilis pers.

Namun era digital tidak memberi ruang panjang bagi jeda. Ketika jawaban tidak hadir, publik mengisi kekosongan itu dengan dugaan. Dan di negeri ini, sebuah dugaan bisa membesar menjadi ketidakpercayaan hanya dalam satu putaran unggahan.

Aceh memiliki hubungan panjang dengan hutannya. Hutan yang pernah lebat kini banyak yang botak. Sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan berubah menjadi peringatan. Setiap banjir adalah pertanda bahwa ada yang hilang di hulu. Bukan hanya pohon, tetapi juga kebijakan yang pernah dijanjikan, pengawasan yang pernah diklaim, dan keseriusan yang pernah dituliskan dalam dokumen.

Banjir kali ini membawa bukti fisik bahwa pengelolaan hutan dan aset negara tidak hanya bermasalah secara ekologis, tetapi juga administratif.
Ketika hutan rusak, air naik.
Ketika air naik, rumah tenggelam.
Ketika rumah tenggelam, rakyat menderita.
Namun ketika kayu berbarcode hanyut, yang tenggelam adalah kepercayaan.

Fenomena kayu berbarcode bukan hanya tentang aset negara yang hilang. Ia adalah refleksi tentang bagaimana negara memandang dirinya sendiri. Apakah negara menganggap dirinya penjaga hutan? Penegak hukum? Pemilik aset? Atau hanya pihak yang akan bergerak setelah warga ribut dulu?

Banjir Aceh bukan sekadar bencana. Ia adalah pengungkap. Sungai tidak pernah berbohong. Ia membawa apa pun yang berada di jalurnya baik yang disembunyikan, yang diabaikan, yang terlupakan, atau yang sengaja dibiarkan. Sungai menolak menjadi sekutu bagi rahasia. Dan ketika ia mengalir, ia membawa cerita yang lebih jujur daripada laporan yang paling rinci sekalipun.
Negara seharusnya menjaga kepercayaan rakyat seperti menjaga barang terpenting di gudang paling aman. Namun yang terjadi justru sebaliknya: barang yang seharusnya dijaga di gudang aman malah ditemukan di Aceh pada hari paling kacau itu. Kepercayaan pun ikut hanyut.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Comments 1

  1. Aries says:
    11 bulan yang lalu

    Sebelum barcode dikayu itu ditemukan pemerintah bilang kayu² itu roboh karena banjir, orang umum juga tau kali mana ada sih kayu roboh karena banjir tpi potongannya rapi berupa gelondongan² udh kyk sengaja dipotong pakai mesin

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.